BANJARMASIN – Dihiasi rumah-rumah adat Banjar kuno dan sejarah panjang peradaban ulama, kawasan Surgi Mufti di Banjarmasin Utara diliputi masalah klasik sampah dan banjir.
Hal ini terungkap dalam reses masa sidang ke-2 tahun 2025 yang digelar Anggota DPRD Kota Banjarmasin, Zainal Hakim, di Jalan Sungai Jingah RT 16, Surgi Mufti, Kamis (3/7).
Dalam pertemuan itu, Zainal membuka lembar demi lembar keluhan warga. "Surgi Mufti ini wilayah istimewa. Banyak rumah Banjar tua yang masuk cagar budaya. Tapi perlakuannya belum optimal," ucap Hakim.
Menurut politikus PKB ini, kurangnya layanan pengangkutan sampah dan minimnya fasilitas tempat sampah membuat warga terpaksa membuang sampah ke sungai dan kolong rumah.
"Padahal ini daerah wisata pinggir Sungai Martapura," katanya.
Ia menegaskan, pengelolaan sampah harus menjadi perhatian utama Pemko Banjarmasin. Ia mengingatkan bahwa sejak ditutupnya TPA Basirih oleh Kementerian Lingkungan Hidup pada 1 Februari 2025, kota ini dalam kondisi darurat sampah.
"Ini bukan lagi sekadar keluhan, tapi alarm keras. Kita tak bisa berharap kawasan ini menarik wisatawan kalau lingkungannya kurang bersih," ujarnya.
Masalah tidak berhenti di situ. Wilayah cagar budaya ini juga rawan banjir, terutama saat air sungai pasang.
"Banjirnya bisa sampai mata kaki. Ini juga perlu perhatian dan dicarikan solusinya agar tidak mengganggu kenyamanan warga dan peziarah," papar Hakim.
Kawasan ini menyimpan sejarah besar. Di sini terdapat makam Syekh Jamaluddin Al-Banjari atau Datu Surgi Mufti seorang ulama besar yang wafat pada 1929. Ia cicit dari Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, ulama legendaris Tanah Banjar.
Hakim meminta pemko tidak hanya fokus pada pembangunan pusat kota, tapi juga menyentuh kawasan bersejarah seperti Surgi Mufti.
"Kalau kawasan ini ingin dijadikan andalan wisata budaya, harus ada perlakuan khusus. Infrastruktur, pengelolaan lingkungan, hingga fasilitas peziarah. Semua harus dibenahi,” pungkasnya.
Editor : Muhammad Syarafuddin