PARINGIN - Jembatan Besi di Desa Hilir Pasar, Kecamatan Lampihong, Kabupaten Balangan menyimpan jejak sejarah kolonial yang menakjubkan.
Dibangun pada 1929-1933 oleh pemerintah Hindia Belanda, jembatan ini diyakini sebagai yang tertua di Balangan dan masih berdiri kokoh hingga kini.
Yang membuatnya istimewa, konstruksi jembatan ini menggunakan teknologi baja impor dari Prancis yang dikombinasikan dengan beton dan kayu ulin lokal.
Pada 2024, jembatan ini resmi ditetapkan sebagai Cagar Budaya Tingkat Kabupaten oleh Tim Ahli Cagar Budaya Balangan.
Bukti keistimewaan jembatan terukir jelas pada batang bajanya dengan tulisan "S.N. KNUTANGE P.N. XII 24". Tulisan tersebut merujuk pada Société Nouvelle des Aciéries de Knutange, pabrik baja terkemuka asal Lorraine, Prancis. Angka XII 24 menunjukkan waktu produksi baja pada Desember 1924.
Baca Juga: Empat Rumah Terbakar Habis di HSU Hanya Gara-gara Hal Sepele Ini
Menurut arsip kolonial, pembangunan jembatan ini ditangani Dinas Burgerlijke Openbare Werken (B.O.W.), setara Dinas PUPR saat ini.
Anggaran awal sebesar f 75.000 membengkak menjadi f 83.700 karena kondisi tanah tidak stabil dan desain harus direvisi.
"Jembatan ini mencerminkan narasi modernisasi yang dibawa Belanda. Mereka tidak hanya membangun infrastruktur untuk kepentingan ekonomi, tapi juga sebagai alat legitimasi kekuasaan dan pencitraan keberhasilan di mata publik Eropa," kata sejarawan Universitas Lambung Mangkurat, Mansyur, kepada Radar Banjarmasin, Jumat (27/6).
Mansyur menyoroti minimnya kajian mendalam terhadap proses pembangunan jembatan, mulai dari pengangkutan material dari Eropa hingga teknik pemasangan di lapangan.
"Belum ada kajian serius bagaimana pembangunan dilakukan. Padahal hal ini bisa memperkaya sejarah teknik dan arsitektur di Kalimantan Selatan," lanjutnya.
Baca Juga: RS Haji Damanhuri Barabai Punya Saingan, Dua Rumah Sakit Swasta Bakal Dibangun
Sejarawan lokal Balangan, Dharma Setyawan, yang juga Tim Ahli Cagar Budaya kabupaten, menilai penggunaan baja Prancis sebagai anomali menarik.
Umumnya jembatan kolonial di Hindia Belanda menggunakan baja produksi Belanda.
"Fakta ini memperkuat bahwa jembatan ini dibangun untuk kepentingan strategis, bukan sembarangan proyek," ujar Dharma.
Tak jauh dari jembatan, berdiri Rumah Tua H Sjoekoer di Desa Simpang Tiga yang dibangun 1937. Rumah tersebut pernah berfungsi sebagai pusat perdagangan karet dan pos pasukan sekutu di masa akhir kekuasaan kolonial Belanda.
Baca Juga: Kakek Kahpi Jalani Sidang PK, PN Martapura Hadirkan Pembeli Tanah Pertama
Dharma menekankan Jembatan Lampihong harus diangkat menjadi ikon wisata sejarah daerah. "Kita harus mulai memandangnya bukan sekadar jembatan tua, tapi sebagai warisan teknik dan sejarah yang harus dijaga dan diceritakan," pungkasnya.
Editor : M. Ramli Arisno