Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Perang Bersejarah di Maluka Baulin, Dulunya Pangkalan Militer Jepang

M Fadlan Zakiri • Selasa, 24 Juni 2025 | 12:09 WIB
Lapangan Bandara Maluka Baulin
Lapangan Bandara Maluka Baulin

 

PELAIHARI – Di balik raungan jet tempur dan aksi manuver udara spektakuler pada Latihan Puncak Matra Udara "Sikatan Daya 2025", Desa Maluka Baulin menyimpan jejak sejarah kelam tapi strategis.

Kawasan ini dulunya merupakan lokasi Bandara Maluka, yang dibangun pada masa pendudukan Jepang sebagai pangkalan militer untuk menghadapi serangan Sekutu. Jejak itulah yang membuat TNI Angkatan Udara menjadikan kawasan ini sebagai salah satu titik krusial latihan tempur.

Sejarawan UIN Antasari Banjarmasin, Mursalin mengungkapkan bahwa kawasan Maluka Baulin memang sejak awal dirancang sebagai pusat pertahanan udara. “Jepang membangun Bandara Maluka sebagai strategi pertahanan untuk mengamankan wilayah-wilayah yang dianggap memiliki nilai ekonomi dan militer tinggi,” ujarnya saat diwawancarai, Senin (23/6) sore.

Menurut Mursalin, lokasi Maluka Baulin yang berada di antara kawasan pesisir dan dataran pertanian menjadikannya titik penting bagi penguasaan wilayah udara di Kalimantan Selatan pada masa perang.

Pembangunan bandara kala itu tidak dilakukan dengan sukarela. Ribuan tenaga kerja paksa dari Kalimantan dan Jawa, yang tergabung dalam barisan Romusha dan Kinrohosi, dipaksa bekerja membangun landasan pacu, bunker, hingga barak militer Jepang.

“Mereka menggali tanah, membangun lubang perlindungan, memperkuat jalur irigasi untuk logistik. Banyak dari mereka yang tak pernah kembali karena kelaparan, penyakit, bahkan terkena serangan bom Sekutu,” ungkap Mursalin.

Saat Sekutu menggempur Balikpapan pada awal Februari 1945, Bandara Maluka juga menjadi sasaran utama. Serangan besar-besaran dilakukan menggunakan pesawat tempur jenis B-17, B-25, B-26, P-38, hingga P-51 Mustang. “Dari Bajuin terlihat langit Maluka membara, asap membumbung tinggi. Itu titik balik kehancuran bandara,” jelas Mursalin.

Setelah kemerdekaan, bekas Bandara Maluka lama terbengkalai. Namun, sejarah tak sepenuhnya tenggelam. Kini, kawasan itu menjadi Lapangan Tembak Udara Dwi Harmono milik TNI AU, tempat digelarnya latihan perang terpadu.

“Pemilihan lokasi ini bukan kebetulan. TNI AU mungkin sangat mempertimbangkan nilai historis, kontur tanah, serta posisi strategis yang pernah diuji dalam perang,” imbuh Mursalin.

Dengan luas lahan yang cukup, medan datar, serta jarak aman dari permukiman, Maluka Baulin dinilai ideal untuk latihan operasi udara modern. Bahkan lebih dari itu, pemanfaatan kawasan ini sekaligus menjadi bentuk pelestarian nilai sejarah. Sehingga setiap raungan F-16 atau manuver Super Tucano yang mengguncang langit Maluka bukan hanya gambaran kekuatan TNI AU, tetapi juga gema sejarah dari masa penjajahan.

Di tanah yang dulu dipenuhi penderitaan Romusha, kini berdiri tegak kekuatan udara Indonesia yang membela tanah air. Menurutnya, latihan militer yang digelar TNI AU bukan hanya menunjukkan kesiapan tempur, tapi juga merawat ingatan. 

“Ini ironi sekaligus kebanggaan. Dulu tanah ini saksi penjajahan, sekarang jadi simbol pertahanan dan kedaulatan,” pungkas Mursalin.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#Tanah Laut #perang #Sejarah #tni