BANJARBARU - Meski telah memasuki musim kemarau, wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel) belum sepenuhnya kering. Bahkan, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat intensitas hujan di sejumlah wilayah masih cukup tinggi.
Analis Iklim Stasiun Klimatologi Kelas I Banjarbaru, Muhammad Arif Rahman menjelaskan, fenomena ini dikenal sebagai kemarau basah.
Di wilayah Kalsel, cuaca ini turut dipengaruhi kondisi geografis khas Banua, khususnya Pegunungan Meratus yang membentang di tengah-tengah provinsi.
Efek Bendung Meratus ini, kata Arif, memegang peran penting terhadap pola curah hujan di wilayah Kalsel. “Udara basah dari laut terbawa oleh angin timuran atau Monsun Australia. Saat bertemu Pegunungan Meratus dari arah timur, pergerakan udara melambat dan tertahan di lereng, memicu terbentuknya awan konvektif yang berpotensi hujan sedang hingga ekstrem,” jelasnya, Jumat (20/6) siang.
Efeknya, wilayah timur Meratus seperti Kabupaten Tanah Laut, Tanah Bumbu, dan Kotabaru, masih berpeluang diguyur hujan saat daerah lain mulai mengering. Sementara wilayah barat Meratus menjadi lebih kering karena berada di zona bayangan hujan (rain shadow area).
Kondisi ini turut menjelaskan mengapa sepanjang 1 sampai 10 Juni 2025, satelit pendeteksi panas seperti NASA-TERRA/AQUA, NASA-SNPP, dan NASA-NOAA20, hanya menemukan sekitar 60 titik panas dengan tingkat kepercayaan menengah.
Artinya, belum bisa dipastikan bahwa seluruh titik tersebut merupakan kebakaran lahan. “Ini menunjukkan potensi Karhutla masih relatif kecil, meskipun tetap perlu diwaspadai,” imbuh Arif.
Terkait keamanan di kawasan strategis seperti Ring 1 Bandara Internasional Syamsudin Noor, BMKG memastikan cuaca masih dalam batas aman untuk aktivitas penerbangan. Hujan yang terjadi pun bersifat lokal dan sporadis.
“Kalau pun ada hujan siang hingga petang, itu bisa diantisipasi dengan penjadwalan ulang take-off atau landing. Layanan meteorologi penerbangan kami selalu menyertakan dokumen prediksi dan analisis cuaca, termasuk rencana bandara alternatif jika terjadi perubahan ekstrem,” tegasnya.
Hal senada diungkapkan Kapolsek Liang Anggang, Kompol Imam Suryana. Pihaknya mencatat tidak ada kejadian Karhutla selama Mei hingga Juni lantaran masih tingginya curah hujan yang terjadi di kawasan tersebut.
“Kami terus lakukan patroli dan sosialisasi lewat Bhabinkamtibmas. Warga diimbau tidak membakar lahan dan waspada saat beraktivitas dengan api, termasuk pemancing agar tidak buang puntung rokok sembarangan,” katanya.
Hingga pertengahan Juni, wilayah Ring 1 Bandara disebut masih steril dari Karhutla. Namun, antisipasi tetap dijaga penuh agar potensi bencana bisa ditekan sejak dini.
Dengan kondisi cuaca yang masih dinamis di tengah musim kemarau ini, masyarakat terutama di daerah pesisir dan dataran rendah diminta tetap waspada terhadap cuaca ekstrem.
“Khususnya selama masa transisi dari hujan ke kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga akhir Juli mendatang, sesuai prediksi BMKG,” pungkas Imam.
Editor: Sutrisno
Editor : Arief