Bahas RTRW Di Tingkat Provinsi Kalsel, Hero Setiawan Berharap Potensi Agrominapolitan Berbasis Ekosistem Rawa Terwujud

M Akbar Radar Banjarmasin • Dipublikasikan Jumat, 30 Mei 2025 | 16:58 WIB
PROGRAM:Wakil Bupati HSU, Hero Setiawan Rapat Forum Penataan Ruang (FPR) Kalsel di Kota Banjarbaru, Rabu (28/5/2025) membahas Revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten HSU 2025.
PROGRAM:Wakil Bupati HSU, Hero Setiawan Rapat Forum Penataan Ruang (FPR) Kalsel di Kota Banjarbaru, Rabu (28/5/2025) membahas Revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten HSU 2025.

BANJARBARU - Mewujudkan tata ruang dan wilayah sebagai kawasan agrominapolitan yang maju dan berbasis ekosistem rawa berkelanjutan, merupakan langkah Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Utara (Pemkab HSU), memaksimalkan potensi rawa yang melimpah.

Pemaksimalan rawa ini telah dibahas di Rapat Forum Penataan Ruang (FPR) Kalsel yang membahas Revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten HSU tahun 2025.

Pembahasan ini dihadiri Hero Setiawan dan Kadis Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten HSU, Amos Silitonga di Aula Kantor Dinas PUPR Kalsel di Kota Banjarbaru, Rabu (28/5/2025).

Amos memaparkan revisi RTRW Kabupaten HSU 2025–2044 dilakukan sejalan dengan kebijakan Pemprov Kalsel dalam Perda Nomor 6 Tahun 2023 tentang RTRW Provinsi Kalimantan Selatan 2023–2042.

Tujuan penataan ruang wilayah provinsi, terang Amos, sebagai upaya mewujudkan pusat perekonomian nasional dan global di selatan Pulau Kalimantan.

Dengan sinergi antar kabupaten/kota, maka dapat mendukung hilirisasi industri dan pengembangan industri non-ekstraktif berbasis prinsip pembangunan berkelanjutan.

Tak hanya itu, daerah ini juga memiliki berbagai potensi lokal dan global yang perlu dioptimalkan. Potensi tersebut meliputi pemanfaatan hutan produksi seluas 15.762 Hektare.

Termasuk hutan yang dapat dikonversi menjadi hutan produksi seluas 25.853 Ha, mencakup 45,84 persen dari total luas wilayah.

Masih menurut Amos, potensi pengembangan kawasan pertanian dan peternakan berorientasi ekspor, seperti peternakan itik dan kerbau rawa, serta pengembangan kawasan minapolitan.

Termasuk budidaya perikanan keramba dan Pasar Induk Amuntai yang dikenal dengan komoditas unggulannya seperti garmen, sembako, kerajinan, dan mebel.

“Potensi pariwisata juga menjadi perhatian, mulai dari wisata budaya, religi, hingga wisata alam dan buatan,” ungkapnya.

Penetapan jalan arteri primer di HSU dinilai akan memperkuat jaringan transportasi antarwilayah dan mendukung pengembangan Ibu Kota baru yang berdampak pada pertumbuhan kawasan.

Lewat pertemuan ini diharapkan menunjang pengembangan sistem permukiman terpadu, pemerataan infrastruktur kota dan desa, serta pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal dan sumber daya unggulan.

Termasuk pada perlindungan lahan pertanian, perikanan, dan pengembangan wisata berbasis alam dan lingkungan, serta pengembangan kawasan strategis juga menjadi bagian penting dalam mewujudkan HSU sebagai daerah tangguh dan berkelanjutan.

“Kami harap kebijakan dan strategi penataan ruang ini membawa dampak positif terhadap pembangunan, menuju agrominapolitan berbasis ekosistem rawa berkelanjutan, selaras visi-misi HSU Bangkit, (Berkeadilan, Unggul, dan Kreatif),” harapannya.

Editor : Fauzan Ridhani
Hero Setiawan wakil bupati Amuntai Pemkab HSU Kabupaten Hulu Sungai Utara