Ia menegaskan bahwa pihak sekolah siap bertanggung jawab jika terdapat hal-hal dalam acara tersebut yang dianggap melanggar norma maupun aturan.
“Kalau memang ada yang melanggar hukum atau norma masyarakat, kami tidak lari dari tanggung jawab,” ujar Edi lewat siaran pers, Selasa (26/5/2025).
Edi menjelaskan, dua hal yang menjadi sorotan adalah penampilan DJ dan aksi saweran yang terekam dalam video. Ia menyebut musik dalam acara tersebut masih dalam batas wajar. Bahkan, EDM (Electronic Dance Music) menurutnya sudah menjadi bagian dari perkembangan selera seni generasi muda.
“Soal DJ, itu sudah berkembang luas. Hanya saja, untuk saweran, kami akui itu di luar kendali. Para siswa larut dalam suasana. Kalau itu keliru, kami mohon maaf. Kami akan evaluasi,” ucapnya.
Edi juga menekankan bahwa tidak ada unsur minuman keras, narkoba, ataupun pelanggaran hukum lainnya dalam acara tersebut. Ia menegaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan di lingkungan sekolah dengan pengawasan ketat.
“Kami memang akomodir perayaan ini di sekolah agar tidak ada konvoi liar atau aksi coret-coret di jalanan. Semua berjalan aman dan tertib,” bebernya.
Ia juga menyesalkan munculnya pemberitaan di sejumlah media tanpa konfirmasi ke pihak sekolah. “Mereka langsung konfirmasi ke dinas, padahal dinas tidak berada di lapangan. Ini menimbulkan bias informasi,” jelasnya.
Lebih jauh, Edi membeberkan bahwa kehadiran DJ dalam acara itu sempat ditolak oleh guru. Namun, karena desakan siswa dan berbagai pertimbangan, akhirnya diizinkan dengan sejumlah syarat.
“Durasi maksimal satu jam, dilakukan siang hari, di lingkungan sekolah, berpakaian sopan, dan tidak anarkis. Jika syarat dilanggar, acara dibubarkan. Itu sudah disepakati,” katanya.
Dukungan terhadap sekolah juga datang dari alumni. Muhammad Fauzi Fadilah, alumni jurusan TKJ, ikut bersuara.
“EDM itu bentuk seni yang sedang berkembang. Jangan langsung dipersepsikan negatif,” ujarnya.
Menurutnya, aksi saweran yang terjadi hanyalah ekspresi kegembiraan. “Mungkin itu semacam apresiasi. Jangan langsung diasosiasikan dengan praktik di dunia hiburan malam,” katanya.
Fauzi pun menilai sekolah telah mengambil langkah tepat dengan menampung ekspresi siswa dalam wadah yang aman dan terkontrol.
“Acara ini di sekolah, bukan di tempat hiburan. Saya malah apresiasi, ini bentuk kedekatan emosional antara siswa dan almamater. Tahun depan mungkin bisa lebih rapi lagi,” tandasnya.
Sementara itu, akademisi komunikasi dari ULM, Ahmad Bayu Chandrabuwono, S.I.Kom., MA, menilai bahwa munculnya persepsi negatif terhadap DJ lebih disebabkan oleh streotip budaya.
“Selama masih dalam batas etik dan norma, tidak ada yang salah dari event bernuansa DJ. Yang keliru itu persepsi yang menyempitkan seni ini dalam ruang negatif,” ujarnya.
Bayu juga mengingatkan bahwa media sosial sangat rentan menyulut salah tafsir akibat viralitas yang tidak diimbangi klarifikasi.
“Soal saweran, secara tradisi justru itu bentuk penghargaan masyarakat kepada seniman panggung. Ini harus dilihat dari kaca mata budaya yang dinamis,” jelasnya.
Ia berharap publik bisa bijak menyikapi peristiwa ini. “Pendidikan seharusnya mampu menghubungkan masa lalu, memahami masa kini, dan menyiapkan masa depan. Mari lihat dari sudut pembelajaran, bukan penghakiman,” tutupnya.
Editor : Sutrisno