Salah satunya adalah Rendra. Pemerhati Sejarah sekaligus Kurator Museum Rakyat Hulu Sungai Selatan ini mengakui bahwa penggunaan kata Kalimantan Selatan pada teks Proklamasi 17 Mei memang masih simpang siur kebenarannya.
“Karena naskah aslinya (teks Proklamasi Kemerdekaan 17 Mei 1949) memang belum ditemukan,” ungkapnya saat kepada Radar Banjarmasin, Sabtu (18/5/2025) malam.
Meski demikian, dalam data yang pernah ia kumpulkan, kata Kalimantan Selatan di naskah tersebut juga tertuju pada penyebutan wilayah dari bahasa belanda, yakni Zuid Borneo yang berarti Bagian Selatan Kalimantan.
“Pada era itu, istilah Kalimantan Selatan juga dikenal dalam penyebutan nama wilayah administratif Hindia Belanda yg saat itu disebut Zuid Borneo (Kalimantan Selatan) yang masuk dalam bagian Residentie Zuider en Oooster Afdeling van Borneo (Residensi Selatan dan Timur Borneo),” terangnya.
Saat disinggung mengenai teks proklamasi yang diabadikan ke dalam bentuk prasasti, Rendra menyebut bahwa hal tersebut juga tidak bermaksud untuk mengecilkan nilai perjuangan Hassan Basry sebagai Pahlawan Nasional.
“Saya masih berpikir positif. Orang-orang dulu menulis prasasti itu mungkin tidak berniat mengecilkan perjuangan beliau. Tapi karena data yang ada sementara memang hanya yang bertulisan ‘Selatan’ itu saja,” imbuhnya.
Kendati demikian, ia mengakui nahwa saat ini memang banyak versi dan dugaan yang menyebut "melingkungi Kalimantan", tapi di beberapa sumber yang ada tertulis Kalimantan Selatan.
Ada yang lebih menarik lagi, tahun kemarin Rendra mengaku dapat sebuah tulisan seperti majalah yang terbit dan diedarkan pada 17 Mei 1962.
Edaran tersebut dibuat khusus untuk memperingati Proklamasi 17 Mei 1949.
“Isinya ada sambutan dari banyak tokoh, diantaranya adalah Pak Nasution dan Pak Hassan Basry sekaligus Pak Aberani Sulaiman yang termasuk dalam perumus naskah proklamasi 17 Mei 1949,” beberhya
Sampul majalah itu, ujar Rendra, memuat naskah proklamasi 17 Mei 1949.
“Artinya jika publikasi (majalah) itu salah dalam menulis ‘Kalimantan Selatan’, otomatis pasti ada protes bahkan membuat Pak Hassan Basry marah. Apalagi edaran itu terbit di zaman Pak Hasan Basry masih hidup dan masih muda lagi,” bebernya.
Bahkan, lanjut Rendra, majalah tersebut diterbitkan oleh "Sekretariat Panitia Tetap Peringatan Proklamasi Gubernur Tentara ALRI". Sehingga tentu tidak mungkin sembarangan dan tanpa restu Hassan Basry, dalam proses penyusunan hingga penerbitanya tepat 12 tahun setelah kedaulatan.
“Sehingga, saya pribadi tidak menyalahkan yang membuat monumen di makam, karena waktu Pak Hassan Basry hidup pun ‘tulisan Kalimantan Selatan’ itu seolah dimaklumi,” tukasnya.
Memang, kata Rendra banyak yang menyatakan dan menduga dalam teks proklamasi itu narasinya adalah ‘melingkungi seluruh daerah Kalimantan’.
Namun, yang ia menduga bahwa prasasti tersebut dibuat karena data-data yang ada masih merujuk kepada ‘Kalimantan Selatan’.
“Seperti termasuk yang baru saja kami temukan edaran atau majalah itu yang juga masih ‘Kalimantan Selatan’ juga tulisannya,” ujarnya .
“Semoga kedepan ada banyak data dukung terkait teks proklamasi yang menyebut ‘melingkungi daerah Kalimantan’ tadi ?, sehingga sesuai lawan info-info yang beredar,” pungkasnya.
Editor : Sutrisno