Pembaca Banua Pedia yang budiman, akhir pekan adalah waktu yang dinanti-nantikan banyak orang. Setelah menjalani hari-hari penuh aktivitas dan kesibukan, tak ada salahnya meluangkan waktu sejenak untuk beristirahat, menyegarkan pikiran, dan menikmati momen berharga bersama orang-orang tercinta. Salah satu cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan mengunjungi destinasi wisata yang menawarkan keindahan alam sekaligus suasana yang menenangkan.
Kali ini, kami ingin mengajak Anda menjelajahi sebuah tempat yang belum banyak terekspos, namun menyimpan pesona luar biasa. Terletak di Desa Nungka, Kecamatan Awayan, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan, Bendungan Pitap menjadi salah satu pilihan menarik untuk menghabiskan waktu di akhir pekan bersama keluarga atau sahabat.
Sebagai salah satu bendungan terbesar di wilayah ini, Bendungan Pitap tidak hanya memainkan peran penting dalam mendukung kebutuhan irigasi dan pasokan air masyarakat sekitar, tetapi juga menjadi daya tarik wisata yang mulai dilirik oleh para pencinta alam dan pelancong lokal. Pemandangan hamparan air yang luas, dikelilingi oleh perbukitan hijau dan udara segar khas pegunungan, menjadikan tempat ini cocok untuk berlibur sambil melepas penat dari hiruk-pikuk keseharian.
Jadi, jika Anda tengah mencari tempat liburan akhir pekan yang tenang, terjangkau, dan sarat akan keindahan alam, Bendungan Pitap bisa menjadi pilihan yang patut dipertimbangkan. Berikut kami sajikan serba-serbi seputar Bendungan Pitap yang mungkin belum banyak diketahui:
Dibangun dalam Kurun Waktu 7 Tahun
Bendungan Pitap mulai dibangun pada tahun 2004 dan rampung pada 2011. Proyek ini merupakan bagian dari upaya strategis pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dan penyediaan air bagi pertanian. Pembangunan bendungan ini dikerjakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Balai Wilayah Sungai Kalimantan II.
Dengan total anggaran sekitar Rp 85 miliar, proyek ini semula didanai melalui skema dana sharing antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten. Namun, pada akhirnya, pembiayaan sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah pusat. Sementara Pemerintah Kabupaten Balangan diberi tanggung jawab untuk pembentukan tim pembebasan lahan yang diperuntukkan bagi saluran irigasi.
Peletakan batu pertama dilakukan pada tahun 2005 oleh Gubernur Kalimantan Selatan saat itu, almarhum Sjachriel Darham.
Mengairi Ribuan Hektare Lahan Pertanian
Bendungan Pitap memiliki peran vital sebagai sumber air untuk irigasi. Melalui Daerah Irigasi (DI) Pitap, bendungan ini mengairi sekitar 4.144 hektare lahan pertanian yang tersebar di beberapa kecamatan. Kecamatan Paringin, 1.073 hektare. Putat Basiun, Kecamatan Awayan 1.027 hektare. Lok Batung, Kecamatan Batumandi 577 hektare. Sikontan, Baramban, Purun, dan Badalungga 410 hektare.
Jaringan irigasi ini dibangun dengan anggaran kurang lebih Rp 258 miliar, menjadikan Bendungan Pitap sebagai tulang punggung ketahanan pangan di Kabupaten Balangan.
Pernah Mengalami Longsor
Pada tahun 2017, Bendungan Pitap sempat mengalami longsor akibat curah hujan yang sangat tinggi. Insiden ini menyebabkan gangguan pada fungsinya sebagai penyedia air. Namun, Balai Wilayah Sungai Kalimantan II dengan sigap melakukan perbaikan, sehingga pada tahun 2019 bendungan kembali bisa difungsikan secara optimal.
Fasilitas Wisata yang Memadai
Selain berfungsi sebagai infrastruktur sumber daya air, Bendungan Pitap juga menawarkan fasilitas wisata yang cukup nyaman. Pengunjung bisa menikmati suasana alam yang sejuk sambil duduk di bangku taman yang tersedia di bawah rindangnya pepohonan.
Tersedia pula fasilitas MCK yang terawat dengan baik, menjadikan lokasi ini cocok untuk piknik keluarga. Banyak pengunjung memanfaatkan keindahan alamnya sebagai latar belakang foto yang estetik dan instagramable.
Dilengkapi Sistem Peringatan Dini (EWS)
Salah satu keunggulan Bendungan Pitap adalah keberadaan alat deteksi dini banjir atau Early Warning System (EWS). Sistem ini dilengkapi dengan CCTV yang memungkinkan personel BPBD Balangan memantau ketinggian air secara real-time dari jarak jauh.
EWS memberikan peringatan dini apabila debit air mulai meningkat, sehingga langkah mitigasi dapat segera dilakukan. Dengan teknologi ini, risiko dampak bencana banjir bisa diminimalisir lebih awal, serta memberi waktu bagi warga untuk bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.
Dengan perpaduan antara fungsi strategis dan daya tarik wisata, Bendungan Pitap adalah contoh bagaimana infrastruktur bisa menjadi aset multifungsi bagi masyarakat. Tidak hanya menyejahterakan petani, tetapi juga memberikan ruang rekreasi yang edukatif dan menyegarkan.
Ayo, manfaatkan akhir pekan Anda untuk mengunjungi Bendungan Pitap dan temukan pesonanya secara langsung!
Editor : Arief