Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Sosok Cevi Yusuf Isnendar, Raja Banjar Kalimantan yang Ditolak Kesultanan Banjar, Ternyata Keturunan Sultan Banjar yang Diasingkan ke Cianjur

Fauzan Ridhani • Minggu, 11 Mei 2025 | 11:05 WIB
Penobatan Cevi Yusuf Isnendar sebagai Raja Kebudayaan Banjar Kalimantan oleh Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menuai penolakan keras dari pihak Kesultanan Banjar Kalimantan Selatan.
Penobatan Cevi Yusuf Isnendar sebagai Raja Kebudayaan Banjar Kalimantan oleh Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menuai penolakan keras dari pihak Kesultanan Banjar Kalimantan Selatan.

BANJARMASIN – Kesultanan Banjar Kalimantan menolak dinobatkannya cevi Yusuf Isnendar sebagai Raja Kebudayaan Banjar Kalimantan oleh Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon.

Penobatan digelar di Kraton Majapahit, Jakarta, Selasa (6/5/2025) dengan AM Hendropriyono sebagai pengundang.

H Nurmaulana, salah satu dari 13 Adipati Kesultanan Banjar dengan tegas menolak penobatan tersebut.

“Kami para Adipati (Pemangku Adat) dan juga atas nama kerabat dan zuriah Kesultanan Banjar menyampaikan maklumat keberatan atas upaya sepihak penobatan saudara Cevi Yusuf Isnendar atas gelar apapun yang bersangkutan demi Kehormatan Kesultanan dan Masyarakat Adat Banjar,” ungkapnya kepada Radar Banjarmasin, Jumat (9/5/2025). 

Maulana menyebut gelar Sultan yang diberikan kepada Cevi Yusuf Isnendar tidak melalui proses yang seharusnya.

“Karena yang bersangkutan (Cevi Yusuf Isnendar, red) tidak berada dan dikenal di tengah masyarakat Banjar. Cevi Yusuf Isnendar lahir dan besar, serta berdomisili di Cianjur, Jawa Barat,” tambahnya.

Pihaknya juga menegaskan perlunya koreksi terkait gelar Pangeran yang diklaim oleh Cevi. “Gelar Pangeran yang disandangkan pada nama Cevi Yusuf Isnendar tidak pernah diberikan atau dianugerahkan oleh Kesultanan Banjar,” sambungnya.

Namun demikian, pihaknya mengakui bahwa dalam catatan silsilah Kesultanan Banjar, Cevi Yusuf Isnendar memang masih keturunan Pangeran Hidayatullah dari jalur ibu (matrilineal).

“Cevi Yusuf Isnendar bin Arma Junaid, yang mana Arma Junaid itu kawin dengan Gusti Yus Rustianah binti Pangeran Sadibansyah bin Pangerann Alibasyah bin Pangeran Hidayatullah,” urainya.

Pangeran Hidayatullah.(Wikipedia)
Pangeran Hidayatullah.(Wikipedia)

Sedangkan, secara adat dan kebudayaan, kesultanan Banjar menerapkan sistem Patrilineal atau silsilah keturunan dari jalur Ayah.

“Sehingga, menurut kami, gelar (Pangeran, red) Cevi Yusuf Isnendar itu tidak sah. Hanya pengakuan diri sendiri tanpa melalui proses adat Badudus sebagaimana tradisi leluhur di Kesultanan Banjar,” tambahnya.

Penjelasan ini, kata Maulana merupakan beberapa poin yang termuat dalam naskah Maklumat Musyawarah Tinggi Adat Para Adipati Kesultanan Banjar Kalimantan.

Berdasarkan catatan sejarah, Pangeran Hidayatullah adalah salah satu Sultan Banjar yang memerintah antara tahun 1859-1863, dan merupakan tokoh utama oposisi Pemerintah Hindia Belanda.

Pada masa pemerintahan Pangeran Hidayatullah, pecah Perang Banjar antara Kesultanan Banjar dan Hindia Belanda selaku pemerintah kolonial.

Terlahir sebagai putra dari Pangeran Abdur Rahman, Pangeran Hidayatullah semestinya merupakan kandidat utama pewaris tahta Kesultanan Banjar.

Namun, posisi itu malah diisi oleh kakak tirinya, Tamjidullah II yang mendapat dukungan dari pemerintah Hindia Belanda.

Hal ini menimbulkan konflik di dalam keluarga Kesultanan Banjar. Untuk meredam konflik tersebut, Pemerintah Hindia Belanda mengangkat Pangeran Hidayatullah sebagai Mangkubumi Kesultanan Banjar.

Namun, hal itu tetap tak bisa meredakan konflik tersebut, sehingga memicu pecahnya Perang Banjar.

Puncaknya, pada 18 April 1859 pasukan Banjar yang dipimpin Pangeran Antasari menyerang tambang batubara Orajne Nassau di Pengaron, sehingga membuat kewalahan kubu Pangeran Tamjidullah dan Hindia Belanda.

Pasca penyerangan tersebut, pengaruh Sultan Tamjidullah semakin lemah, hingga Pemerintah Hindia Belanda memakzulkannya dan menawarkan posisi Sultan kepada Pangeran Hidayatullah.

Namun, Pangeran Hidayatullah menolak tawaran tersebut, sampai akhirnya dinobatkan sebagai Sultan Banjar oleh para Panglima Banjar (bukan oleh Pemerintah Hindia Belanda) pada 1859.

Baca Juga: Persami Tenis Kembali Digelar, Banjarmasin Komit Cetak Bibit Atlet Usia Dini

HADIR:Asisten Umum Setdaprov Kalsel, Ahmad Bagiawan (kiri) bersama Cevi Yusuf Isnendar sebagai Raja Kebudayaan Banjar Kalimantan di Kraton Majapahit, Jakarta.(MC Kalsel)
HADIR:Asisten Umum Setdaprov Kalsel, Ahmad Bagiawan (kiri) bersama Cevi Yusuf Isnendar sebagai Raja Kebudayaan Banjar Kalimantan di Kraton Majapahit, Jakarta.(MC Kalsel)

Perang Banjar masih berlanjut hingga 1862. Namun, saat itu Pangeran Hidayatullah dan keluarganya berhasil ditangkap Belanda.

Pangeran Hidayatullah, keluarga, dan pengikutnya kemudian diasingkan oleh Belanda ke Cianjur, Jawa Barat hingga akhir hayatnya.

Selama dalam pengasingan di Cianjur, Pangeran Hidayatullah diketahui memiliki banyak keturunan, salah satunya adalah Cevi Yusuf Isnendar yang dinobatkan jadi Raja Kebudayaan Banjar Kalimantan oleh Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon. 

 

 

Editor : Fauzan Ridhani
#fadli zon #kesultanan banjar #banjarmasin #kalimantan #Cevi Yusuf Isnendar