BANJARMASIN – Penobatan Pangeran Cevi Yusuf Isnendar Al-Banjari sebagai Raja Kebudayaan Banjar Kalimantan oleh Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon memantik kemarahan Kesultanan Banjar, Kalimantan Selatan.
Pangeran Syarif Abudrrahman Bahasyim atau Habib Banua, bangsawan bergelar Pangeran Syarif Hikmadiraja mengecam keras penobatan Cevi Yusuf Isnendar sebagai Raja Kebudayaan Banjar Kalimantan oleh Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon.
Selain itu, penobatan Pangeran Cevi Yusuf Isnendar juga dapat penolakan dari 13 Adipati Kesultanan Banjar.
Penobatan Pangeran Cevi Yusuf digelar di Kraton Majapahit, Jakarta Timur, Selasa (6/5/2025) atas undangan Mantan Kepala BIN, AM Hendropriyono.
AM Hendropriyono sendiri memiliki keterkaitan dengan Kesultanan Banjar setelah menerima gelar Kebangsawanan dari Kesultanan Banjar yang dipimpin Sultan Khairul Saleh.
Pada 3 Mei 2025, atau tiga hari sebelum penobatan tersebut digelar,13 Adipati Kesultanan Banjar menandatangani surat keberatan resmi.
“Kesultanan Banjar telah memiliki Sultan Haji Khairul Saleh Al-Mu’tashim Billah yang dinobatkan oleh para sesepuh, alim ulama, dan disaksikan oleh Sri Susuhunan Pakubuwono XIII Tejowulan,” tegas pernyataan para Adipati dalam surat tersebut.
Namun, lain halnya dengan Gubernur Kalsel, H Muhidin yang mengapresiasi Penobatan Cevi Yusuf Isnendar sebagai Raja Kebudayaan Banjar.
Dikutip dari situs www.diskominfomc.kalselprov.go.id (situs resmi publikasi kegiatan Pemprov Kalsel) tanggal 7 Mei 2025, dituliskan kehadiran Gubernur Kalsel H Muhidin dalam acara penobatan tersebut diwakili oleh Asisten Administrasi Umum Setda Prov Kalsel, Ahmad Bagiawan.
Di penobatan tersebut hadir sejumlah tokoh dan pejabat tinggi. Diantaranya Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, Choirul Tanjung, Mahfud MD, Bambang Soesatyo, Azwar Anas, Bupati Sumenep Achmad Fauzi, HM Arul Sabil, Jenderal (Purn) A. M. Hendropriyono dan tokoh-tokoh lainnya. Gubernur Kalimantan Selatan, H. Muhidin yang diwakili Asisten Administrasi Umum Setda Prov Kalsel, Ahmad Bagiawan menyampaikan apresiasinya terhadap penobatan ini.
“Penobatan ini adalah tonggak sejarah penting dalam pelestarian budaya Banjar. Kami sangat menghargai upaya menjaga nilai-nilai luhur yang menjadi jati diri masyarakat Kalimantan Selatan,” ujar Bagiawan.
Dikesempatan tersebut, Jenderal (Purn) A. M. Hendropriyono juga sempat menyapa warga Banjar melalui Asisten Administrasi Umum Setda Prov Kalsel, Ahmad Bagiawan.
“Beliau sangat senang bertemu dengan orang Banua Kalimantan Selatan karena diketahui Jenderal (Purn) A. M. Hendropriyono memang masih ada darah atau keturunan banjar,” ujar Gia.
Editor : Fauzan Ridhani