Pemerhati Kebijakan Publik Kota Amuntai, Junaidi, MM, mengungkapkan keprihatinannya melihat kondisi pasar yang dulu menjadi simpul ekonomi bagi beberapa kabupaten sekitarnya.
"Saya lihat dan dengar keluhan dari masyarakat. Pasar yang semestinya jadi pusat aktivitas ekonomi rakyat kini sepi dan agak kumuh," ujarnya pada media, Jumat (2/5/2025).
Baca Juga: Bupati HST Temui Menteri PU, Saluran Sekunder Batang Alai Dijanjikan Terealisasi 2026
Menurut Junaidi, pasar yang dulunya menjadi penghubung ekonomi bagi Kabupaten Tabalong, Balangan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, dan beberapa wilayah Barito di Provinsi Kalimantan Tengah kini riuhnya begitu lemah.
"Wajar bila muncul pertanyaan mendesak siapa yang akan bertanggung jawab atas merosotnya wajah dan fungsi Pasar Induk Amuntai ini," cetusnya.
Junaidi mengidentifikasi beberapa persoalan utama, di antaranya lemahnya sistem pengelolaan dan minimnya perhatian pemerintah terhadap revitalisasi pasar rakyat.
Baca Juga: Berdua Antarkan Pesanan Sabu, Tidak Disangka ke Rumah Agus Disambut Polisi dari Polres Barito Kuala
"Zonasi antar komoditas tidak diatur dengan baik. Pedagang bercampur tanpa arah yang jelas. Belum lagi sanitasi ikut memperburuk kondisi pasar," jelasnya.
Tokoh pemuda setempat ini menegaskan bahwa menyalahkan pedagang atas kondisi tersebut adalah kekeliruan besar. "Pedagang justru korban dari sistem yang tidak memberikan kepastian, kenyamanan, dan dukungan. Mereka bekerja keras setiap hari, tetapi pasar dibiarkan berjalan tanpa visi," tegasnya.
Menanggapi kritik tersebut, Pemkab HSU melalui Kepala Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan (Diskusiperidang) Kamaruddin mengakui bahwa fenomena sepinya pasar offline memang terjadi di banyak tempat, tidak hanya di Pasar Induk Amuntai.
Baca Juga: Sistem Rayon Diberlakukan di SPMB Banjarbaru, Ini Alasan Pemko Menerapkannya
"Belanja online ikut andil menurunkan minat masyarakat belanja secara offline. Namun kami sudah melakukan upaya pelatihan bagi pedagang untuk berjualan secara offline dan online," ujarnya.
Kamaruddin menjelaskan banyaknya lapak dan kios yang tutup di lantai dua Pasar Induk Amuntai dipengaruhi penjualan offline yang mulai sepi sehingga kios dibiarkan kosong.
"Soal penataan ulang dan jenis dagangan, pihak kami mengapresiasi masukan dari Junaidi. Penataan memang diperlukan termasuk perbaikan sarana pendukung dan publik di Pasar Induk Amuntai," terangnya.
Baca Juga: Tumpul ke Korporasi, Tajam ke Buruh: Laporan dari Diskusi May Day Kelompok Sadar Uniska
Pihak Diskusiperidang juga mengungkapkan bahwa Bupati HSU H Sahrujani akan melakukan pertemuan dengan dinas terkait seperti Disperkim-LH, Dinas PUPR, serta Dinas Satpol PP dan Damkar HSU untuk membahas penataan, penegakan perda, dan kebersihan pasar.
"Jadi pemerintah akan duduk bersama mencari solusi. Masukan dari masyarakat sangat baik dan kami sambut positif," pungkasnya.
Editor : M. Ramli Arisno