Pemkab berharap partisipasi masyarakat dalam memeriahkan acara ini dapat memperkuat identitas budaya daerah sekaligus meningkatkan sektor pariwisata lokal.
Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Tanah Bumbu, Syamsuddin, menyampaikan bahwa event ini akan menjadi wadah pelestarian budaya lokal sekaligus sarana hiburan masyarakat.
Meski menghadapi kebijakan efisiensi anggaran, pemerintah daerah disebut tetap berkomitmen menyajikan acara yang meriah dan bermakna.
“Tahun ini kami tetap berupaya memberikan hiburan terbaik untuk masyarakat,” katanya, Senin (21/4).
Penyesuaian tersebut mengacu pada Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 yang mengatur efisiensi belanja dalam pelaksanaan APBN dan APBD. Sejumlah elemen seremonial akan diminimalisir, namun substansi acara tetap dipertahankan.
Nantinya, akan ada pertunjukan seni lokal, karnaval budaya, festival kuliner etnis, dan permainan tradisional di pesta pantai.
“Semua dikemas dengan konsep yang lebih efektif tanpa mengurangi esensi kegiatan ini tahun-tahun sebelumnya,” tambahnya.
Salah satu momen yang dinantikan adalah prosesi budaya *melarung*, yaitu ritual pelepasan sesajen ke laut yang akan dilaksanakan pada puncak acara, 11 Mei 2025. Tradisi ini sempat tidak dilakukan dalam beberapa tahun terakhir, namun tahun ini kembali dihidupkan.
Ketua Adat Ade Ogi Tanah Bumbu, Fawahisah Mahabatan, mengatakan bahwa pengembalian tradisi *melarung* merupakan hasil kesepakatan para pemuka adat. Ia menegaskan bahwa prosesi tersebut adalah bagian dari warisan budaya, bukan praktik yang bersifat mistik.
“Permintaan para tokoh nelayan adalah agar ruh tradisi ini dikembalikan, supaya daya tariknya benar-benar terasa kembali. Dulu sempat memudar, sekarang kami hidupkan lagi,” jelasnya.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk melihat prosesi tersebut sebagai bentuk pelestarian budaya maritim yang menjadi ciri khas Tanah Bumbu.
@Arif Subekti
Editor : Arif Subekti