MARTAPURA - Mahalnya harga kelapa parut dikeluhkan oleh sejumlah pedagang di Kabupaten Banjar. Kenaikan harga yang mencapai tiga kali lipat dari harga normal membuat daya beli masyarakat turun drastis.
Seperti yang terjadi di Pasar Astambul. “(Kenaikan harga, red) ini gara-gara sulitnya mencari bahan baku (kelapa),” ucap Nafisah, salah satu pedagang kelapa parut di Pasar Astambul Kabupaten Banjar, Jumat (11/4).
Ia mengatakan bahwa harga jual kelapa parut di Pasar Astambul sudah naik drastis menjadi Rp15 ribu per biji dari yang awalnya hanya Rp5 ribu per biji. “Sudah dua bulan ini, harga (jual kelapa parut per biji, red) jadi Rp15.000,” ungkapnya.
Kondisi ini, diakui Nafisah, sangat berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat akibat mahalnya harga jual kelapa parut. Biasanya per hari bisa terjual hingga ratusan butir kelapa, kini hanya sampai puluhan butir saja.
Bahkan, Nafisah dan sejumlah pedagang lain sampai mendatangkan bahan baku kelapa dari luar Kalimantan Selatan (Kalsel). “Biasanya didatangkan dari Kotabaru. Sekarang pasokannya ditambah dari Sampit dan Kuala Pembuang Kalimantan Tengah,” katanya.
Itu pun, keluh Nafisah, harga beli dari distributor kelapa juga mahal dari sebelumnya. “Makanya terpaksa kami menaikkan harga jual,” tukasnya.
Ia membeberkan bahwa kenaikan harga kelapa parut tersebut dipicu permintaan dari Pulau Jawa yang mencari bahan baku kelapa di Pulau Kalimantan ini. “Infonya karena ada perusahaan yang membeli kelapa dengan jumlah banyak. Makanya kami kesulitan cari bahan baku,” ungkapnya.
Ia berharap, kelangkaan bahan baku kelapa ini bisa segera berakhir. Supaya harga jual kelapa parut bisa kembali seperti semula. “Mudah-mudahan harga kelapa parut dari distributor juga turun, sehingga minat pembeli kembali normal,” tuturnya.
Tidak hanya pedagang, keluhan mengenai meroketnya harga kelapa parut ini juga datang dari pelaku usaha kuliner. Salah satunya Syarif. Ia harus memutar otak mengakali keperluan santan di resep masakan yang dijualnya di warung makannya.
“Walaupun ada santan instan, hasilnya tetap berbeda dengan santan asli. Khawatirnya akan berpengaruh pada penjualan di warung,” pungkasnya
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief