Wilayah ini didominasi oleh perairan, dengan 84 persen daerahnya merupakan rawa dangkal dan dalam.
Kendala ini menghambat pelaksanaan program tiga juta rumah secara nasional yang digagas oleh Presiden Prabowo. Salah satu warga Kota Amuntai, Usuf, mengaku sangat menantikan program perumahan murah tersebut.
Baca Juga: Mentan Andi Amran Sulaiman: Kalsel Harus Tingkatkan Indeks Pertanaman untuk Ketahanan Pangan
“Jika ada perumahan subsidi dengan harga terjangkau, kami tentu sangat mendukung. Sebab, harga perumahan di HSU terbilang cukup mahal,” ungkapnya.
Usuf menjelaskan bahwa harga perumahan tipe 36 di HSU dibanderol mulai dari Rp 160 juta, tergantung pada tipe rumahnya.
“Kami berharap pemerintah daerah memberikan perhatian untuk menyediakan perumahan murah bagi warga, sesuai dengan program yang diusulkan oleh Presiden RI Prabowo,” ujarnya.
Kepala Bidang Perumahan dan Permukiman (Perkim) Abraham Radi menjelaskan bahwa hunian bagi warga berpenghasilan di bawah Rp 8 juta per bulan, atau masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), di Kabupaten HSU menghadapi tantangan terbatasnya lahan daratan.
“Di daerah lain, lahan lebih banyak tersedia. Namun, di sini, membangun rumah murah bagi masyarakat berpenghasilan rendah dihadapkan pada kondisi geografis HSU yang didominasi oleh rawa,” ujarnya mewakili Kadis Perkim dan LH HSU, Masrai Syawfajar, pada Selasa (18/3/2025).
Dalam program tiga juta rumah gratis ini, pemerintah menyediakan skema di mana cicilan yang dibayarkan adalah sebesar Rp 600 ribu per bulan.
Baca Juga: Banjarmasin Buka 5 Lokasi Rumah Pemilihan Sampah, Yamin: Jangan Sampai Hangat-Hangat T*** Ayam
“Dengan anggaran Rp 100 juta, cicilan tersebut berlaku selama 25 tahun. Namun, di kabupaten ini, biaya bisa lebih tinggi karena kondisi rawa. Harga perumahan paling murah di daerah ini adalah Rp 160 juta untuk kategori sangat sederhana,” jelasnya.
Meskipun demikian, program rumah subsidi bagi MBR disambut positif oleh pemerintah daerah.
“Kami mendukung program pusat ini, meskipun tantangan di HSU adalah terbatasnya lahan daratan,” tutupnya.
Editor : M. Ramli Arisno