Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Bagarakan Sahur di Balangan Perlu Revitalisasi, Bukan Sekadar Tradisi Tapi Juga Indentitas Budaya

M Dirga • Sabtu, 15 Maret 2025 | 14:36 WIB
REVITALISASI: Lomba bagarakan sahur 2024 di gelar Disdikbud Balangan
REVITALISASI: Lomba bagarakan sahur 2024 di gelar Disdikbud Balangan

Malam Ramadan di Kalsel juga punya ciri khas. Dentingan botol kaca, gemerincing panci, dan tabuhan bambu serta jeriken berirama membangunkan warga untuk sahur. Tradisi ini dikenal sebagai Bagarakan Sahur, ritual yang telah mengakar sejak Islam masuk ke tanah Banjar.

Khairul, warga Balangan, masih mengingat jelas bagaimana dulu ia dan teman-teman kecilnya berlatih di siang hari, untuk menciptakan irama yang kompak. Bagi Khairul, bagarakan sahur adalah kenangan indah yang sarat nuansa religi.

“Kami menggunakan apa saja yang bisa menghasilkan bunyi. Botol, panci, bahkan bambu,” kenangnya.

Bagarakan sahur bukan sekadar tradisi, melainkan bagian dari identitas budaya Banjar. Setiap Ramadan, sekelompok pemuda berkeliling kampung di tengah malam, membangunkan para ibu agar segera beraktivitas di dapur untuk menyiapkan makan sahur.

Meski tak ada catatan pasti kapan tradisi ini dimulai, aktivitas ini dulu telah menjadi hiburan rakyat yang dinanti setiap tahun.

Namun, dentingan alami itu kini mulai tergantikan oleh suara dari pengeras suara yang diputar dari mobil atau motor. Nuansa sakral Ramadan yang dulu melekat pun perlahan memudar.

Lagu-lagu yang diputar pun kerap tak mencerminkan nuansa Ramadan. Alunan musik disko yang menghentak lebih sering terdengar dibanding lantunan selawat atau musik bertema religi lainnya.

“Hampir tidak pernah terdengar lagi anak-anak zaman sekarang bagarakan sahur menggunakan alat-alat seperti kami dulu. Saat ini, mereka hanya menggunakan pengeras suara yang diarak ke seluruh kampung,” ujar Khairul.

Perubahan ini tak hanya menggeser cara, tetapi juga esensi tradisi. Bagi sebagian warga, suara keras dari pengeras suara justru mengganggu. “Suaranya terlalu bising, dan musiknya tidak sesuai dengan suasana Ramadan,” keluh seorang warga.

Pemerhati sejarah dan budaya asal Balangan, Dharma Setyawan melihat fenomena ini sebagai dampak perkembangan teknologi dan pergeseran nilai dalam masyarakat. “Bagarakan sahur dulu memiliki unsur spiritual yang kuat. Bunyi-bunyian yang dihasilkan bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari ibadah,” ujarnya.

Namun, di era modern, tradisi ini kehilangan rohnya. Lagu-lagu yang diputar kerap tak mencerminkan nuansa Ramadan, bahkan cenderung mengarah ke hiburan semata. “Ini menunjukkan perubahan budaya yang perlu kita waspadai,” tambah Dharma.

Supaya tradisi ini tetap lestari, pria yang merupakan tenaga ahli cagar budaya Balangan itu menyarankan beberapa langkah revitalisasi. Pertama, perlu ada regulasi dari komunitas atau pemerintah lokal untuk mengarahkan jenis musik yang dimainkan selama Ramadan. “Lagu-lagu yang diputar seharusnya mendukung suasana ibadah, bukan sekadar hiburan,” tegasnya.

Kedua, tradisi bisa dikombinasikan dengan pendekatan modern. Misalnya, memadukan alat musik tradisional dengan aransemen baru yang tetap mencerminkan semangat Ramadan. “Kita bisa menghadirkan nuansa baru tanpa menghilangkan nilai aslinya,” ujar Dharma.

Terakhir, perlu kampanye budaya di kalangan generasi muda. “Mereka harus memahami pentingnya menjaga tradisi ini. Bagarakan sahur bukan sekadar bunyi-bunyian, melainkan bagian dari identitas kita,” tambahnya.

Dengan upaya revitalisasi, Dharma berharap tradisi ini bisa tetap hidup, menghadirkan nuansa Ramadan yang kental dengan nilai spiritual, sekaligus mempertahankan identitas budaya Banjar.

Kini, dentingan botol dan tabuhan panci mungkin mulai redup, tetapi semangat untuk melestarikan tradisi ini masih menyala. Bagarakan sahur adalah pengingat bahwa di balik bunyi-bunyian sederhana, tersimpan nilai-nilai luhur yang patut diwariskan.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#sahur #Budaya #Balangan