Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

ZPEAK UP! Setan Dikurung, Tapi Remaja-Remaja Rusuh Malah Keluar Meresahkan Masyarakat

Riyad Dafhi Rizki • Sabtu, 8 Maret 2025 | 06:23 WIB
Ilustrasi Balap Liar
Ilustrasi Balap Liar

Di bulan Ramadan, setan dikurung. Tapi di Banjarmasin, malah keluar “setan-setan kecil” ini. Berlindung di balik status di bawah umur, kenakalan mereka sudah meresahkan masyarakat.

        ****
PEKAN pertama bulan puasa di Banjarmasin ternoda aksi puluhan bocah di bawah umur yang bikin onar.

Mereka terlibat dalam berbagai aksi meresahkan seperti balapan liar, perang sarung, hingga tawuran.

Sabtu dini hari (1/3), patroli polisi mengamankan 13 remaja yang terlibat balapan liar di beberapa lokasi.

Diamankan pula sembilan remaja yang diduga hendak perang sarung. Serta, seorang remaja pembawa senjata tajam yang diduga mau tawuran.

Keesokan harinya (2/3), giliran Tim Opsnal Unit Reskrim Polsek Banjarmasin Barat yang mengamankan enam remaja di Jalan Rawasari Ujung. Empat lainnya terjaring di Jalan Teluk Tiram.

Mereka semua masih berumur belasan tahun dan diduga hendak terlibat tawuran.

Senin dini hari (3/3), polisi kembali mengamankan 21 remaja di Jalan Tembus Mantuil. Patroli menjelang waktu sahur ini menyita delapan motor, celurit dan busur panah.

Fenomena ini memicu keresahan di tengah masyarakat Banjarmasin. Contoh Muhammad Syahid, seorang driver ojek online (ojol) yang sering bekerja hingga dini hari.

Kondisi ini menganggu pekerjaannya. Syahid sering berpapasan dengan remaja-remaja tanggung yang berlagak jagoan.

"Saya sering ngojek sampai sahur. Kalau ketemu remaja yang mau tawuran, mabuk, atau ngelem, rasanya benar-benar khawatir. Apalagi kalau mereka sampai menghadang untuk malak. Kita serba salah. Kalau melawan, takut malah jadi pelaku. Kalau diam, bisa kehilangan harta atau bahkan nyawa," ungkap Syahid, Jumat (7/3).

Pemuda 26 tahun ini menilai pemerintah perlu mengambil langkah tegas untuk memberikan efek jera kepada para pelaku.

"Pelaku kadang merasa tidak bisa dihukum, jadi seenaknya. Mungkin pemerintah bisa memberi hukuman yang benar-benar tegas. Jangan hanya diamankan, lalu dipulangkan begitu saja. Perlu ada sanksi khusus untuk anak-anak yang meresahkan ini. Dengan begitu mereka akan jera," tegasnya.

Di sisi lain, kata Syahid, pengawasan orang tua sangat dibutuhkan untuk mencegah anak-anak keluar malam tanpa tujuan yang jelas.

"Orang tua harus lebih ketat mengawasi anak-anak mereka. Jangan biarkan keluar malam sampai larut. Walaupun mereka bukan pelaku, mereka bisa saja jadi korban," ujarnya.

Ibu rumah tangga di Banjarmasin, Nisa Nurmilasari juga geram saat melihat ulah remaja-remaja yang membuat rusuh di jalan.

"Dalam hati tuh rasanya pengin memaki," gumamnya.

Sebab perilaku tersebut tidak hanya mengganggu, tetapi juga membahayakan orang banyak.

"Saya pikir harus ada aturan tegas untuk mengatasi masalah ini. Aksi mereka itu bukan cuma mengganggu lalu lintas, tapi juga mengganggu orang beribadah. Orang jadi takut mengizinkan anak-anak mereka keluar untuk salat tarawih karena khawatir akan terjadi sesuatu," ujar perempuan 28 tahun itu.

Menurutnya, penyelesaian masalah ini membutuhkan pendekatan yang lebih serius dan menyeluruh.

Sarannya, pemerintah membentuk tim khusus yang bertugas mencegah tawuran.

Tim ini, katanya, bisa berjaga pada malam hari atau di jam-jam rawan untuk memastikan keamanan di jalanan.

Selain itu, Nisa juga menyoroti peran penting orang tua dalam membimbing anak-anak mereka.

"Orang tua sebaiknya menyiapkan wadah bagi anak-anak untuk berekspresi melalui kegiatan yang lebih positif. Misalnya, menyalurkan hobi anak ke musik atau olahraga. Dengan begitu, anak-anak punya kegiatan yang produktif, bukan malah keluyuran dan bikin rusuh," jelasnya.

Ia percaya bahwa kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan orang tua adalah kunci untuk menyelesaikan persoalan ini.

"Jangan cuma menyalahkan satu pihak. Kita semua harus ikut berperan, baik melalui aturan yang tegas, pengawasan, maupun menciptakan peluang positif untuk anak-anak muda," tutup Nisa. 

Editor: Syarafuddin

Editor : Arief
#remaja #ZPEAK UP #tawuran #Balap Liar