Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

ZPEAK UP! Mega Korupsi Satu Kuadriliun di Bisnis Minyak Pertamina

Tia Lalita Novitri • Sabtu, 1 Maret 2025 | 12:27 WIB
Ilustrasi skandal di Pertamina
Ilustrasi skandal di Pertamina

Masyarakat kena prank. Pertamax ternyata adalah Pertalite yang lebih mahal. Cuma beda warna dan bebas ngantre.

             *****
WAHAI warga negara yang baik hati, yang berpikir dengan membeli Pertamax bisa mengarahkan subsidi negara kepada yang lebih berhak, bagaimana rasanya dikibuli?

Tapi, sebelum memuntahkan sumpah serapah, ada baiknya memahami kasus ini.

Kasus dugaan korupsi ini terjadi pada periode 2018 sampai 2023. Dengan kerugian negara ditaksir mencapai Rp 193,7 trilirun, untuk tahun 2023 saja.

Kejaksaan Agung telah menetapkan tujuh tersangka, salah satunya Direktur PT Pertamina Patra Niaga, Riva Siahaan.

Investigasi Kejagung menemukan praktik lancung dalam pengadaan minyak mentah. Produksi minyak dalam negeri sengaja ditolak, diganti impor dengan harga yang telah dimanipulasi.

Akibatnya, subsidi BBM membengkak.

Penyidik juga menemukan praktik "blending" yang tidak biasa. RON 88 dan RON 90 (Pertalite) "dikemas" sebagai RON 92 (Pertamax).

Dalam bahasa bayi, BBM oktan rendah dijual dengan harga BBM oktan tinggi.

Narasi itu dibantah Pertamina. BUMN itu membantah dugaan pengoplosan. Bahwa blending adalah hal biasa.

Namun, masyarakat kadung marah. Dan, wajar bila warga mengait-ngaitkan kasus ini dengan fenomena sebelumnya. Ketika mekanik bengkel ramai-ramai merekomendasikan pengguna kendaraan bermotor untuk tidak membeli Pertamax. Sebab banyak ditemukan kasus kerusakan tangka bensin akibat konsumsi BBM berwarna biru pekat itu.

Menurut kamu, bagaimana cara mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada Pertamina?

Trust Issue

Gen Z Banjarmasin, Denil Fetriyan geram. Ulah koruptor semakin tak ngotak.

Bahkan sudah ada liganya. Kasus korupsi Pertamina menempati peringkat kedua, setelah korupsi PT Timah.

Dengan asumsi per tahun hampir 200 T, maka kerugian negara ditaksir nyaris mencapai satu kuadriliun alias 1000 triliun. Inilah mega korupsi.

"Satu kuadriliun, kalau dibanding sama penghasilan tahunan MU (Manchester United), kalah tuh sama penghasilan koruptor," sindir Denil, Jumat (28/2).

Ia menyayangkan, saat masyarakat mulai terbiasa memakai BBM non-subsidi, justru dikacaukan kasus ini.

"Andaikan ada merek lain, saya ingin pindah langganan," ujar pemuda 19 tahun itu.

Selain menghindari barang bersubsidi, Denil memilih Pertamax karena percaya bahwa kualitas pembakarannya baik untuk keawetan mesin.

"Dan ternyata isinya sama saja dengan pertalite. Rasanya sia-sia, padahal tadinya untuk perawatan mesin. Kecewa sekali," ungkapnya.

Menurutnya, akan sangat sulit bagi Pertamina untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat.

"Kecuali jika mereka berani membanderol BBM sebagus Pertamax Turbo dengan harga Pertamax biasa," seloroh mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat itu.

Kendati berdampak luas dan parah, Denil tak berharap banyak pada hukum di Indonesia. Seperti yang sudah-sudah, koruptor akan mendapat masa tahanan yang singkat.

"Hukumannya paling 6 tahun penjara, belum termasuk remisi dan berperilaku baik selama persidangan," ujarnya.

Senada dengan Muhammad Rizqi Al-Ghifari. Sekalipun ia berharap koruptor dihukum mati, gen Z Banjarmasin itu yakin proses hukum kasus ini bakal berujung mengecewakan.

"Giliran kasus masyarakat kalangan bawah diadili dengan keras," bandingnya.

Ia terkekeh dengan maraknya pembicaraan terkait klasemen Liga Korupsi Indonesia yang menyeret sejumlah BUMN dan kementerian.

"Memalukan sekali, ini aib negara. Anehnya, dalam setahun bahkan ada dua tiga kasus korupsi besar terungkap," sesalnya.

Rizqi meyakini bahwa mega korupsi ini juga mungkin saja menyeret banyak nama. Praktik curang ini tak jalan jika tak ada pelaku terstruktur.

"Sementara baru sembilan nama, mungkin seiring waktu terkuak nama-nama lainnya," tebaknya.

Kendati Pertamina telah membuat video klarifikasi, masyarakat sudah terlanjur trust issue. Rizqi pun kini beralih ke Pertamax Turbo. Sedikit lebih mahal ketimbang Pertamax, apalagi dibanding Pertalite.

"Semoga yang turbo tidak dicurangi juga," imbuh mahasiswa ULM itu.

Ia tak habis pikir, koruptor sampai hati menipu masyarakat hingga sebanyak itu.

"Angka yang fantastis. Satu kuadriliun bisa banget bikin Indonesia maju, bahkan proyek IKN (Ibu Kota Nusantara) pun bisa rampung," pungkas pemuda 19 tahun ini. 

Editor: Syarafuddin

Editor : Arief
#Pertamina #Korupsi #ZPEAK UP