BANJARMASIN - Udara sejuk menyelimuti Banjarmasin setelah dibasahi rintik hujan, membawa keteduhan bagi hati para jemaah yang menghadiri Haul ke-5 Ahmad Zuhdiannor atau Guru Zuhdi.
Acara ini digelar pada 26 Syakban 1446 Hijriah atau bertepatan dengan Selasa (25/5) malam.
Di wajah para jemaah, terpancar senyuman tulus. Mereka saling menyapa dengan hangat, seolah tak ada sekat.
Ada ribuan relawan yang sibuk melayani jemaah dengan semringah. Demi memastikan setiap tamu merasa diterima dan dihormati. Tidak ada kata pamrih, hanya niat tulus untuk menebar kebaikan. Ini sesuai ajaran Guru Zuhdi semasa hidupnya.
Di sepanjang jalan menuju lokasi haul, mudah menemukan meja-meja kecil yang di atasnya tersaji minuman, makanan, hingga gorengan hangat yang dapat dinikmati siapa saja. Semua disediakan dengan penuh keikhlasan.
Tak hanya di darat, layanan relawan juga terlihat di bantaran sungai. Beberapa kelotok disediakan untuk membantu para jemaah menyeberang dari Jalan Seberang Mesjid menuju titik utama acara.
"Ini sudah tahun kedua kami menyediakan penyeberangan," ujar Abdul Majid, salah satu relawan penyeberangan.
Ada tiga titik penyeberangan yang diatur dengan rapi, memastikan jemaah dapat sampai ke lokasi dengan lebih mudah.
Suasana ramah ini begitu membekas di benak Rizal, pria 32 tahun asal Depok, Jawa Barat.
Datang seorang diri ke Banjarmasin, ia mengaku kagum dengan keramahan warga yang selalu menyediakan segala keperluannya, mulai dari makan hingga tempat tidur.
"Saya diperbolehkan menumpang tidur di Masjid Jami Sungai Jingah ini. Bahkan untuk makan sehari-hari selalu ada saja rezekinya. Alhamdulillah," ujarnya.
Rizal rela menempuh perjalanan panjang, hanya untuk menghadiri haul ulama kharismatik di Kota Seribu Sungai ini. "Memang sudah ada niat untuk ke Kalimantan Selatan demi hadir di haul beliau," ungkapnya.
Berangkat melalui jalur laut lewat Surabaya, Rizal tiba di Banjarmasin pada 23 Februari 2025. Meski tak pernah bertemu langsung dengan Abah Guru Zuhdi, Rizal mengaku sangat mengagumi sosok ulama ini.
"Tahu beliau dari ceramah-ceramah yang saya lihat di media sosial. Apalagi beliau adalah anak didik Guru Sekumpul. Itu yang membuat saya terharu dan ingin sekali hadir di haul ini. Jadi, ini juga pertama kalinya saya ke sini," tuturnya.
Jemaah lainnya, Rusinah (65) rela datang dari Kapuas, Kalimantan Tengah, untuk hadir di haul ini. Ia datang berombongan dengan 14 orang, tiba di lokasi haul pada pukul 11 siang.
"Rasanya bahagia sekali bisa datang ke haul ini. Melihat keramahan warga Banjar, kami merasa diterima dengan baik," katanya.
Rusinah juga berharap kehadirannya di haul ini mendatangkan berkah. "Mudah-mudahan kami diberi umur Panjang, supaya bisa datang lagi di haul selanjutnya," harapnya.
Rangkaian acara haul dimulai sejak bakda Magrib hingga pukul 22.00 Wita. Dipenuhi dengan pembacaan salawat, zikir, tahlil, dan doa, suasana khidmat menyelimuti seluruh lokasi haul.
Menurut aparat kepolisian, jumlah jemaah yang hadir di zona utama lebih dari 150.000 orang.
Untuk menjaga kelancaran acara, sebanyak 1.000 personel keamanan diturunkan. "Secara keseluruhan, pelaksanaan haul berjalan aman dan lancar," kata Wakapolresta Banjarmasin, AKBP Arwin Amrih Wientama.
Haul ini menjadi bukti bahwa nilai keramahan, keikhlasan, dan kebersamaan yang tercermin di haul ini adalah warisan abadi dari sang ulama.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief