Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Dinkes Banjar Akui Kecolongan Kasus Diare

M Fadlan Zakiri • Kamis, 20 Februari 2025 | 07:14 WIB
Ilustrasi diare pada anak
Ilustrasi diare pada anak

MARTAPURA - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Banjar membantah terjadi lonjakan kasus diare. Meski pasien diare di RSUD Ratu Zalecha sudah mencapai puluhan orang.

Padahal berdasarkan data bulan Januari dan Februari 2025 ini saja, sudah ada 68 pasien menjalani perawatan di RSUD Ratu Zalecha karena terserang diare. Bahkan 32 pasien di antaranya harus rawat inap.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Kabid P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar, Marzuki mengatakan tidak ada kenaikan angka kasus diare di wilayahnya tahun ini. "Tetapi kami kecolongan karena ada yang sampai meninggal dunia,” katanya.

Benar saja, dari 68 kasus yang terdata, 2 pasien di antaranya meninggal dunia. Mirisnya kedua pasien meninggal dunia ini adalah bayi berusia 7 bulan dan 11 bulan asal Astambul dan Martapura.

Menurut Marzuki, kejadian ini dikarenakan kurangnya pengetahuan orang tua terkait kondisi dan penanganan penyakit pada anaknya. “Setelah kami telusuri, ada kurangnya pengetahuan dari orang tua si korban," jelasnya. “Bahkan mengaku tidak mengetahui apa itu oralit,” tambahnya.

Mirisnya, kata Marzuki, para orang tua si bayi mengira kondisi yang dialami anaknya wajar karena proses pertumbuhan. "Kami mengharapkan agar ibu-ibu mengandung atau yang sudah melahirkan agar datang saat ada posyandu. Di sana ada sosialisasi tentang anak,” harapnya.

Diketahui sebelumnya, dari 68 pasien yang tercatat RSUD Ratu Zalecha (Raza), 23 balita saat itu masih dirawat. Wakil Direktur RSUD Raza, Agus Dwi Karyanto membenarkan bahwa dua dari 23 anak yang dirawat di RSUD Ratu Zalecha memang meninggal dunia.

Itu terjadi lantaran saat tiba di rumah sakit sudah dalam keadaan dehidrasi parah. “Sampai di rumah sakit sudah dalam kondisi dehidrasi berat, karena tidak nafsu makan, tidak mau minum susu, dan buang air besar lebih dari 5 kali sehari," terangnya.

Agus menyampaikan, penyakit diare rentan terjadi pada balita apabila orang tua tidak peka terhadap kondisi anak-anaknya. Ia meminta agar hal ini patut jadi perhatian bagi para orang tua. Mengingat diare dapat menyebabkan dehidrasi hingga mengalami kematian.

“Pertolongan pertama diare bisa bikin larutan sederhana dari gula dan garam, atau biasa kita sebut oralit. Bisa untuk orang dewasa maupun anak-anak,” jelas Agus.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#Anak #dinkes #Banjar #kesehatan #Diare