Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

ZPEAK UP! PR Hard Level Wali Kota Baru Banjarmasin: Darurat Sampah

Tia Lalita Novitri • Sabtu, 15 Februari 2025 | 08:31 WIB
TPS LIAR: Eks TPS Pasar Kuripan di Jalan Veteran kembali dipenuhi sampah. Penutupan TPA Basirih memperparah kondisi TPS liar di Banjarmasin. Foto diambil Jumat (14/2) sore.
TPS LIAR: Eks TPS Pasar Kuripan di Jalan Veteran kembali dipenuhi sampah. Penutupan TPA Basirih memperparah kondisi TPS liar di Banjarmasin. Foto diambil Jumat (14/2) sore.

Pemerintah kota kelabakan. Penutupan TPA Basirih dua pekan lewat, membuat Banjarmasin berada dalam situasi darurat sampah. Banjarmasin tidak lagi "barasih wan nyaman".

     *****
SELAMA ini, "tong sampah" raksasa di Jalan Gubernur Subarjo, Banjarmasin Selatan, itu menampung 500 sampai 600 ton sampah per hari.

Setelah ditutup Kementerian Lingkungan Hidup pada 1 Februari 2025 lalu, sampah sebanyak itu terpaksa dibuang ke TPA Regional Banjarbakula di Banjarbaru.

Persoalannya, tempat pembuangan akhir di kota tetangga itu hanya menerima 105 ton per hari. Selebihnya, menumpuk di dalam kota.

Di mana-mana warga mengeluhkan hal yang sama. Sampah di tempat pembuangan sementara (TPS) sudah menggunung dan meluber ke jalan.

Paradoksnya, pelanggaran lingkungan itu sudah diperingatkan sejak akhir tahun lalu. Tapi pemko tidak berbenah, hingga akhirnya dihukum.

Apa dampak yang sudah kamu rasakan? Menurut kamu, apakah warga Banjarmasin bisa diajak memilah sampah sejak dari rumah?

Tak diragukan lagi, krisis sampah ini bakal menjadi pekerjaan utama—mungkin terberat—yang dihadapi pasangan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Banjarmasin terpilih, Muhammad Yamin dan Ananda setelah dilantik nanti.

Apa gebrakan mereka yang kamu tunggu?

Jangan Lama-Lama

Gen Z asal Banjarmasin, Deka Maulida melihat sendiri penumpukan sampah di TPS Jalan Veteran, Banjarmasin Timur. Biasanya, TPS itu tutup pada pagi hingga sore hari.

"Tapi kemarin, TPS itu terbuka dan sampahnya meluber hingga terlihat dari tepian jalan, padahal masih siang," tuturnya, Jumat (14/2).

Padahal kawasan itu berdekatan dengan mini market, kedai minuman dan camilan.

Serupa dengan yang terjadi pada TPS di kecamatan lain. Belum lagi munculnya TPS-TPS dadakan di kawasan yang tak seharusnya.

Di sebagian permukiman, tukang angkut sampah berlangganan tak sesigap biasanya. Apa mungkin karena TPS menggunung atau ada kendala lain? Who knows.

Yang pasti, situasi ini sangat memprihatinkan Deka. Dikatakannya, penutupan TPA Basirih berdampak buruk secara luar biasa.

"Populasi padat menghasilkan sampah yang banyak, maka harus punya TPA yang memadai. Tapi, apakah menutup TPA Basirih sudah tepat?" tanya dara 19 tahun itu.

Menurut mahasiswi Universitas Lambung Mangkurat ini, justru menjadi masalah baru, bahkan menjadi masalah besar. Ratusan ton sampah akan terus menumpuk di luar TPA Basirih yang tidak lagi beroperasi.

Sisi lain, jarak ke TPA Banjarbakula terlalu jauh. Jumlah truk sampah pemko juga terbatas. Belum lagi terbentur jam operasional. Pelik sekali.

"Melihat dampaknya pada Banjarmasin beberapa pekan belakangan, harusnya penutupan TPA Basirih ini dikaji ulang oleh pemerintah pusat," pinta Deka.

Deka pengin Banjarmasin percaya diri dengan slogannya "Barasih wan Nyaman". Sebelum kasus ini, penanganan sampah di Banjarmasin memang belum maksimal, gagal adipura, TPS liar juga di mana-mana. Tapi memang belum segawat saat TPA Basirih disegel.

Deka menaruh harapan besar kepada wali kota yang dilantik presiden pada 20 Februari nanti.

"Semoga keduanya (Yamin dan Ananda) mampu menemukan solusi terbaik, sebelum kondisi Banjarmasin semakin darurat," tutupnya.

Senada dengan Luna Naila, 19 tahun. Ia berharap pemimpin baru sigap menangani krisis ini.

"Bisa bernegosiasi dengan kementerian. Sampaikan bahwa Banjarmasin semakin darurat akibat dampak penutupan TPA," kata mahasiswa jurusan bahasa Inggris itu.

Menurutnya, TPA Basirih tak bisa ditutup berlama-lama. Karena akan berdampak luas pada masyarakat. TPS menggunung, sampah pasar menumpuk, TPS liar baru bermunculan, dan sampah berserakan di tepi jalan.

Dan, yang paling ditakutkan, masyarakat kembali membuang sampah ke sungai.

"Andaikan boleh, TPA Basirih jangan ditutup berlama-lama," harapnya.

Tetapi, Luna juga menyadari ini konsekuensi dari kebiasaan buruk masyarakat yang enteng membuang sembarangan dan tak disiplin memilah sampah.

Akhirnya, TPA Basirih yang uzur itu menyempit dan mendapat rapor merah.

"Kita memang sedang darurat sampah. Sampai sekarang pun masih banyak yang membuang sampah di selokan. Bikin mampat saluran air," ujarnya.

"Banjarmasin belum sepenuhnya bersih dan nyaman. Tingkat kebersihan lingkungannya belum merata," sesalnya.

Ia menilai, TPA Banjarbakula tidak efektif menjadi TPA alternatif. Kecuali, armada pengangkutan dan personel ditambah.

"Tapi tetap saja terlalu jauh. Tidak efektif dan takutnya malah jadi masalah baru di TPA sana."

"Lebih baik kembali pakai TPA Basirih, tetapi harus ditingkatkan baik pengelolaan ataupun kapasitasnya," pungkasnya.

Editor: Syarafuddin

Editor : Arief
#ZPEAK UP #banjarmasin #Sampah #Basirih