MARTAPURA - Terus bertambah jumlah sekolah yang terendam banjir akibat luapan Sungai Martapura di Kabupaten Banjar. Per tanggal 30 Januari 2025, Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Banjar mencatat ada 115 unit sekolah.
Angka tersebut merupakan akumulasi data sekolah terdampak banjir dari jenjang PAUD, SD, SMP dan sekolah paket yang berada di bawah naungan Disdik Kabupaten Banjar. “Semua sekolah yang terdampak banjir, sudah kami arahkan untuk menerapkan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh),” ungkap Kepala Disdik Kabupaten Banjar, Liana Penny, Kamis (30/1).
Jika dibandingkan dengan data pertengahan Januari tadi, kata Penny, jumlah sekolah yang kebanjiran tersebut bertambah 14 unit. “Penambahannya baru-baru ini saja terjadi. Tepatnya setelah semakin meluasnya wilayah yang tergenang banjir,” katanya.
Pemberlakuan PJJ ini bukan hanya untuk sekolah yang tergenang. Kebijakan ini juga diterapkan untuk sekolah yang aksesnya terdampak banjir. “Karena banjirnya tidak skala sekolah saja, namun sudah skala kawasan. Jadi kalau ada sekolah yang jalannya terendam, maka dipersilakan untuk PJJ,” katanya. “Kebijakan ini bersifat situasional,” tegasnya.
Jalan Keramat Lumpuh Total
Jalan Keramat yang menghubungkan Desa Keramat dengan Desa Tungkaran di Kabupaten Banjar, lumpuh total terendam banjir. Kondisi ini dikarenakan ketinggian air di atas jalan tersebut mencapai 50-60 sentimeter.
Bahkan, aparat desa setempat sampai memasang pagar dan pita peringatan (warning line), untuk menandai bahwa jalan tersebut tidak bisa dilalui oleh kendaraan roda dua maupun roda empat. Aparat Desa Tungkaran, Muhammad Rafy’i mengatakan penanda tersebut sengaja dipasang untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
“Kalau tidak dipasang penanda, banyak warga yang nekat menerobos banjir karena Jalan Keramat ini merupakan akses utama warga Desa Tungkaran menuju Kota Martapura,” ungkapnya
Di Tungkaran, kata Rafy'i, sebanyak 85 unit rumah dari dua RT yang terdampak banjir. Di RT 2 dan RT 3 dengan total 90 kepala keluarga. “Ada 360 jiwa terdampak banjir,” ujar Rafy’i.
Meski banjir sudah masuk ke lantai rumah, sebagian warga memilih mengungsi ke rumah keluarga. Sementara lainnya tetap bertahan di rumah masing-masing. “Ketinggian air tertinggi berada di RT 03, yang mencapai hampir 60 sentimeter,” terangnya.
120 Desa Sudah Terendam Banjir
Kondisi yang terjadi di Desa Tungkaran itu hanya satu di antara ratusan desa di Kabupaten Banjar yang terendam banjir. Berdasarkan data terakhir yang masuk ke BPBD Kabupaten Banjar, tercatat ada 120 desa dari 12 kecamatan yang masih kebanjiran.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banjar, Agus Siswanto mengatakan dari data tersebut terdapat 2.824 unit rumah, dengan total 25.757 KK dan 69.951 jiwa yang terdampak banjir.
“Kondisi cuaca buruk dengan intensitas hujan yang cukup tinggi masih terjadi di beberapa wilayah,” ungkapnya, Kamis (30/1).
Untuk ketinggian banjir, kata Agus, bervariasi. Namun, banjir yang paling tinggi terjadi di Kecamatan Martapura, Martapura Timur, Martapura Barat, dan Sungai Tabuk. “Kedalamannya sampai lebih dari 50 sentimeter,” katanya.
Agus mengungkapkan bahwa BPBD Banjar sudah semaksimal mungkin melakukan upaya penanganan bencana. Salah satunya dengan mengaktifkan Posko Siaga Batingsor (Banjir, Angin Puting Beliung dan Tanah Longsor). “Kami juga mendirikan posko terpadu di setiap kecamatan untuk penanganan bencana. Isinya ada posko Kesehatan, evakuasi, dan dapur umum,” tukasnya.
Bantuan untuk korban banjir juga sudah disalurkan ke semua wilayah terdampak.
Editor : Arief