Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Banjir = Bonus Penderitaan Untuk Warga Miskin Kota Banjarmasin

Riyad Dafhi Rizki • Senin, 20 Januari 2025 | 10:22 WIB
MENGUNGSI: Agus Radityono, warga Kompleks Beruntung Jaya, Banjarmasin Selatan, terpaksa tinggal di sebuah pondok darurat  sementara rumahnya terendam banjir.
MENGUNGSI: Agus Radityono, warga Kompleks Beruntung Jaya, Banjarmasin Selatan, terpaksa tinggal di sebuah pondok darurat sementara rumahnya terendam banjir.

Ketika banjir melanda, mereka yang berada di bawah piramida ekonomi, selalu menjadi pihak yang "terendam" duluan.

***
DI DALAM sebuah kios kecil di tepi Jalan Teluk Tiram Darat, Telawang, Banjarmasin Barat, Nur'ain duduk termenung di sudut kasur. Udara dingin masuk lewat celah-celah papan.

Di sampingnya, Taufiqqurahman, anaknya yang telah berusia 27 tahun terbaring lemah.
Polio merenggut kebebasan Taufiq sejak kecil. Membuatnya hanya bisa berada di peraduan. Ia tak bisa jauh-jauh dari ibu dan kursi rodanya.

Pertengahan Desember 2024, banjir kembali melanda Kota Banjarmasin, menambah derita Nur'ain.

Air perlahan merambat masuk lewat sela-sela lantai. Menggenangi kios yang juga menjadi tempat tinggal mereka.

Kasur Taufiq ditinggikan dengan ban-ban bekas agar tak basah. "Kalau air makin tinggi, bannya ditambah lagi," ujar Nur'ain pasrah.

Suami Nur'ain, Budi Widayanto, bekerja serabutan dengan penghasilan yang pas-pasan. Sering kali tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

"Pengin merenovasi tempat tinggal tidak ada uang," kata pria 53 tahun itu.

Di pinggiran kota lainnya, Agus Radityono tinggal sendirian di Jalan Hayam Wuruk, Kompleks Beruntung Jaya, Pemurus Dalam, Banjarmasin Selatan.

Belum cukup dengan masalah kesehatannya, Agus kini menghadapi banjir.

Sudah sepekan air masuk ke dalam rumah Agus hingga setinggi 10 cm.

"Sebenarnya banjir ini sudah berbulan-bulan, tapi yang masuk dalam rumah baru sepekan terakhir," katanya, kemarin (19/1).

Kini Agus memilih tidur di pondok darurat yang berdiri tak jauh dari rumahnya.

"Di rumah tidak punya ranjang, jadi lebih nyaman tidur di pondok," katanya.

Pondokan sederhana itu hanya diliputi terpal. Ada kasur kecil yang ditutupi kelambu, di sini lah tubuh Agus meringkuk setiap malam.

Sewaktu-waktu, para tetangga yang peduli mendatangi pondokan itu untuk bercengkerama dan menghibur Agus.

"Kalau hujan dan angin sedang kencang hanya bisa pasrah," katanya.

Harapan Nur'ain dan Agus sama, berharap pemerintah kota bisa mengambil langkah konkret untuk mengatasi banjir. Jangan sampai banjir menjadi agenda tahunan rutin.

Selain itu mereka berharap pemerintah juga dapat memberikan bantuan langsung kepada orang kecil yang terdampak.

"Kadang kami hanya bisa menunggu tanpa tahu harus mengadu ke mana. Kalau ada bantuan, walau sedikit, itu sudah sangat berarti," kata Agus.

10 Sampai 60 Cm

Kota Banjarmasin kembali menghadapi fenomena banjir rob pada bulan Desember dan Januari 2024.

Ketinggian air pada kejadian ini bervariasi, dari 10 sampai 60 cm, tergantung kondisi wilayah.
Rob kali ini disebut-sebut yang terparah sejak banjir besar awal 2021 lalu.

Banjir terjadi beberapa kali. Pertama berlangsung selama sepekan, pada 12-22 Desember 2024.

Banjir kembali datang pada 27 Desember 2024 sampai 7 Januari 2025. Lalu dari Selasa (14/1) hingga kemarin.

Polanya selalu sama. Air naik malam hari dan berangsur surut pada dini hari.

Namun di beberapa kelurahan, air tertahan tak kunjung surut, seperti di Pemurus Dalam, Pemurus Baru, dan Tanjung Pagar.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarmasin melaporkan, 41 dari 52 kelurahan di kota ini terdampak akibat banjir.

Editor: Syarafuddin

Editor : Arief
#Banjir #banjarmasin #kemiskinan #Sosial