BANJARBARU - Belakangan, hujan deras disertai cuaca ekstrem memicu bencana banjir di sejumlah wilayah di Kalsel. Berdasarkan data terakhir Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel pada Rabu (15/1), beberapa daerah terdampak banjir meliputi Banjarmasin, Tapin, Kotabaru, dan Banjar.
Di Banjarmasin, hujan deras menyebabkan beberapa titik tergenang dengan variasi ketinggian 5 sampai 20 centimeter. Sementara di Tapin, banjir rob terjadi di Kecamatan Candi Laras Selatan dan Kelurahan Raya Belanti dengan ketinggian air 20-30 cm.
Setidaknya ada 175 KK terdampak adanya banjir rob tersebut hingga mengganggu aktivitas sehari-hari. "Kini kondisi debit air di Tapin mulai menurun," ucap Plt Kepala BPBD Kalsel, Faried Fakhmansyah, Kamis (16/1).
Intensitas hujan tinggi dan pasang air laut juga memicu banjir di Kecamatan Pulau Laut Utara dan Pulau Laut Sigam, Tanah Laut. Lokasi terdampak meliputi Jalan Raya Stagen, Jalan Veteran, dan Jalan H Agus Salim. Meski tidak ada korban jiwa atau kerusakan signifikan, genangan air sempat mengganggu aktivitas warga.
Sedangkan di Kabupaten Banjar, ujar Faried, wilayah terdampak paling parah berada di Kecamatan Cintapuri Darussalam. Tercatat ada tiga desa yakni Alalak Padang dengan 410 KK terdampak, Karya Makmur ada 89 KK terdampak, serta Simpang Lima sebanyak 73 KK terdampak.
"Banjir juga melanda Kecamatan Gambut (14 KK) dan Kecamatan Sungai Tabuk (6 KK). Ketinggian air rata-rata mencapai 20-30 cm, dan genangan masih terjadi di beberapa lokasi," jelasnya.
BPBD Kalsel mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap potensi cuaca ekstrem dan pasang air laut maksimum dalam sepekan ke depan. Berdasarkan data BMKG, Prospek cuaca mingguan ini berlaku dari 15 hingga 21 Januari 2025, termasuk peringatan dini hujan lebat, angin kencang, dan pasang air laut maksimum.
Selain itu, BPBD memperingatkan potensi hujan disertai kilat dan angin kencang pada 15, 16, dan 20 Januari 2025 di hampir seluruh wilayah Kalsel. Sementara itu, hujan sedang hingga lebat diperkirakan terjadi pada 17-19 Januari 2025, dan mencapai puncaknya pada 21 Januari 2025 di wilayah Tanah Bumbu, Balangan, Tabalong, dan sekitarnya.
Nelayan, kapal tongkang, dan ferry diminta mewaspadai gelombang tinggi hingga 2,5 meter di perairan selatan Kalimantan (Laut Jawa) pada 18-21 Januari 2025. Pasang air laut maksimum diperkirakan mencapai 2,7 meter di perairan Muara Sungai Barito pada 15-18 Januari 2025, dengan puncak terjadi antara pukul 19.00-01.00 Wita. Kondisi serupa juga diperkirakan terjadi di perairan Kotabaru pada 15-19 Januari 2025, antara pukul 18.00-22.00 Wita.
"Masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya yang berada di wilayah pesisir dan daerah rawan banjir. Informasi lebih lanjut akan terus diperbarui melalui kanal resmi BPBD Kalsel," ucapnya.
BPBD Kalsel bersama tim gabungan TNI, Polri, dan relawan telah melakukan pengecekan serta pendataan warga terdampak. Laporan BPBD, debit air di sebagian besar lokasi mulai surut, dan warga secara bertahap dapat kembali beraktivitas.
Banjir Kembali Meluas
Curah hujan tinggi dalam dua hari terakhir di Kabupaten Banjar menyebabkan Sungai Martapura meluap. Akibatnya, banjir yang sebelumnya sempat surut, kini kembali bertambah dalam.
Bahkan dari informasi yang dihimpun, wilayah terdampak banjir di pertengahan Januari 2025 ini, semakin luas dibanding sebelumnya. Jumlah permukiman penduduk juga semakin banyak yang terendam akibat cuaca ekstrem.
Baca Juga: RDP Dengan LSM dan Dinas, Dewan HSU Sepakat Akan Bentuk Pansus Penanganan Banjir
Di Kecamatan Martapura Timur, misalnya. Tercatat sebanyak 178 rumah terendam banjir pada Kamis (16/1). “Rumah yang terendam banjir tersebut dari enam desa yang telah melapor,” ujar Camat Martapura Timur, Guslan Martin.
Guslan merincikan, Desa Akar Baru 16 rumah terdampak, Dalam Pagar 34 rumah terdampak, Keramat 8 rumah terdampak, Melayu Tengah 59 rumah terdampak, Pematang Baru 32 rumah terdampak, dan Sungai Kitano 32 rumah terdampak.
Menurut Guslan, banjir kali ini merupakan akumulasi curah hujan selama dua pekan. “Semoga masyarakat masih aman dan beraktivitas seperti biasa. Biasanya air naik, masyarakat perlu waspada terhadap hewan berbahaya dan aliran listrik,” imbaunya.
Kemudian di RT 2, Desa Tunggul Irang Ulu, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar setidaknya sudah merendam 20 rumah. Di sini, air banjir yang menggenangi rumah warga tampak keruh, karena tepat berada di bantaran Sungai Martapura. Genangan air di ruas jalan dari di atas mata kaki hingga di bawah lutut orang dewasa.
Ketua RT 2, Muhyidin mengatakan banjir tahunan ini sudah menjadi langganan warga setiap musim hujan. “Sebelumnya, banjir masih belum naik ke jalan, tapi sekarang sudah sampai lutut,” ujarnya, sembari menunjuk ke arah rumah-rumah warga yang terendam.
Muhyidin menerangkan bahwa hujan yang tidak kunjung reda sejak Selasa hingga Rabu malam, menjadi penyebab utama meluapnya Sungai Martapura. Ditambah dengan limpasan air turun dari gunung setelah hujan yang berangsur beberapa hari sebelumnya.
“Mulai jam 22.00 malam kemarin, air mulai naik. Sampai sekarang masih naik terus, tidak ada turunnya,” ungkapnya. Ia juga mengimbau warganya untuk waspada jika banjir bertambah tinggi.
Salah satu warga Desa Tunggul Irang Ulu, Saidah menceritakan saat air mulai naik langsung menyelamatkan barang-barang berharga ke tempat yang lebih tinggi. Ia berharap para warga mendapat perhatian dan bantuan segera dari pemerintah daerah.
“Kami berharap kepada pemerintah daerah untuk membantu warga yang lagi kesusahan akibat kebanjiran,” ucap Saidah.
Jembatan Hanyut dan Jalan Ambles
Hujan mengguyur wilayah Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) dari Kamis (16/1) pagi sampai sekitar pukul 11.00 Wita. Ini menyebabkan jembatan darurat hanyut terbawa arus sungai, dan juga terjadi abrasi jalan.
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD HSS, Kusairi mengatakan abrasi jalan terjadi di Simpang 3 Mawangi menuju Pariangan, Desa Batu Bini, Kecamatan Padang Batung. Sedangkan jembatan darurat hanyut terbawa arus sungai di Desa Hamak Utara, Kecamatan Telaga Langsat.
“Dua kejadian ini sudah kami sampaikan ke Dinas PUTR Kabupaten HSS. Supaya dapat ditangani selanjutnya,” ujarnya, Kamis siang.
Akibat hujan, debit air sungai naik. Menyebabkan jalan dan beberapa rumah di Desa Lok Binuang terendam sampai pelataran rumah. “Tapi sekitar jam 2 sudah mulai turun debit airnya,” katanya.
Camat Telaga Langsat, Sar Ifansyah mengatakan jembatan darurat itu hanyut terbawa arus sungai saat hujan sedang terjadi. Akibatnya, mengganggu warga yang akan berkebun. Meskipun jalur jembatan darurat bukan jalur utama, karena hanya jalan setapak.
“Menganggu aktivitas bagi warga yang akan berkebun di wilayah pegunungan. Warga harus memutar jalur lain,” katanya.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief