Laporan ini tidak bermaksud menebarkan ketakutan, tetapi sebuah alarm pengingat untuk menyadarkan kita.
****
SAHRIAH duduk di warungnya di tepi Jalan Kelayan B, Banjarmasin Selatan. Wajahnya tampak letih, mulutnya bergumam, seraya membuka tudung panci besar. Isinya, nasi kuning yang masih penuh.
"Gara-gara banjir, jualan nggak laku," keluhnya.
Pertengahan Desember 2024, banjir rob melanda. Jalan Kelayan B berubah menjadi sungai.
"Kalau nggak banjir, biasanya habis empat panci," ujarnya. “Tapi karena banjir, cuma laku dua panci."
Banjir telah "melarutkan" separuh penghasilan Sahriah. Bayangkan bila banjir terus menggenang selama sepekan.
"Orang-orang jadi malas masuk ke Kelayan. Takut motornya mogok,” ujarnya menghela napas.
Padahal, di warung itu ada enam pekerja yang menggantungkan hidup. Para karyawan Sahriah itu menatap panci-panci penuh itu dengan cemas.
Pada malam yang sama, Akhmad Fitriadi (45) terjaga di rumah kecilnya di Gang Simponi, Jalan Kelayan B. Matanya tak bisa lelap akibat air yang menyelinap dari sela lantai dan dinding kayu.
"Semakin malam, air kian tinggi. Merendam separuh rumah," katanya. Fitriadi segera memindahkan kasur ke ruangan yang lebih tinggi.
Ini bukan kali pertama rob merendam rumah mereka. "Pengin sih meninggikan rumah, tapi tidak ada biaya," ujarnya.
Akibat sering terendam, banyak perabot yang rusak. "Sudah tiga lemari hancur," katanya.
Paling menyebalkan adalah membersihkan lumpur setelah banjir mengering.
"Kalau banjir seminggu, ya selama seminggu juga bersih-bersih. Capek banget, tapi mau gimana lagi," keluhnya.
Saat berbincang dengan Fitriadi, Ahmadi (65) keluar memantau situasi.
"Puluhan tahun tinggal di sini, baru beberapa tahun terakhir langganan banjir. Ini mungkin yang paling parah," kata sang ketua rukun tetangga (RT).
Padahal, warga rutin saban Jumat gotong royong membersihkan selokan. "Tapi banjir tetap terjadi. Harapan kami ada tindakan nyata dari pemerintah untuk mengatasi banjir ini," kata Ahmadi.
Terparah Sejak 2021
Kota Banjarmasin kembali menghadapi fenomena banjir rob pada akhir 2024 sampai awal 2025. Ketinggian air bervariasi 10- 60 cm tergantung kondisi wilayah.
Ini yang terparah setelah banjir besar pada awal tahun 2021 silam.
Banjir terjadi dalam dua fase. Pertama berlangsung selama sepekan, 15-22 Desember 2024. Kedua, dari 27 Desember 2024 sampai 7 Januari 2025.
Polanya sama, air naik malam hari dan berangsur surut pada dini hari.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) melaporkan, 41 dari 52 kelurahan di kota ini terdampak rob.
"Dampaknya masih terbilang kecil," kata Kepala Pelaksana BPBD Banjarmasin, Husni Thamrin.
Banjir diprediksi kembali menyapa Banjarmasin pada pertengahan Januari, Februari, dan Maret 2025.
Meski tidak setinggi pada Desember, masyarakat tetap perlu waspada, karena musim hujan sedang memasuki puncaknya.
Prediksi Tahun 2050
Di masa mendatang, intensitas banjir di Kota Seribu Sungai diperkirakan kian meningkat.
Riset Climate Central, lembaga non-profit yang fokus pada isu perubahan iklim, memberikan gambaran suram tentang masa depan Banjarmasin.
Lewat peta interaktif, mereka menunjukkan bagaimana kenaikan permukaan laut akibat krisis iklim bisa memengaruhi kota-kota pesisir di Indonesia.
Peta interaktif ini dirancang menggunakan model CoastalDEM, yang memanfaatkan data radar satelit dari misi NASA pada tahun 2000.
Dengan bantuan teknologi machine learning, para ilmuwan memproses dataset tersebut untuk memproyeksikan perubahan ketinggian permukaan laut hingga beberapa dekade ke depan.
Pada 2050, rata-rata ketinggian air laut global diperkirakan akan meningkat hingga 18-33 cm.
Kondisi ini menempatkan Banjarmasin—saat ini 0,16 meter di bawah permukaan laut—dalam "zona merah".
Diperparah kondisi permukaan tanah Banjarmasin yang mengalami penurunan signifikan.
Kajian Pusat Pengembangan Infrastruktur Informasi Geospasial Universitas Lambung Mangkurat (PPIIG ULM) bersama Badan Riset Daerah (BRIDA) Kalimantan Selatan pada 2021 menyatakan, rata-rata tanah di kota ini turun antara 2,5 hingga 26,7 milimeter per tahun. Kelurahan Basirih di Banjarmasin Barat mencatat laju penurunan tercepat.
"Kondisi ini terjadi karena kontur lahan Banjarmasin yang rawa dan pembangunan yang massif," kata Ketua PPIG ULM, Syam'ani, belum lama ini.
Pembangunan mengabaikan kondisi geografis kota. Sebagian besar dibangun dengan metode urug lahan, alih-alih mengadopsi konstruksi panggung.
Akibatnya, banyak sungai di Banjarmasin tersumbat, bahkan mati. Dari total 290 sungai, sebanyak 95 sungai atau 32,76 persen masuk kategori sungai buntu.
Tak hanya itu, 47 sungai lainnya atau 16,21 persen kini tertutup bangunan.
Sebagai kota yang berada di wilayah hilir Kalsel, Banjarmasin juga menghadapi dampak serius dari kerusakan lingkungan di hulu. Seperti alih fungsi lahan, deforestasi, dan pertambangan ugal-ugalan.
Kawasan hulu yang dahulu dipenuhi hutan, kini banyak yang gundul, dan tidak lagi bisa menahan limpahan air.
Dari daratan, air hujan mengalir deras ke sungai, membawa erosi yang menyebabkan sedimentasi. Diperburuk kebiasaan masyarakat dan perusahaan yang membuang limbah ke sungai, menambah beban pendangkalan.
Alhasil, daya tampung sungai semakin berkurang. Saat hujan deras, sungai tak lagi mampu membendung debit air, sehingga meluap, dan menyebabkan banjir di permukiman.
Jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa intervensi serius, ancaman tenggelamnya Banjarmasin bukan lagi sekadar prediksi, melainkan realitas yang sulit dihindari.
Fokus ke Drainase
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Banjarmasin, Suri Sudarmadiyah mengatakan kondisi geografis kota yang berada 0,16 meter di bawah permukaan laut membuat kota ini rentan.
Ia menepis anggapan PUPR kurang serius. "Kami telah menyusun master plan terintegrasi untuk mengatasi permasalahan ini," katanya.
Seperti pembangunan dan pemeliharaan drainase. "Hasil kerja kami bisa dilihat dari genangan yang lebih cepat surut," ujarnya.
Sepanjang tahun anggaran 2023, PUPR membangun drainase sepanjang 4.254 meter di 51 lokasi. Total anggaran yang dialokasikan mencapai Rp14,7 miliar.
Sementara pada 2024, program pembangunan drainase mencakup 2.679 meter di 35 lokasi dengan alokasi anggaran mencapai Rp10 miliar.
Belum termasuk proyek rekonstruksi trotoar dan drainase di tiga ruas jalan utama—Hasanudin HM, Lambung Mangkurat, dan Pangeran Samudera—yang menghabiskan Rp18,8 miliar.
Pada tahun 2025 ini, PUPR merencanakan pengerjaan sejumlah proyek pemeliharaan drainase.
Mencakup Kawasan Dharma Praja dengan 421 meter dan anggaran Rp1,7 miliar, Cempaka Besar dengan 281 meter dan Rp940 juta, Cempaka Raya dengan 327 meter dan Rp1,1 miliar, Kompleks Semanda dengan 115 meter dan Rp484 juta, Kelayan B dengan 177 meter dan Rp400 juta, Cendana III dengan 195 meter dan Rp440 juta, dan Simpang Gusti dengan 120 meter dan Rp401 juta.
"Kami telah menyiapkan total pagu anggaran sebesar Rp15.111.588.242, termasuk biaya rutin untuk operasi pemeliharaan drainase," beber Suri.
Di samping itu, sebanyak 20 sungai telah dinormalisasi dengan total biaya mencapai Rp3,7 miliar pada 2023.
Lalu untuk 2024, PUPR menormalisasi 22 sungai dengan anggaran sebesar Rp 3,1 miliar.
Selain upaya normalisasi, PUPR juga tengah membangun pompa dan pintu air di Sungai Belasung dengan anggaran Rp5 miliar.
Banjarmasin juga menjadi salah satu kota di Indonesia yang dikucuri dana hibah senilai Rp1 triliun dari Bank Dunia melalui program National Urban Flood Resilience Project (NUFReP).
Proyek ini digarap Balai Wilayah Sungai Kalimantan III. Fokusnya adalah normalisasi Sungai Veteran.
Suri mengakui tidak mudah merawat sungai untuk menghalau banjir. "Sebab bangunan di atas bantaran sungai juga harus ditertibkan," ujarnya.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief