BANJARMASIN – Haul Guru Sekumpul di Martapura, Ahad (5/1) malam, menjadi magnet jutaan jemaah.
Namun, di tengah lautan manusia yang hadir untuk berdoa dan berselawat, tampak pemandangan kurang elok di beberapa sudut jalan.
Pantauan Radar Banjarmasin, tak sedikit yang mungkin datang hanya karena ikut-ikutan tren.
Tidak terlihat khidmat atau khusyuk. Mereka sibuk bercanda, bermain ponsel, atau membuat konten untuk diunggah di media sosial.
Belum lagi sampah sisa makanan dan bungkus minuman yang dibuang berserakan.
Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalimantan Selatan, Nasrullah AR menyayangkan, niat awal yang mulia malah tidak sejalan dengan perilakunya.
Nasrullah berharap jemaah haul dapat mendalami pesan-pesan yang disampaikan almarhum Kiai Muhammad Zaini bin Abdul Ghani semasa hidup.
"Jangan sekadar hadir untuk meramaikan acara," pesan, Ahad (5/1).
Antropolog Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Nasrullah melihat fenomena ini sebagai dampak dari tren budaya populer di era digital.
Menurutnya, smartphone dan medsos telah memengaruhi cara masyarakat memaknai haul.
"Beberapa orang salah kaprah memandang haul hanya dari keramaiannya. Mereka berlomba-lomba mem-posting momen di medsos, seolah-olah eksistensi mereka diukur dari seberapa sering muncul di dunia maya," jelasnya.
Menurutnya, fenomena ini mirip dengan kutipan klasik yang diungkap filsuf Rene Descartes, "Aku berpikir maka aku ada," yang kini bergeser menjadi "Aku bermedsos maka aku ada."
Atau, dalam bahasa kekinian, fear of missing out (FOMO). Takut ketinggalan tren atau update.
"Ini adalah bentuk keranjingan bermedia sosial," tegasnya.
"Padahal, haul adalah waktu untuk refleksi, mendalami ajaran, dan mempererat rasa cinta kepada Guru Sekumpul. Jangan sampai makna spiritualnya hilang karena obsesi terhadap citra di medsos."
Ia mengimbau masyarakat untuk kembali ke inti acara haul yang penuh makna religius.
"Haul bukan sekadar momen untuk dilihat, tetapi juga untuk dirasakan dengan hati," tutup Nasrullah.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief