MARTAPURA – Dua jalur alternatif menuju Sekumpul tergenang menjelang Haul Ke-20 Abah Guru Sekumpul. Tepatnya di Desa Keramat dan Tungkaran, Kabupaten Banjar.
Itu karena tingginya intensitas curah hujan dan air pasang. Jalan tersebut memang sudah menjadi langganan banjir setiap tahun.
Warga Desa Keramat Baru, Arbayah mengatakan daerah di Martapura Timur tersebut memang sering terjadi banjir. Bahkan di 2021 lalu, tidak bisa dilewati. “Setiap kali air Sungai Martapura mengalami kenaikan, apalagi ditambah hujan dengan intensitas tinggi, pasti banjir,” ucapnya, Kamis (2/1).
Arbayah berharap agar pihak pemerintah bisa segera bertindak menanggulangi dengan cara meninggikan jalan tersebut. “Kami ingin agar ada peninggian jalan di sini, karena akses jalan tersebut merupakan jalan buat peziarah yang menuju ke makam Guru Banjar Indah, Datu Bagul, dan banyak makam ulama-ulama besar lain di wilayah Tungkaran,” harapnya.
Apalagi setiap peringatan Haul Abah Guru Sekumpul, jalan ini menjadi jalur alternatif bagi para jemaah untuk sampai ke Sekumpul, Martapura. “Kalau masih banjir seperti ini, motor jemaah tidak bisa lewat sini karena kedalaman banjir,” ujarnya.
Banjir di Desa Keramat Baru juga mengganggu perekonomian warga di sana. Tak sedikit pedagang hanya bisa mengelus dada saat luapan air Sungai Martapura membanjiri jalanan di desa mereka.
Salah satunya adalah Imis. Pedagang umpan dan alat pancing ini sudah dua pekan, tidak ada pemasukan. Padahal sebelum banjir, rata-rata uang yang terkumpul dari jualannya itu bisa tembus sampai Rp400 ribu per hari. “Seribu rupiah pun belum ada,” banding Imis.
“Selain saya, ada banyak pedagang kecil lain yang juga sangat terdampak. Gara-gara banjir, kami tidak bisa dagang seperti biasanya,” ujarnya.
Menurutnya, wajar kalau warga di sana meminta perlu dilakukan peninggian badan jalan. “Supaya tidak lagi tergenang banjir,” tambahnya.
Keinginan yang sama juga disampaikan Risa, warga Desa Bincau Muara, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar. Perempuan 22 tahun ini mengatakan sejumlah ruas jalan di desanya yang jadi akses jemaah menuju Sekumpul juga sudah terendam banjir. Salah satunya adalah Jalan Melati.
Ketinggian air di jalan tersebut, kata Risa, sudah sampai lutut orang dewasa. “Air mulai menggenangi jalan pada Senin (30/12) lalu. Saat itu, hanya di atas mata kaki, sekarang sudah hampir setengah meter,” kata Risa.
Akibat banjir tersebut, Risa yang bersekolah di Darussalam Martapura terpaksa harus memutar melewati Jalan Tambak Baru. Ini perlu waktu lebih lama.
Risa berharap banjir segera surut. Mengingat, acara peringatan momen 5 Rajab nanti hanya tinggal beberapa hari lagi. “Semoga bisa cepat surut. Kasihan para jemaah yang ingin ke acara Haul Sekumpul,” ujarnya.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief