Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Luapan Sungai Martapura Meluas, Beberapa Warga Sudah Mengungsi, Diduga karena Krisis Lingkungan di Hulu

M Fadlan Zakiri • Kamis, 2 Januari 2025 | 11:00 WIB
MOGOK : Sejumlah motor warga mendadak mati akibat nekat menerjang tingginya genangan banjir di jalan penghubung Desa Tungkaran dan Desa Keramat Baru, Kabupaten Banjar, Rabu (1/1/2025)
MOGOK : Sejumlah motor warga mendadak mati akibat nekat menerjang tingginya genangan banjir di jalan penghubung Desa Tungkaran dan Desa Keramat Baru, Kabupaten Banjar, Rabu (1/1/2025)

MARTAPURA - Tingginya intensitas hujan yang mengguyur wilayah Kabupaten Banjar, membuat ancaman banjir semakin nyata. Terlihat dari luasan dan jumlah titik genangan dari luapan Sungai Martapura.

Tidak hanya di bantaran Sungai Martapura, di awal tahun 2025 ini banjir juga sudah mulai merendam permukiman penduduk di sejumlah desa.

Di Kecamatan Martapura, misalnya. Hasil pantauan di lapangan, setidaknya ada sembilan desa yang sudah terdampak banjir. Seperti Desa Bincau, Bincau Muara, Labuan Tabu, Tunggul Irang, Murung Kenanga, Murung Keraton, Tanjung Rema, Sungai Sipai, dan Keramat Baru. Ketinggian air di desa-desa tersebut beragam, mulai dari 5 hingga 50 cm.

Tidak hanya badan jalan, air luapan Sungai Martapura mulai menggenangi permukiman penduduk, dan sejumlah fasilitas umum lainnya. Seperti yang terjadi di RT 12, Desa Bincau. Hendra mengatakan ketinggian banjir di kompleks perumahan yang ditinggalinya sudah melebihi lutut orang dewasa.

“Lebih setengah meter tingginya. Makanya beberapa warga yang rumahnya rendah terpaksa mengungsi gara-gara air sudah masuk ke dalam,” ungkapnya, Rabu (1/1).

Diakui Hendra, banjir di tempat tinggalnya ini sudah terjadi sejak 26 Desember 2024 lalu. Selama sepekan, ketinggian air terus bertambah. “Apalagi kalau hujan, sangat cepat naiknya,” katanya.

Selain banjir besar di awal tahun 2021 lalu, banjir kali ini termasuk cepat bertambah tingginya. Padahal intensitas hujan yang terjadi tidak separah tahun-tahun sebelumnya.

Ia menduga kondisi banjir terjadi karena pengaruh krisis lingkungan di bagian hulu. Salah satunya di Kecamatan Karang Intan dan Pengaron. “Sekarang di sana ada banyak tambang. Resapan di bagian hulu sudah banyak yang rusak. Jadi air langsung mengalir ke sungai, makanya gampang meluap,” tukasnya.

Ia berharap intensitas hujan bisa mereda. Jika tidak, akan ada banyak desa lainnya yang juga ikut terendam.

Luapan Sungai Martapura ini ternyata juga terjadi di Desa Antasan Sutun. Pembakal di desa tersebut, Kurtubi mengatakan beberapa rumah warganya sudah mulai digenangi banjir.

“Di sini (Desa Antasan Sutun, red) adalah wilayah terakhir yang terdampak banjir jika Sungai Martapura meluap. Jadi kalau di tempat kami sudah ada rumah yang tergenang, artinya ketinggian air sebelum di desa kami jauh lebih parah,” bandingnya.

Salah satu desa yang dimaksud Kurtubi itu, adalah Desa Keramat Baru, Kecamatan Martapura. Di sini banjir sampai merendam badan Jalan Makam di desa tersebut hingga 60 Cm.

Kondisi ini memaksa warga yang ingin menuju Desa Pekauman untuk memutar melalui Jalan Desa Sungai Sipai. Tentu memakan waktu lebih lama. Mengingat Jalan Makam merupakan akses utama menuju Desa Tungkaran, Cindai Alus dan Sungai Sipai.

Banyak pengendara motor yang nekat menerobos banjir. Akibatnya mengalami mogok karena mesin terendam air.

Terpantau, warga setempat memasang tanda peringatan berupa kayu untuk memberitahu pengendara bahwa air di lokasi tertentu cukup tinggi.

Salah seorang warga, Imis (48) menjelaskan bahwa banjir sudah terjadi hampir sebulan. “Air mulai menggenang jalan sudah setengah bulan. Namun, kenaikan air yang signifikan terjadi sejak tiga hari terakhir,” ungkapnya.

Imis menambahkan, ketinggian air akan semakin bertambah jika hujan terus turun. Ia berharap Pemerintah Kabupaten Banjar segera mengambil langkah untuk meninggikan jalan tersebut.

“Kalau bisa, jalan ini ditinggikan supaya orang yang ingin berziarah ke makam ulama tidak terhambat banjir,” harapnya.

Imis juga menjelaskan pemasangan tanda peringatan ini untuk memperlambat laju kendaraan. Supaya gelombang air tidak masuk ke rumah warga. “Banyak motor warga yang nekat melewati jalan ini, malah mogok di tengah banjir,” tutup Imis.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#Banjir #Banjar #genangan #Sungai