BANJARMASIN - Pasca kematian mendadak puluhan ton ikan bawal di keramba-keramba Banua Anyar, dinas terkait mengambil sampel air Sungai Martapura di kawasan Banjarmasin Timur itu.
Uji kualitas air dilakukan Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Kelautan dan Perikanan Kalimantan Selatan.
Koordinator Penyuluh Perikanan Kota Banjarmasin, Roslina mengungkap hasil pengujian menunjukkan terjadinya perubahan signifikan pada sejumlah parameter kualitas air.
Inilah yang diduga menyebabkan kematian ikan secara massal pada Jumat (13/12) tersebut.
Temuannya, penurunan kadar oksigen terlarut (DO) yang hanya 3,1 mg. Sementara kadar normal untuk budidaya ikan berada di rentang 4 sampai 8 mg per liter.
Tak hanya itu, kadar karbondioksida dalam air juga meningkat drastis. Normalnya, kadar CO2 untuk budidaya ikan berada di angka 15 mg, namun kali ini melonjak hingga 30 mg per liter.
"Kekurangan oksigen ini diduga membawa ikan bawal yang lebih rentan stres kepada fenomena kematian massal," katanya, Senin (16/12).
Faktor lain adalah kadar zat besi (Fe) dalam air. Untuk budidaya ikan, batas aman zat besi adalah 0,3 mg, tetapi pengujian menunjukkan lonjakan hingga 1 mg per liter.
Kabid Pengawasan DLH Banjarmasin, Ernawati mengatakan perlunya pengujian lebih lanjut untuk memastikan apakah sungai telah tercemar material asing.
"Perlu pengecekkan lebih lanjut. Nanti Rabu (18/12) kami coba uji lagi," ujarnya.
Namun, ia ragu pencemaran dari material asing menjadi penyebab utama.
Alasannya, jika benar tercemar, maka seharusnya semua ikan di sungai, bukan hanya di keramba, juga ikut mati.
"Sementara yang mati hanya ikan dalam keramba, itu pun jenis tertentu seperti bawal dan nila," tambahnya.
Sehingga dugaan kuatnya adalah penurunan kadar oksigen yang signifikan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Banjarmasin, Yuliansyah Effendi mengingatkan peternak agar lebih memperhatikan masa panen, khususnya bagi ikan jenis tertentu.
"Mengingat fenomena ini sebenarnya berulang tiap kali memasuki musim hujan," ujarnya.
Ia juga menyarankan pemilik keramba untuk memasang pipa udara di bawah air guna meningkatkan pasokan oksigen.
"Cara ini diharapkan bisa mencegah kematian ikan jika kadar oksigen sungai tiba-tiba menurun," tutupnya.
Sebelumnya, puluhan ton ikan bawal yang dibudidayakan dalam jaring apung (keramba) di sepanjang Sungai Martapura, Banua Anyar, Banjarmasin Timur, ditemukan mati, Jumat (13/12).
Kejadian yang terjadi secara tiba-tiba ini menimpa tujuh kelompok tani. Perhitungan kerugian mencapai Rp880 juta dengan jumlah ikan mati sekitar 40 ton.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief