BANJARMASIN - Sempat satu malam diinapkan di Rumah Singgah Baiman milik Dinas Sosial Banjarmasin, Annisa (26) diantar pulang ke rumah keluarga.
Annisa adalah perempuan disabilitas yang ditemukan duduk sendirian di atas kursi roda di trotoar Jalan Ahmad Yani km 5, Selasa (10/12) siang.
Petugas Dinsos mengantarkan Annisa ke rumah mertuanya di Sungai Tabuk, Banjar.
"Sebelumnya, suami korban datang ke kantor kami menanyakan keberadaan istrinya. Dia datang pagi sekali," kata pekerja sosial Achmad Safaruddin, Rabu (11/12).
"Nama suaminya Ali Rahman (48). Tadi kami antar sekitar pukul 10 pagi," tambahnya.
Ali pun diinterogasi petugas. Dia mengaku mengetahui keberadaan sang istri dari kerabat yang tinggal di Landasan Ulin, Banjarbaru, setelah melihat rekaman Annisa yang viral di media sosial.
"Pengakuannya, dia sudah dua hari berada di Martapura untuk masalah pekerjaan. Entah itu dalihnya saja atau memang demikian," kata Safaruddin.
Menjadi pertanyaan, siapa yang memesan taksi online dengan order menurunkan Annisa di pinggir jalan.
"Siapa yang memesan taksi online itu? Kami belum dapat informasi. Tapi suaminya menjawab tidak tahu sama sekali," ujarnya.
Fakta menarik, Annisa ternyata bukan "wajah asing". Dalam data Dinsos, perempuan bernama lengkap Annisa Munzilah itu pernah diasesmen Dinsos pada 2018 silam.
Annisa juga pernah diamankan Satpol PP dan Dinsos kabupaten tetangga, di Tanah Laut dan Tanah Bumbu.
"Sebelumnya juga diamankan Satpol PP Kapuas. Teman kami di sana mengabari, kalau kejadiannya juga begini. Sama dengan suaminya si Ali," beber Safaruddin
Nana Mariana, pendamping rehabilitasi sosial Dinsos Banjarmasin, adalah yang mengasesmen Annisa beberapa tahun lalu.
"Kami tidak mengerti, kenapa Ali Rahman ini mau menikahi Annisa? Maksud saya, padahal sudah melihat dan mengetahui kondisinya. Apakah karena kasihan atau ada motif lain, ada niat tidak baik sama Annisa," ujarnya.
Tak hanya itu, Nana juga mengetahui Ali berpoligami, setahun setelah menikahi Annisa.
"Dahulu (Annisa) pernah dimanfaatkan untuk mencari uang. Dia disuruh jualan kerupuk bersama anak dari istri kedua Ali. Jualan keliling," bebernya.
Kondisi disabilitas itu bawaan sejak lahir. Annisa hanya memiliki seorang saudara, kedua orang tuanya sudah meninggal.
"Dia punya saudara perempuan, tapi kami tidak tahu keberadaannya di mana," ujarnya.
"Annisa mengalami lumpuh otak atau sering disebut cerebral palsy. Jadi sulit diajak berkomunikasi," sambung Nana.
"Annisa sempat tinggal di Gang Halim, Jalan Veteran, lalu pindah mengontrak ke Gang Sepakat. Terakhir pindah lagi ke rumah mertuanya."
Jadi, apa solusinya? Safruddin dan Nana menjawab, andaikan keluarganya tak ditemukan, kondisi Annisa bisa dikoordinasikan Dinsos ke Kementerian Sosial.
Ditolong lewat program residensial. "Direkomendasikan untuk dititipkan dan menjadi tanggungan negara," jawab keduanya kompak.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief