Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Hama Tikus Masih Jadi Ancaman Pertanian Di Kabupaten Banjar, Diajari Begini Cara Mengatasinya

M Fadlan Zakiri • Sabtu, 23 November 2024 | 10:39 WIB
FOTO BERSAMA: Penyuluh Pertanian dari Distan bersama para petani Desa Bunipah Kecamatan Aluh-Aluh Kabupaten Banjar
FOTO BERSAMA: Penyuluh Pertanian dari Distan bersama para petani Desa Bunipah Kecamatan Aluh-Aluh Kabupaten Banjar

MARTAPURA – Dinas Pertanian (Distan) Banjar terus berupaya keras mengendalikan hama tikus. Mengingat serangan hewan pengerat tersebut masih jadi ancaman bagi sektor pertanian di Kabupaten Banjar.

Kepala Bidang Pengendalian dan Penanggulangan Bencana Pertanian di Distan Banjar, Imelda Rosanty mengakui bahwa hama tikus harus diberantas. “Hama tikus masih jadi hama utama di Kabupaten Banjar,” ungkapnya saat dikonfirmasi, Jumat (22/11) petang.

Menurutnya, hama tikus ini dapat menyebabkan kerusakan pada tanaman padi, sehingga berdampak pada penurunan produksi. Ancaman itu, ungkap Imelda, terlihat jelas ketika petugas penyuluh pertanian dari Distan Banjar melaksanakan program Gerakan Pengendalian (Gerdal) Hama Tikus dalam dua hari terakhir. Tepatnya di Desa Bunipah Kecamatan Aluh-Aluh pada Kamis (21/11), dan Desa Sungai Batang Kecamatan Martapura Barat pada Jumat (22/11).

Selama kegiatan para petani diberikan edukasi mengenai siklus hidup tikus, jenis-jenis perangkap efektif, serta cara pembuatan umpan yang menarik bagi tikus.

Tidak hanya sebatas menyampaikan teori, anggota Kelompok Tani Suka Jadi di Desa Bunipah juga diajak untuk mempraktikkan teknik pemasangan perangkap tikus, sekaligus pengaplikasian rodentisida yang diajarkan penyuluh.

Hasilnya, lebih dari 200 ekor tikus berhasil ditangkap dalam empat jam proses pembasmian hama.

“Hasil ini dirasa cukup memuaskan. Jadi selain teori, kami juga mengajak petani di sana untuk terlibat langsung dalam pengendalian hama tikus,” ungkapnya.

Cara seperti ini, kata Imelda, sudah diajarkan secara masif kepada kelompok tani di Kabupaten Banjar. Supaya mereka mampu mengendalikan hama tikus secara mandiri dan berkelanjutan.

“Hama tikus memang menjadi masalah klasik yang dihadapi petani. Kita harus bertindak cepat dan tepat untuk mencegah kerugian yang lebih besar," katanya.

Waktu sebelum masuk masa tanam seperti sekarang ini, kata Imelda, paling tepat melaksanakan gropyokan atau begarit tikus. “Pada masa ini, tikus sedang lapar karena tidak ada makanannya. Jadi mudah dalam membasmi tikus,” katanya.

“Menangkap 1 ekor tikus betina sama dengan mengurangi potensi serangan 35 ekor tikus di sawah,” tambah Imelda.

Ia berharap agar penyuluhan seperti ini dapat diaplikasikan secara rutin oleh petani untuk mengatasi masalah hama tikus di Kabupaten Banjar.

"Kita tidak hanya fokus pada pengendalian, juga pada upaya pencegahan. Dengan berbagai upaya yang kita lakukan, diharapkan masalah hama tikus dapat teratasi secara berkelanjutan," tegasnya.

Sektor pertanian merupakan salah satu sektor penyumbang terbesar dalam membentuk perekonomian di Kabupaten Banjar. Berdasarkan data Kabupaten Banjar Dalam Angka yang diterbitkan BPS Banjar pada awal tahun tadi, jumlah produksi padi di Kabupaten Banjar tercatat sebanyak 106.100 ton dari 34,11 hektare sawah yang panen selama tahun 2023.

Jumlah ini menunjukkan penurunan produksi dibandingkan tahun sebelumnya. Sebab di tahun 2022, total padi yang berhasil dipanen sebanyak 127.140 ton.

Kemudian di tahun 2021 sebanyak 135.600 ton, dan 166.020 ton di tahun 2020.

Dari hasil pendataan, penurunan ini dikarenakan gagal panen akibat banjir dan serangan hama selama tahun 2023. Termasuk di antaranya adalah tikus.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#tikus #pertanian #Banjar #hama