BANJARMASIN – Tempat pembuangan sementara (TPS) di depan Pasar Baimbay, Jalan Kelayan B, Banjarmasin Selatan, kembali dikeluhkan warga.
Tumpukan sampah yang meluber hingga ke badan jalan menjadi pemandangan sehari-hari.
Akibatnya, jalan selebar empat meter itu kerap sulit dilalui kendaraan bermotor.
Ditambah bau menyengat yang membuat pedagang dan pembeli risih.
Salah seorang warga, Syaifuddin mengatakan masalah ini diperparah oleh kebiasaan warga kelurahan tetangga yang ikut membuang sampah di TPS tersebut.
"Sampah ini tidak hanya datang dari warga Kelayan Timur, tapi juga dari warga kelurahan luar," ungkapnya, Kamis (21/11).
Kian runyam karena tumpukan sampah itu sering dihamburkan pemulung.
"Pemulung juga memperburuk keadaan. Sampah yang terbungkus diobrak-abrik hingga berserakan," ujarnya.
Ini bukan masalah baru, tapi sudah bertahun-tahun dirasakan warga Kelayan Timur.
"Kurang lebih sudah 5 tahun kami harus menghadapi kondisi begini," ujar Ifit, pedagang buah yang berjualan tepat di seberang TPS tersebut.
Ifit menyebut keberadaan TPS itu berdampak langsung pada usahanya. Bau tak sedap membuat pembeli enggan mendekati lapaknya.
"Mau beli buah jadi malas. Padahal ini mata pencaharian utama saya," keluhnya.
Makin menjadi-jadi pada malam hari. Sampah yang meluber kerap menutup lebih dari separuh badan jalan, memaksa Ifit menutup lapak lebih awal dari biasanya.
"Dulu bisa jualan sampai pukul 20.00 Wita. Sekarang paling lambat pukul 17.00 Wita sudah harus tutup," jelasnya.
Menurut Ifit, tidak hanya dirinya yang merasakan dampaknya. Sejumlah pedagang makanan yang dulu berjualan di sana telah memutuskan pindah.
"Di sini tidak bisa lagi jualan makanan karena ada sampah," ujarnya.
Dikonfirmasi, Kepala Bidang Kebersihan dan Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banjarmasin, Marzuki menegaskan TPS di Kelayan Timur tersebut bukan TPS liar.
"Dulu memang liar, tetapi karena banyak warga dari beberapa kelurahan seperti Kelayan Tengah, Kelayan Dalam, dan Kelayan Timur yang membuang sampah di sana, maka kami jadikan TPS resmi," jelas Marzuki, kemarin malam.
Ia mengatakan, jika TPS tersebut ditutup tanpa alternatif, akan muncul masalah baru.
"Dikhawatirkan warga malah membuang sampah ke sungai. Itu yang tidak kita inginkan," katanya.
Jika terjadi penumpukan, Marzuki menyalahkan warga yang terbiasa membuang sampah di siang hari. Di luar jam yang telah ditentukan.
"Biasanya sampah langsung diangkut habis setiap hari. Namun ada hari-hari tertentu ketika sampah meluber," ujarnya.
Faktor lain, armada angkutan sampah yang mengalami gangguan teknis.
Terakhir, akibat cuaca. Hujan deras atau banjir rob di malam hari, membuat warga menunda membuang sampah hingga keesokan harinya.
"Ini fenomena yang sering terjadi, terutama di saat kondisi cuaca ekstrem seperti beberapa hari terakhir," tambahnya.
Lantas apa solusinya? Sama seperti sebelumnya, Marzuki kembali mengangkat program Surung Sintak.
Program ini menyediakan angkutan sampah selama dua jam di satu lokasi, terutama di wilayah yang tidak memiliki TPS atau TPS-nya jauh.
Namun, program ini terkendala karena belum tersedia lahan untuk menempatkan armada angkutan.
"Kami sudah rapat dengan lurah dan petugas kebersihan sebulan lalu, tetapi hingga kini lokasinya belum ditemukan," ungkapnya.
Jika lahannya tersedia, DLH berencana menutup TPS di depan Pasar Baimbay.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief