BANJARMASIN – Kondisi tempat pembuangan sementara (TPS) di Jalan RK Ilir, Banjarmasin Selatan, semakin memprihatinkan.
Nyaris setiap hari, tumpukan sampah meluber ke jalan. Menimbulkan bau menyengat dan genangan becek, terutama setelah hujan.
Kondisi TPS itu sangat mengganggu warga sekitar. Petugas pembuang sampah di kawasan Kelayan, Ruslan menceritakan puncak penumpukan sampah biasanya terjadi pada malam hari.
Tepat sebelum diangkut armada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banjarmasin.
"Saya biasanya membuang sampah kemari sekali sehari, biasanya siang,” kata Ruslan, Kamis (7/11).
Ditambahkannya, sekitar 25 petugas rutin membuang sampah ke TPS RK Ilir. Satu orang petugas bisa membuang sampah hingga 2-3 kali dalam sehari.
Akibatnya sampah menggunung dan meluber. "Kadang ada juga orang luar yang membuang sampah kemari, bahkan sampah kain-kain bekas,” tambahnya.
Salah seorang pemulung, Liling mengatakan tumpukan sampah di TPS itu tidak pernah berkurang.
"Tiga tahun lalu, sampahnya tidak sampai meluber ke tengah jalan, padahal ukuran bak sampahnya masih kecil,” ujar Liling.
Kendati demikian, kondisi itu justru membuka pintu rezeki bagi pemulung seperti dirinya.
Liling bisa meraup penghasilan hingga Rp150 ribu per hari dengan mengumpulkan plastik, kaleng, dan bahkan karpet bekas.
Dikonfirmasi, Kepala Bidang Kebersihan dan Pengelolaan Sampah DLH Banjarmasin, Marzuki mengakui bahwa membeludaknya sampah di TPS RK ilir akibat penutupan TPS di Pasar Pekauman.
Alhasil, sampah dari beberapa kelurahan seperti Kelayan Barat, Kelayan Selatan, Kelayan Luar, dan Jalan Kelayan B kini terkonsentrasi di satu titik.
"Setelah TPS di Pekauman ditutup, sampah dari beberapa kelurahan terpusat ke sini," jelas Marzuki.
Ditambahkannya, selain beban sampah yang berlebihan, luberan itu juga muncul karena posisi bak penampungan yang kelewat tinggi.
DLH berencana menambah oprit agar warga lebih mudah menaruh sampah ke dalam bak, meski diakuinya ini bukan solusi utama.
Menurut Marzuki, solusi utama adalah memecah konsentrasi pembuangan sampah dengan mengoptimalkan program Surung Sintak, di mana warga diharapkan bekerja sama mengantar sampah mereka ke armada DLH pada waktu tertentu.
Namun, program ini belum berjalan maksimal karena rendahnya kesadaran warga.
Alternatif lain adalah meminta warga langsung membuang sampah ke TPA Basirih atau menambah TPS baru di lokasi terdekat. Sayangnya, penambahan TPS sulit dilakukan karena warga sekitar umumnya menolak.
"Jangankan menambah TPS, selama ini malah banyak yang ingin ditutup," tutup Marzuki.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief