Menyatukan Pemuda Peduli Lingkungan

Jamaluddin Radar Banjarmasin • Dipublikasikan Senin, 28 Oktober 2024 | 11:31 WIB

 

Photo
Photo

Banyak pemuda peduli lingkungan di Banua. Namun, cenderung bergerak sendiri-sendiri. Perlu ada misi besar yang diperjuangkan bersama.

        *****
BANJARMASIN – Sumpah Pemuda kembali diperingati hari ini. Inti peringatan setiap 28 Oktober tersebut adalah bersatunya para pemuda.

Kalau pemuda zaman dulu sadar betapa pentingnya memperjuangkan bertanah air, berbangsa dan berbahasa satu. Di era sekarang, bersatunya pemuda itu harus ditularkan ke semua bidang kehidupan. Termasuk di bidang lingkungan hidup.

Alumnus Green Leadership Indonesia (GLI), Windri (24) menyadari betapa pentingnya persatuan itu.

“Saya percaya, bahwa tujuan dalam sebuah gerakan akan sulit tercapai jika kita bergerak secara sendiri-sendiri, atau hanya organisasi atau komunitas tertentu. Maka kolaborasi itu penting,” ingat warga Hulu Sungai Tengah (HST) tersebut.

Windri menegaskan perlunya melibatkan berbagai macam organisasi maupun komunitas dalam pelaksanaan aksi peduli lingkungan. “Karena dengan itu, tujuan akan lebih mudah tercapai. Dengan massa yang lebih banyak, kita tentu akan lebih mudah didengar,” yakinnya.

Sebagai aksi nyata pemuda peduli lingkungan, Windri dan para pegiat lingkungan di HST punya kegiatan tahunan. Dalam setiap peringatan Hari Sungai, mereka berkolaborasi lintas organisasi dan komunitas untuk membersihkan sampah di Sungai Barabai.

Tak hanya bergelut dengan sampah. Ia kerap membersamai kegiatan kaum muda menanam yang merupakan program kerja Institut Hijau Indonesia dan dilaksanakan secara hampir menyeluruh di Indonesia. “Kegiatan Kaum Muda Menanam atau KMM adalah bentuk aksi nyata generasi muda dalam upaya pemulihan lingkungan hidup,” jelasnya.

Contoh lain kolaborasi pemuda dilakukan komunitas Generasi Baru Indonesia (GenBI) Kalsel. Dalam agenda penanaman pohon di wilayah Kalsel tiap tahun, GenBI Kalsel selalu berkolaborasi dengan komunitas peduli lingkungan lainnya. Seperti di tahun 2023, mereka berkolaborasi dengan Putik Bersih. Pada tahun 2024, berkolaborasi dengan Pemuda Bakti Banua.

“Cara membangun komunikasi sendiri cukup mudah, karena visi utama dari masing-masing komunitas adalah melakukan kebermanfaatan jangka panjang,” ungkap anggota GenBI, Dwi Ramadhani, Minggu (27/10).

Mereka memulai aksi penanaman pohon ini sejak pandemi Covid-19. “Kegiatan penghijauan yang telah dilakukan sangat banyak sekali. Sebagai contoh nyata terbaru GenBI telah menanam berbagai jenis pohon di area Jejangkit Eco Park sebagai bagian dari upaya penghijauan,” ujarnya.

Penanaman ini dalam rangka memperingati 13 tahun dedikasi GenBI untuk negeri. “Banyak wilayah yang telah dihijaukan sejak awal berdirinya GenBI Kalsel. Dokumentasi setiap kegiatan penanaman dapat dilihat melalui akun Instagram resmi kami,” bebernya.

Dari Aksi Bersih hingga Kolaborasi

Komunitas Putik Bersih melakukan aksi bersih-bersih rutin setiap bulan. Kegiatan ini umumnya dilakukan di tempat-tempat wisata sejak resmi dibentuk pada tanggal 2 Desember 2021. Trio pendiri komunitas ini yakni Menna Ayu, Istiqomah Nuzula, dan Annisa Ananda memang memiliki kebiasaan membawa kantong plastik setiap kali bepergian, khususnya ke tempat-tempat wisata alam.

Bisa digunakan untuk mengumpulkan dan membersihkan sampah yang mereka temui di lokasi wisata. “Kami tahu, kebiasaan orang di sini kalau habis ke alam pasti nyampah. Makanya kami selalu siap untuk bersih-bersih,” ungkap Menna.

Tak hanya melibatkan trio Menna Ayu, Istiqomah Nuzula, dan Annisa Ananda sebagai pendirinya, Putik Bersih juga mengundang partisipasi dari anak muda lainnya. "Kami mulai menarik perhatian mahasiswa dan sesama pegiat lingkungan. Semakin banyak yang tahu, semakin banyak yang ikut, terutama setelah kami aktif di media sosial," ujar Menna.

Selain aksi bersih, Putik Bersih juga punya program daur ulang yang dijalankan dengan kolaborasi bersama Bank Sampah, komunitas perempuan, dan pegiat lingkungan lainnya.

Melalui program ini, Putik Bersih memberikan pelatihan pembuatan sabun dari minyak jelantah dan kreasi produk dari sampah plastik, serta mengelola sampah secara terpadu.

Bahkan, mereka juga mengadakan program donasi sampah yang menerima sumbangan sepanjang tahun dari masyarakat luas. Donasi berupa pakaian layak pakai mereka salurkan untuk masyarakat yang membutuhkan, terutama di sekitar TPA Basirih Banjarmasin.

Media Sosial Jembatan Edukasi

Putik Bersih memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi. Lewat bahasa yang sederhana, mereka menyampaikan pesan-pesan peduli lingkungan yang mudah dipahami anak muda. "Kami berharap anak muda merasa terlibat dan tidak ketinggalan," jelas Menna.

Inspirasi ini juga semakin berkembang dengan adanya gerakan lingkungan dari komunitas lain seperti Pandawara. "Dengan viralnya gerakan itu, banyak anak muda yang tadinya pasif mulai ikut berpartisipasi. Meskipun awalnya hanya ikut-ikutan atau fomo, tidak apa-apa selama itu positif," tambah Menna.

Harapan di Masa Depan

Kini, Putik Bersih tidak hanya diisi oleh tiga pendirinya, tetapi juga oleh 16 relawan lainnya. Mereka selalu membuka pintu bagi siapa saja yang ingin bergabung. Aktivitas mereka berhasil menarik perhatian berbagai pihak, termasuk dari instansi pemerintah yang ingin berkolaborasi.

"Besar harapan kami agar mendapat dukungan dari berbagai pihak agar tercipta keindahan di Banua tercinta," tutup Menna dengan penuh harap.

Menyatukan Pemuda Banua Peduli Lingkungan

- Sumpah Pemuda harus menularkan bersatunya pemuda peduli lingkungan di Banua.
- Harus punya misi besar bersama untuk diperjuangkan.
- Media sosial jadi jembatan untuk bersatu.
- Kolaborasi antarkomunitas peduli lingkungan akan menambah keakraban para pemuda.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
Lingkungan pemuda Sampah