MARTAPURA - Dampak musim kemarau berupa kekeringan masih terjadi wilayah Kabupaten Banjar. Salah satu kawasan yang mengalaminya berlokasi di Desa Gunung Ulin.
Terbaru, Pemkab Banjar mengerahkan unit mobil tangki untuk menyuplai air bersih ke sana. Menangani sumber air warga dari Tandon Pamsismas maupun sumur gali yang telah mengalami kekeringan.
Pengiriman unit tangki air ini dilakukan setelah Pambakal Gunung Ulin, Haji Sunarto melayangkan surat kepada BPBD Banjar untuk mengatasi krisis air bersih di sana.
Selain mengirim pembawa air, BPBD juga meminjamkan penampungannya berupa tandon sebanyak 5 unit dengan ukuran 1.200 liter. Penampungan ini langsung ditempatkan di wilayah RT 1-7 Desa Gunung Ulin, pada Jumat (18/10) tadi. “Ini sangat membantu kami dalam menanggulangi kekurangan air bersih, yang belum maksimal tertutupi akibat keterbatasan sarana dan prasarana,” ungkap Sunarto, Selasa (22/10) siang.
Selain ke BPBD, Sunarto juga meminta bantuan kepada SKPD lain untuk mencukupi kebutuhan air bersih warganya. Pambakal berharap dari Dinas terkait ataupun dari Pamsismas Kabupaten Banjar dapat memberikan bantuan sumur bor guna menuntaskan persoalan kekurangan air bersih di Gunung Ulin.
“Kami harap masyarakat bijaksana dalam pemakaian air bersih guna mencukupi kebutuhan sehari-hari,” harapnya.
Kekeringan yang dialami warga Desa Gunung ini dibenarkan Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Banjar, Abdullah Fahtar. Meski BMKG menyatakan sudah memasuki musim penghujan, sebagian wilayah Kabupaten Banjar masih belum terlepas dari dampak musim kemarau.
“Bantuan air bersih masih kami salurkan. Petugas kami juga masih bersiaga dalam upaya pemadaman kebakaran lahan,” katanya.
Fahtar membeberkan Kabupaten Banjar juga harus siap menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi akibat musim hujan. Sejak awal Oktober tadi, hujan sudah mulai mengguyur sejumlah wilayah di Kabupaten Banjar.
“Hasil kajian dari perkiraan cuaca BMKG di akhir bulan Oktober ini, terjadi curah hujan yang signifikan. Terutama di daerah Kecamatan Karang Intan dan Aranio. Padahal, perkiraan curah hujan secara keseluruhan di awal November,” bebernya.
Curah hujan penuh diperkirakan mulai intensif terjadi di Kabupaten Banjar mulai awal Januari 2025. Hal ini menjadi pembahasan utama dalam rakor lintas sektor yang baru saja dilaksanakan BPBD Banjar, untuk mengantisipasi potensi cuaca ekstrem. “Supaya kejadian banjir yang terjadi tiga tahun lalu, tidak sampai terulang,” ujarnya.
Dalam rakor tersebut, disiapkan berbagai langkah. Dari data perkiraan cuaca, mereka menyimpulkan potensi bencana angin puting beliung dan angin kencang yang harus diantisipasi saat ini.
“Bersama Bidang Kedaruratan dan Logistik juga Tim Reaksi Cepat, kami saat ini mengantisipasi bencana lainnya. Sekarang juga mengatasi dampak dari Karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan),” lanjutnya.
Walaupun jumlah personel sangat terbatas, Fahtar menilai perlengkapan khusus untuk kekurangan air atau dampak kekeringan sudah cukup. “Kami punya lima tangki besar berukuran enam ribu liter untuk memberikan air bersih,” ujarnya.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief