JAKARTA - Baru baru ini, para seniman Indonesia dibuat berdecak kagum atas penampilan tim kesenian Sanggar Seni Banua Sanggam, dari Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan.
Betapa tidak, perwakilan Kalsel tersebut berhasil borong empat penghargaan di semua kategori pada ajang Parade Tari Nusantara TMII 2024, 6 Oktober 2024 lalu di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta.
Radar Banjarmasin menghubungi salah satu penata musik tim kesenian yang telah mengharumkan nama Kalsel ini di kancah Nasional tersebut, Rabu (16/10/2024) melalui telepon whatsapp.
Namanya M Irfan Maulana. Di kalangan seniman Kalsel ia dikenal dengan nama Palui Banaran, sosok pemuda pelestari budaya Dayak pedalaman.
Kepada Radar Banjarmasin, Palui menceritakan tim dari Sanggar Seni Banua Sanggam berhasil meraih juara semua kategori yang dilombakan di TMII Jakarta.
Yaitu, Penghargaan Penyaji Unggulan, Penata Tari Unggulan, Penata Musik Unggulan, dan Penata Rias dan Busana Unggulan.
“Kami sangat bersyukur, karena sudah berhasil membawa budaya Kalsel khususnya Dayak mengharukan nama Kalsel di kancah Nasional.
Namun lanjutnya, dibalik ini ada sebuah perjuangan yang harus dilewatinya dan membuat penghargaan ini begitu dikenangnya.
Diceritakan Palui, proses penggarapan dan latihan timnya memakan waktu yang lumayan lama dan intens di Balangan.
Awalnya, Sanggar Seni Banua Sanggam (SSBS) mengikuti seleksi di ajang FESTIVAL KARYA TARI DAERAH se-Kalsel 2024.
Dari ajang itu, SSBS berhasil menjadi juara umum. Saat itu, SSBS didukung penuh oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Balangan.
Berhasil jadi juara seleksi tingkat provinsi, SSBS otomatis mewakili Kalsel pada ajang Nasional, yakni Parade Tari Nusantara TMII 2024.
“Jujur, kami sangat senang sekali saat diberi kesempatan berlomba ke tingkat Nasional. Ini adalah suatu pencapaian luar biasa bagi kami bisa bersaingan dengan seniman se-Indonesia,” terharunya.
Namun, untuk melaju ke ajang Nasional ini, banyak sekali perjuangan yang dilakukan timnya.
Demi memenuhi segala kebutuhan untuk tampil di ajang nasional tersebut, tim SSBS harus berpikir keras. "Kami memerlukan dana untuk kebutuhan produksi, baik kostum, pelatih, biaya makan minum, sewa perlengkapan sound, tim soundman, lighting, serta mencari dana untuk transportasi," sebutnya.
“Setelah berembuk, anggota SSBS berusaha mencari dana tambahan dengan cara ngamen dan mengambil job kecil-kecilan, uangnya ditabung untuk memenuhi kebutuhan di ajang nasional tersebut,” menurut salah satu penari.
Selain itu, mereka tetap diberikan dukungan oleh Disdikbud Kabupaten Balangan. Tapi juga mengajukan dana lewat proposal yang ditujukan ke instansi, perusahaan, Sekda, dan anggota DPRD Kabupaten Balangan.
“Alhamdulillah, ada beberapa pihak yang berkenan memberikan bantuan dan perlahan tertutupi. Namun, beberapa masih ada yang terutang, seperti kostum. Hingga pada akhirnya beberapa orang sanggar seperti penata musik, penata tari, penata busana SSBS megumpulkan dana patungan dari kantong pribadi,” tutur salah satu penari sanggar SSBS.
Sampai akhirnya, mereka pun tampil di TMII Jakarta dan berhasil jadi juara dengan membawakan tarian tradisional Dayak Deah, yakni tari Ngebo (Ebolele).
Tarian ini, adalah sebuah mantra nyanyian isak tangis yang ditujukkan kepada orang tua atau Leluhur yang telah tiada.
“Kami sangat bersyukur, karena berhasil membuat seluruh penonton yang hadir (termasuk juri, red) merinding dan meneteskan air mata,” ujarnya senang.
Editor : Fauzan Ridhani