Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tidak Hanya Pantai, Banyak Objek Wisata Baru Di Kalsel Mengandalkan Indahnya Pemandangan Pegunungan Meratus

Salahudin Radar Banjarmasin • Senin, 7 Oktober 2024 | 12:27 WIB
BISA SUSUR SUNGAI: Selain bersantai, wisata pemandian Sirang Pitu juga menawarkan susur sungai Tapin.
BISA SUSUR SUNGAI: Selain bersantai, wisata pemandian Sirang Pitu juga menawarkan susur sungai Tapin.

Pegunungan Meratus menawarkan begitu banyak pemandangan yang bisa dijadikan titik-titik lokasi wisata untuk dikelola warga lokal.

       *****
Berdasarkan data Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Hulu Sungai Selatan dari 2022 sampai 2024 ini, ada empat objek wisata baru yang dikelola warga.

Kepala Disporapar HSS, Heri Utomo menyebut Rawali Hill Camp yang berlokasi di Desa Lumpangi, Malaris Adventure Camp di Desa Lok Lahung, Mangala Cafe Loksado di Desa Hulu Banyu, dan Awat Apih Cafe Loksado di Desa Lok Lahung. “Rawali Hill Camp tahun 2023, Malaris Adventure Camp 2022, sedangkan Mangala Cafe Loksado dan Awat Apih Cafe Loksado di 2024,” ujarnya.

Di empat objek wisata baru ini bisa melakukan kemping sambil menikmati pemandangan gunung, serta kulineran. “Rawali Hill Camp dan Malaris Adventure Camp merupakan glamour camping. Sedangkan Mangala Cafe Loksado dan Awat Apih Cafe Loksado bisa melihat pemandangan Gunung Kantawan dan Sungai Amandit sambil menikmati kuliner,” sebutnya.

Paling banyak dikunjungi adalah Mangala Cafe Loksado. “Yang lagi ramai Mangala Cafe,” tuturnya. Warga disuguhkan pemandangan alam pegunungan Meratus. “Lokasi objek wisata ini juga sering dijadikan sebagai tempat untuk swafoto untuk media sosial,” sebut Toni salah satu warga.

Di kabupaten tetangga, Tapin, wisata pemandian Sirang Pitu Pantai Buniin jadi magnet tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Kecamatan Piani, sejak beberapa tahun ini. Lokasi pemandian berada di Desa Miawa, berbatasan dengan Desa Buniin.

Di sini cocok untuk bersantai dengan keluarga maupun teman-teman. Fasilitas sudah lengkap. Mulai dari tempat parkir yang luas, tempat ganti, gazebo dan lain-lain.

Anggota Pokdarwis Sirang Pitu, Muhammad Rahmani menceritakan bahwa wisata pemandian Sirang Pitu awalnya ramai saat zaman Covid 2019. “Awal mandi biasa saja, tapi lama kelamaan viral. Sejak saat itu mulai ramai,” akunya, Minggu (6/10).

Setelah viral, pihak desa berkoordinasi untuk mengelolanya. “Sejak saat itu mulai dikembangkan. Hingga 2023 tadi, fasilitasnya mulai lengkap,” akunya.

Diakuinya untuk lokasi sekitar pemandian merupakan milik masyarakat. “Namun karena desa sudah komitmen untuk mengembangkan, maka dibelilah tanah tersebut,” jelasnya.

Apalagi sekarang masyarakat mulai ikut berpartisipasi dengan membuat lintasan untuk ATP. “Ada tiga ATP yang dikelola oleh masyarakat, dan baru dua Minggu ini (beroperasi, red),” jelasnya.

Terkait kunjungan ke pemandian, setiap hari memang ada. Tapi, hanya puluhan orang. “Beda kalau hari libur, ratusan bahkan sampai ribuan orang yang datang,” ungkapnya.

Selain menawarkan pemandian untuk keluarga, pengunjung bisa susur sungai Piani dengan menikmati pemandangan pegunungan Meratus. “Untuk susur sungai, sejak beberapa Minggu ini, jalur jauh tidak bisa karena terkendala air yang surut,” kata Rahmani yang juga sebagai pemandu susur sungai.

Susur sungai dikelola oleh BUMDes dan Pokdarwis desa setempat. “Memang wisata ini memanfaatkan potensi sungai pegunungan yang jernih di desa tersebut,” ucap Kepala Desa Miawa, Amat M.

Perahu karetnya bantuan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) Tapin. “Ada 10 perahu lengkap dengan alat pengaman, hibah dari Disbudpar Tapin,” ujarnya.

Susur sungai ini menawarkan empat jalur dengan durasi yang berbeda-beda. Jalur pertama berdurasi sekitar 3 jam, jalur kedua 2 jam, jalur ketiga 1 jam, dan jalur keempat setengah jam. “Masing-masing jalur menawarkan keindahan dan tantangan tersendiri,” tambah Amat.

Lokasi finis susur sungai berada di wisata Pemandian Sirang Pitu Pantai Buniin. “Sambil menunggu susur sungai, pengunjung bisa mandi air pegunungan di sini,” kata Amat.

Desa Nateh, Kecamatan Batang Alai Timur, Hulu Sungai Tengah (HST) juga menyuguhkan wisata alam yang asri dan indah. Wisata jalur sungai di tempat ini masih sangat terjaga. Salah satu tempat wisata yang bisa dijadikan referensi adalah wisata Riam Alai Rafting.

Tempat ini satu jalur dengan wisata Pantai Nateh, hanya berjarak beberapa meter. Suguhannya berupa permainan arung jeram menggunakan perahu karet atau ban dengan menyusuri Sungai Batang Alai.

Ada tiga jalur yang bisa dipilih pengunjung untuk menikmati jalur sungai ini. Pertama, jalur biasa untuk satu orang menggunakan ban. Biayanya Rp50 ribu untuk sewa ban apung.

Kedua jalur sedang, untuk menyusuri jalur ini menggunakan perahu karet. Durasinya 2,5 jam biaya per orang Rp50 ribu. Terakhir jalur ekstrem durasi menyusuri sungai 4 jam, biaya per orang Rp100 ribu. "Biasanya satu perahu karet bisa 4 orang," ujar Alif salah satu pengelola wisata.

Kendati ada jalur ekstrem, pengunjung tak perlu khawatir, tempat ini difasilitasi alat pengaman yang lengkap dengan pemandu yang berpengalaman.

Jarak wisata ini dari kota Barabai sekitar 30 km. Akses menuju lokasi pun sudah sangat baik.

Pengunjung bisa menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat.

Jika datang ke sini, pengunjung tak hanya bisa menikmati keindahan jalur sungai. Pengelola menyediakan tempat untuk berkemah di bibir sungai.

Wisata ini juga tidak jauh dari perumahan warga. Jadi tak perlu khawatir jika kekurangan logistik.
Tidak hanya mengarungi sungai, wisata ini juga menyajikan pemandangan bentang alam Meratus yang begitu cantik di sepanjang jalur air tersebut.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#Wisata #Indepth #Meratus #Sungai