Sejarawan Kalsel, Mansyur pernah menulis bagaimana perkembangan Lekra di Kalsel dan kondisinya terkait Gerakan 30 September tahun 1965.
Diawali dengan menceritakan bahwa PKI di Kalsel dengan pimpinan A.M. Hanafiah (Sekretaris I CDB PKI Banjarmasin) sejak tahun 1955, memiliki beberapa ormas di bawah naungannya, seperti Serbupri (Serikat Buruh Perkebunan Republik Indonesia), Serba (Serikat Buruh Daerah Autonom) bagi pegawai pemerintah daerah, Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia), Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) dan berbagai ormas lainnya.
Khusus Lekra, sebagai organisasi kebudayaan berkembang pesat dan menjadi wadah pertemuan para intelektual dan seniman dengan latar belakang yang berbeda-beda. Pada organisasi ini berkumpul seniman lukis, seniman tradisional, sastrawan dan sebagainya.
Namun, Mansyur menyebutkan bahwa seluruh para petinggi dan anggota Lekra di Banjarmasin akhirnya dianggap sebagai musuh negara oleh pemerintah zaman Orde Baru.
Termasuk di antaranya adalah Misbach Tamrin. Ia dibawa prajurit Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) dan dipenjara sebagai Tahanan Politik (Tapol).
Di Banjarmasin, Tapol dari Lekra ini dimanfaatkan oleh penguasa Pemda Daerah untuk suatu kepentingan usaha produktif. “Contohnya dengan dikerjapaksakan selaku kuli-kuli bangunan, mengerjakan pengerasan jalan raya rute Kalsel-Kaltim,” ungkap Mansyur.
Kisah serupa tentang Misbach Tamrin juga disampaikan oleh Norhalis Majid. Mantan Ketua Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin ini menyebut bahwa semua cerita tentang Misbach Tamrin dan PKI di Kalsel sudah tertuang dalam sebuah film dokumenter tentang Misbach Tamrin berjudul Kulminasi.
Menurutnya, film yang diluncurkan pada 20 Juli 2024 itu, menjadi jendela untuk melihat sejarah Indonesia yang tidak baik-baik saja. Memiliki sisi kelam, pergulatan kemanusiaan yang tidak mungkin dilupakan.
Sebab semua pertanyaan mengenai apa itu Lekra? Apa itu PKI? Apa itu peristiwa 30 September 1965? Kenapa terjadi pembantaian? Kenapa harus diburu, dihukum, dibunuh, bahkan kenapa sampai ada hukuman tanpa proses pengadilan pun tertuang di sana. “Misbach Tamrin adalah seorang tokoh atau sang maestro seni rupa Indonesia, serta seorang pemikir, ideolog,” tukasnya
Misbach Tamrin, tambah Majid, juga bukan hanya pandai melukis, tapi tahu persis akan apa dilukisnya. Mampu menuangkan sejarah hidupnya dalam lukisan. “Intinya adalah bahwa bila tidak mampu melukiskan sejarah hidup, lebih baik jadi kerbau saja,” ujarnya menirukan kalimat Misbach Tamrin.
Misbach juga merupakan seorang seniman yang merintis karirnya dari bawah. Dari kampung bernama Kabun Sari di tepi sungai Amuntai, ke Murung Pudak, ke Banjarmasin, ke Yogyakarta, lalu bertarung di Jakarta dan dikenal dunia melalui karya-karya besarnya.
“Dia (Misbach Tamrin) setara dengan tokoh-tokoh besar seni rupa lainnya seperti Amrus Natalsya, Kuslan Budiman, Adrianus Gumelar, Isa Hasand, Joko Pekik, dan lain-lain,” tegas Majid.
Bukan saja tentang perjuangan kemerdekaan, jalan hidup Misbach Tamrin ini, kata Majid bisa mewakili cerita kelam dengan tragedi kemanusiaan yang sangat kejam pada PKI.
Menurutnya, Misbach Tamrin ini juga jadi penunjuk arah bagi para generasi muda di Banua saat ini. Khususnya mengenai PKI.
“Bila tidak mengerti minimal separuh sejarah Indonesia, maka sulit memahami apa itu ‘kiri’, apa itu ‘kanan’ yang jadi sebutan untuk ideologi di Presiden Soekarno dan era Orde Baru,” tegasnya.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief