BANJARMASIN - Puluhan perahu berhias lampu tanglong hilir mudik di Sungai Martapura, Banjarmasin Tengah Rabu (18/9) malam.
Festival untuk memeriahkan Hari Jadi Kota Banjarmasin ke-498 itu menarik ribuan pasang mata warga.
Penonton memadati kawasan Siring Menara Pandang, Nol Kilometer, hingga Siring Sudirman.
Festival tanglong itu menciptakan pemandangan gemerlap di tengah kegelapan malam.
Event itu juga diramaikan penampilan dua penyanyi cover, Tami Aulia dan Felix Irawan.
Desy (26) mengaku terhibur. Sebab di tempat asalnya festival perahu semacam itu tidak pernah ada.
"Kebetulan sedang berkunjung ke tempat keluarga di Banjarmasin. Saya diajak menonton dan ternyata seru," kata warga Nunukan, Kalimantan Utara itu.
Namun tak semua pengunjung merasakan kegembiraan serupa. Contoh Madhan (30) asal Martapura.
Menurutnya, saban tahun festival tanglong di Banjarmasin terkesan begitu-begitu saja. "Kurang inovasi," ujarnya.
Madhan juga menyoroti jumlah perahu tanglong yang semakin sedikit. "Terlalu sedikit untuk dibilang ramai," ucapnya.
Madhan juga mengeluhkan akses pejalan kaki yang sulit. "Banyak orang berjualan di atas siring," katanya.
Lomba tanglong ini dibagi dua kategori, perahu bermesin dan non-mesin. Selain masyarakat umum, juga diikuti peserta dari SKPD Pemko Banjarmasin.
Salah seorang juri, Mansyur juga menyinggung soal penurunan jumlah peserta. "Dulu, dalam satu kategori ada 33 perahu. Sekarang, total perahu di dua kategori hanya 33,” sebut dosen sejarah FKIP ULM itu.
Mansyur juga mengomentari kreativitas peserta. "Banyak pernak-pernik tanglong yang keluar dari tema lomba. Meski secara desain ada perkembangan," singgungnya.
Juri lainnya, Hajriansyah menilai banyak perahu yang hanya bagus terlihat di malam hari. "Ke depan, kita berharap bisa tampil menarik baik siang maupun malam. Supaya bisa melihat detailnya," katanya.
Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina menganggap kritik-kritik itu wajar.
"Mungkin bagi kita, karena terlalu sering jadi dianggap biasa. Tapi bagi orang lain itu luar biasa," ujarnya.
"Jarang ada yang begini. Kalaupun daerah lain ingin bikin, tidak punya sungai," sambungnya.
"Jadi syukuri yang ada saja lah," ucapnya lagi.
Soal inovasi acara, misalnya digelar pada malam dan siang hari, Ibnu hanya mengomentari secara singkat.
"Tanglong ini kan mau menonjolkan lampu-lampunya. Kalau siang justu tidak kelihatan," pungkas Ibnu.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief