BANJARMASIN - Stunting merupakan masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama dan akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi.
Stunting dapat terjadi sejak bayi masih dalam kandungan, tetapi baru nampak saat anak berusia 2 tahun.
Adapun faktor-faktor yang dapat menyebabkan stunting diantaranya gizi buruk pada ibu hamil maupun balita, kurangnya pengetahuan ibu selama masa kehamilan, terbatasnya kunjungan ke pelayanan kesehatan, kurang mendapat informasi tentang gizi pada balita, kurangnya akses makanan bergizi, air bersih dan sanitasi.
Kalsel termasuk wilayah yang menjadi fokus utama dalam pengendalian stunting. Berdasarkan Studi Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) pada tahun 2019, angka prevalensi stunting nasional diperoleh sebesar 27,7 persen.
Sementara itu, angka prevalensi stunting Kalsel sebesar 31,75 persen yang menandakan bahwa Kalsel dapat dikatakan sebagai wilayah kronis.
Pada 2022 angka prevalensi stunting tertinggi antar kabupaten/kota di Kalsel adalah Kabupaten Barito Kuala (Batola) dengan prevalensi stunting mencapai 33,6 persen.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Wakil Puskesmas Kabupaten Batola, didapatkan informasi bahwa tingginya angka prevalensi stunting di wilayah tersebut disebabkan karena kurangnya pengetahuan dan kepedulian para calon Ibu terhadap kesehatan dirinya dan calon bayi di trimester ketiga (periode terakhir) kehamilan.
Permasalahan tersebut terlihat dari data akumulatif kunjungan Ibu Hamil ke Puskesmas Kabupaten Batola.
Untuk mendeteksi dan mencegah terjadinya stunting diperlukan kerja sama dari berbagai stakeholder, terutama yang berkaitan dengan gizi dan kesehatan anak.
Dalam hal ini, Kader Kesehatan dan Perangkat Desa yang merupakan orang terdekat dengan masyarakat dan merupakan perpanjangan tangan dari petugas kesehatan dalam menangani masalah kesehatan di masyarakat.
Ketua Kader Kesehatan Kampung DAGUSIBU menyatakan para kadernya terkendala beberapa masalah mendasar dalam kesehariannya.
Seperti pengetahuan terkait stunting yang masih kurang update, serta permasalahan ekonomi organisasi yang belum stabil.
Melalui Program Hibah Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dari Kemendikbudristek Tahun Anggaran 2024, Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dari Universitas Sari Mulia (UNISM) mengusulkan program untuk menyelesaikan permasalahan kesehatan, khususnya stunting di Kabupaten Batola melalui pengembangan teknologi yang dikenal dengan aplikasi PESO (Pencegahan Stunting Operasional).
Aplikasi PESO dapat digunakan oleh masyarakat desa dan Kader Kesehatan untuk mendapatkan berbagai informasi yang berkaitan dengan pencegahan stunting.
Selain itu, aplikasi PESO juga dapat digunakan oleh Kader Kesehatan untuk memantau kesehatan ibu hamil dan anak-anak.
Dalam program PKM ini, Tim Pengabdian UNISM juga memberikan pelatihan pengolahan makanan sehat dari tanaman lokal yang ada di Kabupaten Batola.
Yaitu, pengolahan buah nanas menjadi produk unggulan yang dilengkapi dengan sertifikat halal, sehingga dapat menjadi lahan usaha guna meningkatkan ekonomi para Kader Kesehatan Kampung DAGUSIBU.
Tim pengabdian UNISM diketuai oleh apt Iwan Yuwindry MFarm, dibantu anggota yang terdiri dari Nurhaeni ST MCs dan Yayuk Puji Lestari Bdn MKeb.
Kegiatan PKM juga melibatkan beberapa mahasiswa dari jurusan farmasi dan sistem informasi guna memberikan pengalaman langsung kepada para mahasiswa tersebut.
Editor : Fauzan Ridhani