Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tahukah Pian, Matang Hanau Dijadikan Nama Desa di Balangan Karena Ini

M Dirga • Senin, 9 September 2024 | 08:15 WIB
KANTOR KEPALA DESA: Desa Matang Hanau berada di Kecamatan Lampihong, Balangan.
KANTOR KEPALA DESA: Desa Matang Hanau berada di Kecamatan Lampihong, Balangan.

Nama Desa Matang Hanau di Balangan tidak hanya menunjukkan identitas geografis. Tapi, juga mencerminkan kekayaan budaya dan tradisi lokal yang berakar kuat.

Pamong budaya dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Balangan, Halianoor menjelaskan asal usul dan makna nama Desa Matang Hanau, serta kaitannya dengan kehidupan masyarakat setempat.

Desa Matang Hanau sebelumnya dikenal dengan nama Singkubut pada tahun 1982. Singkubut kemudian mengalami perubahan nama menjadi Matang Hanau pada tahun 1990. "Perubahan ini terjadi seiring dengan pemekaran dari Desa Lajar," kata Halianoor.

Nama Matang Hanau memiliki makna yang mendalam. Diambil dari kata "matang" yang berarti kebun atau kawasan kering. Sedangkan "hanau" merujuk pada tanaman Hanau, sejenis tanaman palma yang dikenal juga dengan nama aren, atau enau dalam bahasa Banjar.

Halianoor menjelaskan tanaman Hanau memiliki ciri khas berupa batang yang kokoh dengan tinggi mencapai 25 meter. Di bagian atasnya diselimuti oleh serabut hitam atau ijuk. Daun tanaman ini menyerupai daun kelapa, dan tanaman ini sangat penting dalam pembuatan gula merah atau gula aren yang terkenal di Kecamatan Lampihong.

Gula merah Lampihong, atau dikenal juga sebagai gula habang Lampihong, memiliki rasa yang lebih manis dan alami berkat penggunaan nira dari tanaman Hanau. Proses pembuatan gula ini dimulai dengan menyadap tandan bunga jantan yang mulai mekar, menghasilkan cairan nira berwarna keruh dan manis.

Warga Desa Matang Hanau menggunakan bambu dan jeriken untuk mengumpulkan nira tersebut. Kemudian dimasak selama lima jam hingga mengental dan membentuk gula habang Lampihong.

"Karena banyaknya tanaman Hanau di desa ini, tidak mengherankan jika banyak warga yang menggantungkan hidup mereka sebagai pembuat gula selama bertahun-tahun," ujarnya.

Selain itu, tanaman Hanau juga menghasilkan buah yang bijinya dikenal dengan nama kolang kaling. Buah ini sering digunakan sebagai bahan campuran minuman dan makanan. Warga Desa Matang Hanau biasanya menjual kolang kaling dalam kondisi masih bercangkang untuk menjaga kesegarannya. Buah dengan tekstur keras dan cangkang hijau ini adalah salah satu hasil sampingan yang memperkaya tradisi kuliner lokal.

Menurut Halianoor, pemahaman tentang nama Desa Matang Hanau dan tradisi yang berkaitan dengannya sangat penting untuk pelestarian budaya. Nama desa yang diambil dari tanaman Hanau ini tidak hanya menandakan kekayaan sumber daya alam, tetapi juga merupakan simbol dari kekuatan tradisi dan kearifan lokal masyarakat setempat.

"Disdikbud Balangan berkomitmen untuk terus mendokumentasikan dan melestarikan warisan budaya ini, agar generasi mendatang dapat terus menghargai dan memahami sejarah di balik nama-nama desa mereka," pungkasnya.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#asal usul #Balangan #Desa