Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Ini Sederet Nama Pejuang Etnis Tionghoa yang Angkat Senjata di Tanah Banjar, Minim Tercatat di Buku Sejarah

Eddy Hardiyanto • Senin, 19 Agustus 2024 | 08:15 WIB
Lie Kie Ming
Lie Kie Ming

Kisah peran para warga Tionghoa Banjar yang ikut mengangkat senjata saat perang kemerdekaan Indonesia tidak pernah tertulis dalam buku-buku sejarah yang diajarkan di sekolah. Ini memang memunculkan anggapan bahwa masyarakat dari etnis Tionghoa cuma menjadi penonton.

Padahal sebaliknya, semangat patriotisme para pejuang dari etnis Tionghoa juga sangat tinggi pada masa perang kemerdekaan.

Sejarah itu akhirnya diungkap dalam buku Tionghoa Banjar (Peran dan Kiprahnya Dalam Lintasan Sejarah). Buku tersebut telah diluncurkan pada bulan Juli tahun 2023 tadi.

Keturunan Tionghoa telah ada di negeri ini berabad-abad sebelum kemerdekaan. Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, banyak warga keturunan Tionghoa yang bahu-membahu bersama pejuang Indonesia melawan penjajah. Begitu pula kiprah mereka menjelang dan pada awal kemerdekaan.

Para pejuang dari etnis Tionghoa ikut bekerja sama dalam menghalau dan melawan pihak Sekutu, terutama pihak Belanda yang ingin menjajah kembali Indonesia dan Kalimantan bagian selatan khususnya.

Pada masa revolusi fisik mempertahankan kemerdekaan yang baru diproklamasikan, banyak keturunan Tionghoa yang bergabung dalam laskar pemuda pejuang. Mengingat sesaat setelah proklamasi, termasuk di tanah Banjar, belum memiliki tentara. Jadi badan-badan perjuangan yang mempertahankan kemerdekaan itu laskar-laskar pemuda.

Ketika pemerintah resmi membentuk tentara, tidak sedikit dari anggota laskar keturunan Tionghoa yang bergabung dalam institusi tentara.

Orang-orang Tionghoa Banjar tersebut baik materi maupun tenaga ikut berperan dalam membantu perjuangan rakyat Indonesia pada perang mempertahankan kemerdekaan tahun 1945-1949. Mereka juga membantu dalam menyuplai bahan-bahan makanan dan menyelundupkan senjata untuk keperluan para gerilyawan. Selain itu yang memiliki keterampilan di bidang perbengkelan, dan mekanik, berperan dalam perbaikan dan perakitan persenjataan para pejuang.

Terdapat deretan pejuang dari kaum Tionghoa yang memegang peranan penting dan strategis dalam kemiliteran dan belum tercatat dalam tinta sejarah. Nama-nama yang minim publikasi, tapi memiliki andil besar dalam kemiliteran di Kalimantan bagian selatan. Deretan pejuang tersebut sebagai berikut:

1. Joesoef Kesuma (Jauw Kim Hwat)

Joesoef Kesuma atau Jauw Kim Hwat berpangkat Sersan Mayor, menyandang jabatan bagian perlengkapan/peralatan, kesatuan ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan. Atas jasanya dalam perjuangan gerilya pembelaan negara mendapatkan penghargaan jasa pahlawan dari Presiden Soekarno tanggal 10 November 1958.

Joesoef Kesuma atau Jauw Kim Hwat juga menerima dua surat tanda penghargaan dari Menteri Pertahanan Republik Indonesia Djuanda. Pertama, dianugerahi Satyalancana peristiwa aksi militer kesatu. Kedua, dianugerahi Satyalancana peristiwa perang kemerdekaan kedua.

Selain itu, mendapat tanda penghargaan dari Deputy Wilayah Komando Antar Daerah Kalimantan Hasan Basry di Banjarmasin pada 16 April 1962, atas dedikasinya sebagai anak buah yang telah ikut berjuang dalam ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan. Sekadar diketahui, ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan sejak bulan November 1949, berubah nama menjadi Angkatan Darat Divisi Lambung Mangkurat.

2. Yauw Sim Poe (Yusuf Bambang Simpoyono)

Ada beberapa surat tanda penghargaan yang diberikan negara kepada Letnan Dua Yauw Sim Poe, anggota kelompok Banjarmasin S.O.I MPK ALRI Divisi IV pada bagian perlengkapan/peralatan.

Menteri Pertahanan RI Djuanda Kartawidjaja menganugerahi Satyalancana peristiwa perang kemerdekaan kesatu tertanggal 17 Agustus 1958. Kemudian dianugerahi surat penghargaan tanda jasa pahlawan dalam perjuangan gerilya membela negara dari Presiden Soekarno pada hari Pahlawan 10 November 1958. Satu surat penghargaan lagi dari Deputy Wilayah Komando Antar Daerah Kalimantan Hasan Basry tanggal 16 April 1962.

3. Soe Ie/Ong Soei Ie (Soewie Hardinata)

Pejuang Tionghoa lainnya adalah Soe Ie atau Ong Soei Ie dengan pangkat Peradjurit I, dengan jabatan penghubung kesatuan ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan. Soe Ie dianugerahi Satyalancana peristiwa perang kemerdekaan kedua oleh Menteri Pertahanan RI Djuanda Kartawidjaja di Jakarta 17 Agustus 1958. Ia juga mendapat penghargaan Surat Tanda Djasa Pahlawan dari Presiden/Panglima tertinggi Angkatan Perang Republik Indonesia Soekarno tanggal 10 November 1958.

4. Go Hok Tjiang (Chandi Suratna Subiakto)

Go Hok Tjiang (Chandi Suratna) adalah pejuang dengan pangkat letnan dua yang mendapatkan penghargaan dari Deputy Wilayah Komando Antar Daerah Kalimantan Hasan Basry.

5. Thio Hin Pang

Pejuang berikutnya adalah Thio Hin Pang. Mendapatkan surat tanda pengakuan pengesahan dan penganugerahan gelar kehormatan veteran pejuang kemerdekaan RI dari Menteri Pertahanan Keamanan/Pangab Republik Indonesia Sudomo.

6. Jong Thay King (Iking)

Berikutnya dengan pangkat sersan mayor, jabatan veteran pejuang kemerdekaan RI. Atas jasanya dalam perjuangan gerilya pembelaan negara mendapatkan penghargaan dari Presiden/Panglima tertinggi Angkatan Perang Republik Indonesia yang ditandatangani Presiden Soekarno tanggal 17 Agustus 1958. Penghargaan lainnya yang diterima Jong Thay King dari Menteri Pertahanan Republik Indonesia Djuanda berbentuk Satyalancana peristiwa perang kemerdekaan kesatu dan diterbitkan di Jakarta 17 Agustus 1958.

7. Tjoa Tek Lok (Lokmansyah)

Tjoa Tek Lok berpangkat serma menerima penghargaan dari Deputy Wilayah Komando Antar Daerah Kalimantan Hasan Basry pada 16 April 1962, karena menjadi anak buah yang telah ikut berjuang sebagai tentara/pejuang kemerdekaan RI sesudah proklamasi 17 Agustus 1945.

8. Ong Tiong Sin (Mastur Muhamad Sindunata)

Pejuang lainnya adalah Ong Tiong Sin (Mastur Muhamad Sindunata). Sosok Tionghoa dari Martapura ini menerima penganugerahan gelar kehormatan veteran pejuang kemerdekaan RI dari Menteri Pertahanan Keamanan/Pangab Republik Indonesia, Sudomo pada 30 Oktober 1981.

9. Kang Ban Yen (Bastian Kalianda)

Dari surat keterangan yang ditandatangani Brigjen TNI-AD Hasan Basry dan Kapten Asdhy Suryadi, cukup jelas menerangkan mengenai jejak perjuangan Kang Ban Yen (Bastian Kalianda) ini. Pejuang yang tinggal di Kuala Kapuas ini pernah aktif menjadi pejuang kemerdekaan RI pada kesatuan/kelasykaran BPRI-TRI-MN.1001-MTKI-GERPINDOM di Kalimantan sejak tanggal 17 Agustus 1945 hingga 5 Oktober 1950. Jabatan anggota pasukan dengan pangkat Pembantu Letnan. Terakhir di kesatuan ALRI DIV IV Lambung Mangkurat/Kalimantan di daerah Alam Roh Kabupaten Banjar. Atas jasa perjuangannya Kang Ban Yen juga mendapatkan penghargaan gelar kehormatan Veteran Pejuang Kemerdekaan RI melalui surat keputusan dari Departemen Pertahanan Keamanan tertanggal 30 Oktober 1981 yang ditandatangani atas nama Menhankam/Pangab Laksamana TNI Sudomo.

10. Tan Sin Kong (Masri)

Kehadiran pejuang suku Tionghoa dalam perjuangan Kemerdekaan RI juga terdapat di daerah Kotabaru. Salah seorang di antaranya adalah Tan Sin Kong (Masri) sebagai anggota kelompok penyelidik/peralatan/perlengkapan Markas daerah P.T.10 (Kotabaru) ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan. Pejuang yang sering dipanggil dengan nama panggilan “Tempuyak” ini berpangkat Prajurit Satu. Beberapa surat penghargaan yang diterimanya seperti dari Presiden Soekarno tertanggal 10 November 1958, dari Menteri Pertahanan RI Djuanda Kartawidjaja tertanggal 17 Agustus 1958, dan surat tanda penghargaan dari Deputy Wilayah Komando Antar Daerah Kalimantan di Banjarmasin Hasan Basry pada 16 April 1962.

11. Lie Kie Ming (Ali Budiman)

Lie Kie Ming (Ali Budiman) dengan pangkat Kapten, veteran pejuang dengan bintang gerilya ini menjabat bagian perlengkapan/peralatan, kesatuan ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan. Atas jasanya dalam perjuangan gerilya pembelaan negara mendapatkan penghargaan sebagai pahlawan dari Presiden Soekarno tanggal 10 November 1958.

Editor : Arief
#pahlawan #Indepth #kemerdekaan #tionghoa #Sejarah