Keahliannya sebagai mekanik sepeda sangat berguna bagi para pejuang di tanah Banjar. Keahliannya itu mengantarkannya menjadi bagian penting Divisi IV ALRI Pertahanan Kalimantan.
*******
BANJARMASIN – Sugiharto Hendrata adalah sejarawan warga Tionghoa yang menggali sejarah tentang Lie Kie Ming. Itu dilakukannya sejak tahun 2015. Satu persatu sumber ditemuinya untuk menggali cerita. Mulai dari melacak veteran-veteran Tionghoa, dari satu nama ke nama lainnya. Termasuk melalui informasi kawan-kawannya di PSMTI. Sugiharto Hendrata kebetulan Ketua Harian PSMTI Banjarmasin.
Data hingga dokumen penting tentang Lie Kie Ming akhirnya didapatkan Sugiharto. Bahkan sampai bertemu keluarganya di Banjarmasin. Baca Juga: Ini Sederet Nama Pejuang Etnis Tionghoa yang Angkat Senjata di Tanah Banjar, Minim Tercatat di Buku Sejarah
Lie Kie Ming sebenarnya seorang perantau. Lahir di daerah Putian, Provinsi Fujian (Hokkian) di Negeri Tiongkok pada bulan Oktober 1905. Berasal dari suku Hing Hua.
Lie Kie Ming masuk ke Hindia Belanda (Indonesia sekarang) pada tahun 1931. Sempat ke Surabaya. Tapi, titik yang hendak ditujunya ke Kandangan. “Kakaknya memang sudah menetap di Kandangan, Desa Karang Jawa, lebih dulu," cerita Sugi, sapaan Sugiharto.
Pada masa itu Lie, migrasi dari Tiongkok pada usia 26 tahun. "Dari kisah saudaranya menceritakan gambaran bahwa Lie Kie Ming datang ke Indonesia dijemput langsung kakaknya, dan dibawa ke Kandangan," ungkapnya.
Di Tiongkok, suku Hing Hua dikenal ahli dan pintar soal perbengkelan dan mesin. "Seperti warga Tionghoa sekarang, mereka yang berbisnis spare part. Jadi mereka yang berusaha itu mereka dari suku Hing Hua," ujar Sugi.
Memiliki bekal keahlian perbengkelan sepeda dan mesin, Lie kemudian membuka bengkel di rumah saudaranya. Sekaligus dijadikan sebagai gudang kayu arang. Menurut Sugi, di masa itu sepeda seperti motor di zaman sekarang.
Lie tertarik membuka jasa bengkel. Apalagi jasanya dikenal bagus. "Pada era itu pula Hulu Sungai termasuk makmur dengan adanya usaha dan bisnis karet. Jasa bengkel ramai,” sebutnya.
Setelah itu, Lie Kie Ming mendapat jodoh. “Menikahi anak etnis Tionghoa yang lahir di Kandangan," tuturnya.
Pascaproklamasi kemerdekaan RI tahun 1945 atau tepatnya 14 tahun, Lie masih berdomisili di Kandangan. Namun, berkobarlah perjuangan revolusi mempertahankan kemerdekaan melawan penjajah Belanda (NICA). Era itu kolonial Belanda ingin kembali berkuasa di Indonesia setelah perang dunia kedua, pascaberakhirnya pendudukan tentara Jepang.
Di masa itu sudah banyak terbentuk laskar-laskar. Lie saat itu direkrut BPRIK. Lie bisa masuk melalui lingkungan tokoh-tokoh pejuang.
Apakah Lie ikut langsung berperang? "Karena keahliannya itu, dia dimasukkan ke bagian persenjataan, dan bisa merakit senjata. Keinginannya kuat untuk ikut bergabung melakukan perjuangan, meskipun pada masa itu statusnya orang asing," katanya.
Selain posisi sebagai direktur perbengkelan, Lie juga sebagai bagian logistik dan pendistribusian makanan bagi para pejuang, serta penghubung komunikasi ke pusat Divisi ALRI. "Karena etnis Tionghoa, mau kesana-kemari lebih gampang. Tidak dicurigai (oleh mata-mata NICA, red) karena dia bukan orang lokal," banding Sugi.
“Setelah Lie bergabung, keluar surat dari Panglima Divisi IV ALRI, Letnan Zakaria Madun yang terpusat di Tuban. Lie diberi pangkat kapten," terang Sugi.
Bahkan, Sugi sempat kepikiran bisa saja Lie Kie Ming adalah juga relawan atau pejuang di Tanah Tiongkok. Sebab di masa itu, negeri Tiongkok juga sedang perang dengan Jepang.
"Boleh jadi dia relawan atau apa di sana waktu itu. Tetapi karena sesuatu hal, kakaknya menjemput untuk migrasi ke Indonesia," ujarnya.
Lie pensiun dari ketentaraan pada usia 45 tahun pada 1950. Ia memilih untuk tetap bertahan di tanah air. Lalu membuka bengkel becak.
“Dari Kandangan pindah ke Banjarmasin, karena ada kebijakan pemerintah (pindah ke kota, red). Tinggalnya sekitar Kelayan dan kawasan Sudimampir," sebutnya.
Lie sebenarnya ingin menjadi warga negara Indonesia. Bahkan juga mengajukan. Namun, keinginan Lie tak kesampaian hingga meninggal di Banjarmasin di usia 76 tahun pada 26 Agustus 1981. Apalagi semasa Orde Baru, tak mudah bagi warga Tionghoa untuk menjadi warga Indonesia. "Sampai akhir hayat, dia tidak mendapatkan status sebagai WNI," ucap Sugi.
Sejak peristiwa G30S/PKI tahun 1965, banyak dari keturunan warga Tionghoa terdampak aturan pemerintah. “Tidak membedakan antara pejuang dan orang bermasalah. Akhirnya traumatis massal, dan menjadi ingatan kolektif bagi semua,” sebutnya.
Bahkan sampai ini, tidak ada tanda khusus menandakan bahwa Lie Kie Ming sebagai pahlawan perjuangan. Makamnya juga tak dikasih bambu runcing, seperti Daeng Lajida, yang tidak dikubur di makam pahlawan.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief