Menurut Zairullah, data tersebut tidak mencerminkan kondisi sebenarnya di lapangan.
Zairullah menjelaskan bahwa berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu, hanya terdapat 865 balita stunting dari lebih dari 27 ribu balita.
"Angka ini sudah ditangani langsung oleh pemerintah daerah," ungkap Zairullah, Selasa (13/8/2024).
Didampingi Sekretaris Daerah, Ambo Sakka, dan perwakilan dari Dinas Kesehatan, Zairullah mempertanyakan metode sampling yang digunakan SKI.
Ia menilai metode tersebut kurang akurat dibandingkan data yang dikumpulkan oleh tenaga kesehatan Pemkab Tanah Bumbu di lapangan.
Menurut Zairullah, data dari Dinas Kesehatan Tanah Bumbu menunjukkan angka stunting hanya 3,1 persen.
Ia juga meminta agar survei ulang dilakukan untuk memperbaiki data tersebut. "Data dari SKI ini harus diperbaiki karena tidak sesuai dengan fakta di lapangan," tegasnya.
Sebelumnya, menurut data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting di Tanah Bumbu pada 2021 mencapai 18,7 persen, yang kemudian turun menjadi 16,1 persen pada 2022.
Pemerintah pusat menargetkan penurunan prevalensi stunting hingga 14 persen pada 2024, dan semua pemerintah daerah diinstruksikan untuk mencapai target tersebut.
Editor : M. Ramli Arisno