Tahulah Pian, Tugu Intan Trisakti yang berada di Desa Pumpung, Kecamatan Cempaka merupakan simbol mengenang ditemukannya intan berukuran besar dan sempat mengguncang dunia.
Kepala Disporabudpar Banjarbaru, Ahmad Yani Makkie mengatakan Tugu Intan Trisakti menjadi penanda bahwa di desa tersebut pada 26 Agustus 1965, kelompok pendulang intan menemukan intan seberat 166,75 atau seukuran telur burung merpati.
"Tugu Intan Trisakti diresmikan pada 11 November 1997 oleh Gubernur Kalimantan Selatan Gusti Hasan Aman. Menjadi monumen mengingatkan bahwa Cempaka memiliki sejarah besar dalam penemuan intan dengan kualitas terbaik dan berukuran besar dibandingkan jenis intan lain di dunia,” ujarnya, Minggu (11/8)
Intan Trisakti, menurut cerita masyarakat sekitar, ditemukan warga setempat. Zaman dulu aktivitas pendulangan dikenal dengan sebutan “Ma’ayak”. Caranya tanah digali secara manual dimasukkan ke dalam perahu atau jukung (perahu kecil masyarakat setempat). Tanah tersebut diinjak menggunakan kedua kaki dengan posisi duduk, untuk memisahkan tanah dan batu-batu.
“Dahulu tidak ada mesin pendulangan seperti sekarang ini. Jadi tanah itu digali, kemudian dimuat di dalam jukung, lalu di-ayak (didulang) menggunakan kedua kaki,” ujar Muhammad Salim, masyarakat sekitar.
Saat ma’ayak tersebut, salah seorang pendulang menemukan batu berbentuk kacubung sebesar telor unggas. Batu tersebut dibacakan selawat oleh pendulang. Lalu muncul lah kemilau berwarna putih, merah, kuning, hijau dan biru dari berbagai sisi. “Jadi di sini itu kalau menemukan intan harus dibacakan selawat dulu agar cahaya kemilaunya keluar,” terangnya.
Setelah ditemukannya intan, para pendulang menawarkan intan tersebut untuk dijual. Namun tidak ada satupun orang yang mampu menaksir harganya kala itu.
Mendengar informasi tersebut, Pemerintah Republik Indonesia langsung mendatangi masyarakat. Lantas memberikan penawaran kepada mereka. Ada 24 orang yang menemukan intan tersebut dijanjikan diberangkatkan haji, dan diberikan santunan dari pemerintah hingga tujuh turunan.
Pada akhirnya para pendulang menyetujui tawaran tersebut. Mereka diberangkatkan haji. “Iya semuanya mereka sudah haji. Tapi, janji pemerintah untuk menjamin hidup para pendulang hingga tujuh turunan tidak ada hingga saat ini,” ungkap dengan nada kecewa.
Hingga kini anak cucu para pendulang yang menemukan Intan Trisakti, masih terus mempertanyakan janji pemerintah. Namun, ia kembali menyayangkan pemerintah sekarang tidak mampu memenuhi permintaan tersebut.
Salim menyadari latar belakang pendidikan masyarakat Cempaka pada waktu itu terbilang sangat rendah. Jadi, mudah dibodohi.
Saat diminta dokumen atau surat perjanjian sebagainya yang menyebutkan janji tersebut, pada akhirnya mereka tidak bisa membuktikan. Jadi, tidak ada dasar bagi pemerintah untuk memenuhi permintaan mereka.
Aktivitas pendulangan intan di Kecamatan Cempaka hingga kini masih menjadi bagian dari pekerjaan sehari-hari. Kini pendulangan sudah tidak lagi dilakukan dengan cara manual. Namun sudah menggunakan mesin penyedot dan penyemprot tanah.
Salim mengungkapkan, setelah pendulangan menggunakan mesin, tidak sedikit pekerja yang meninggal dunia. Seingatnya sudah ratusan orang lebih meninggal dunia akibat terkubur saat kecelakaan pendulangan menggunakan mesin.
“Kalau dulu tidak ada menggunakan mesin, bahkan hampir tidak ada korban. Sekarang saat menggunakan mesin, seingat saya sudah ratusan pendulang meninggal akibat tertimbun tanah,” kenangnya.
Bagaimana perkembangan pasar intan dulu dan sekarang? Ia mengatakan dari Kecamatan Cempaka sebagai penghasil intan kemudian dijual mentah ke pasar Martapura. Di sana diolah atau dimasak, sehingga berbentuk menjadi cincin, kalung, maupun gelang.
Ia menjelaskan bahwa intan yang banyak dikenal masyarakat dari Kota Martapura bukan berarti intan berasal dari Martapura. Tapi, intannya berasal dari tanah Cempaka Banjarbaru. Kemudian dijual ke Martapura untuk diolah oleh para perajin.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief