BANJARMASIN - Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) jenjang SMA/SMK tahun ajaran 2024 sudah selesai. Namun, dalam pelaksanaannya masih ditemukan berbagai keluhan dari orang tua siswa.
Seperti kawasan atau daerah yang susah dijangkau calon siswa di jalur zonasi. Tak sedikit keluhan itu, di Banjarmasin contohnya. Untuk siswa yang berasal dari Banjarmasin Tengah, banyak calon siswa yang tak lulus di jalur ini.
Maklum, untuk sekolah negeri di kawasan ini terbatas. Bahkan tertumpuk di satu kawasan Mulawarman. “Ini memang menjadi persoalan di PPDB,” ujar Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalsel, Muhammadun saat rapat bersama Komisi IV DPRD Kalsel, Rabu (7/8).
Seperti diketahui, dalam PPDB masih menerapkan jalur zonasi, jalur prestasi akademik, prestasi kejuaraan, afirmasi (siswa yang menerima program penanganan keluarga tidak mampu dari Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah), serta jalur perpindahan tugas orang tua atau wali.
Ketika calon siswa itu hanya bisa mendaftar melalui jalur zonasi, tapi rumahnya jauh dari sekolah tujuan, mereka pun akhirnya tak bisa berbuat banyak. Pilihannya masuk ke sekolah swasta.
“Memang ada kawasan zonk. Tak hanya di Banjarmasin Tengah, di kawasan Banjarmasin Timur pun demikian. Ini yang menjadi bahan evaluasi,” ujarnya.
Sistem PPDB dengan sejumlah jalur tersebut merupakan keputusan pemerintah pusat. Terkait calon siswa yang berada di wilayah zonk, Disdik Kalsel menjanjikan akan berusaha melakukan pemerataan fasilitas pendidikan.
Ketua Komisi IV DPRD Kalsel, M Lutfi Saifuddin meminta persoalan yang terjadi tiap penerimaan siswa baru ini harus menjadi perhatian serius. “Ini harus menjadi catatan perbaikan bagi Disdikbud Kalsel,” tekan politisi Gerindra itu.
Meski sistem PPDB ditetapkan oleh pemerintah pusat, untuk wilayah zonasi sedianya Disdikbud Kalsel yang mengatur. “Perlu ada penyesuaian aturan zonasi di PPDB nanti. Padahal kasus ini ditemukan di tengah kota,” cecar Lutfi.
Warga Jalan S Parman, Hikatul terpaksa harus memasukkan sang anak ke sekolah swasta. Hal ini lantaran tak masuk di jalur zonasi. “Mau masuk di jalur lain tak bisa. Mau masuk di jalur prestasi, anak saya biasa saja,” keluhnya.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief