BANJARMASIN - Rencana relokasi Kebun Binatang Mini (KBM) Jahri Saleh di Banjarmasin Utara dibatalkan.
Pemko Banjarmasin memutuskan untuk mengubahnya menjadi Taman Edukasi Satwa (TES).
Perubahan rencana itu lantaran relokasi membutuhkan lahan yang luas dan anggaran yang besar.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Banjarmasin, Yuliansyah mengatakan pihaknya minim anggaran akibat terdampak refocusing APBD 2024.
Sementara ada program lain yang lebih mendesak. Seperti operasional Rumah Potong Unggas (RPU) Modern di Basirih.
"Jadi yang realistis saja," katanya, Rabu (7/8).
Maka, rencana relokasi KBM pun dibatalkan. DKP3 lantas menawarkan perubahan menjadi TES kepada Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina. Ibnu pun memakluminya.
Lantas, bagaimana nasib satwa di KBM? Yuliansyah menjawab, mereka akan diserahkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan.
"Kami berharap BKSDA yang merawat, khususnya untuk satwa-satwa endemik," katanya.
Hari ini ada 30 satwa yang menghuni KBM. Termasuk satwa endemik seperti burung merak dan rusa sambar.
Yuliansyah mengaku khawatir dengan kondisi satwa-satwa itu. Kasihan jika tetap bertahan di KBM. "Sebab bangunan dan kandangnya mulai lapuk," bebernya.
Ketika menjadi TES, maka hanya akan diisi burung, ayam, kelinci, musang, dan kucing. "Paling tidak bisa memberikan hiburan kepada anak-anak," ujarnya.
Disinggung kapan rencana TES itu direalisasikan, Yuliansyah masih belum bisa memastikan.
"Masih berproses. Masih kami komunikasikan ke BKSDA," ujarnya.
Namun, ia menjamin, selama belum dipindahkan, satwa-satwa itu tetap dirawat pihaknya. "Untuk pakan kami menghabiskan sekitar Rp150 juta per tahun," sebutnya.
Pada hari yang sama Radar Banjarmasin kembali mengunjungi KBM Jahri Saleh.
Kondisinya sudah "mendingan". Rumput liar sudah dipangkas. Sebagian kandang juga dicat.
Namun, kerusakan itu masih terlihat. Contoh zona unggas dan kandang rusa sambar yang memerlukan banyak perbaikan.
"Lihat itu, kawat-kawat besinya saja bolong. Makanya kalkun ini bisa bergabung dengan ayam lainnya," kata salah seorang petugas KBM Jahri Saleh, Amin.
Beralih ke kandang rusa sambar, bekas pakan dan kotoran tampak berserakan. Seperti tidak terurus. "Setiap hari kami bersihkan, tapi beginilah kondisinya," tambah Amin.
Disinggung soal kunjungan, Amin mengatakan KBM ini hanya ramai pada akhir pekan atau pada tanggal merah.
"Kalau hari-hari biasa ya seperti ini, sepi," ujarnya.
Lebih jauh, Amin sudah mengetahui rencana perubahan KBM menjadi TES. "Mau bagaimana lagi. Kondisinya begini. Mau dipertahankan sebagai KBM kan tidak layak," keluhnya.
"Kami berharap BKSDA bersedia memelihara satwa KBM," pungkasnya.
Mengingatkan pembaca, rencana relokasi KBM itu mencuat setelah evaluasi BKSDA. KBM yang berada di tengah permukiman itu dinilai tidak representatif.
Secara teknis, luasannya juga tidak mencukupi untuk kebutuhan konservasi. Idealnya, KBM memiliki luas minimal 2,1 hektare. Sementara sekarang hanya seluas 1,6 ha.
Wali kota kemudian mengungkap rencana relokasi KBM. Hingga muncul ide memindahkannya ke kawasan Sungai Biuku di Sungai Andai, Banjarmasin Utara.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief