Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Siswa Kelas 4 Belum Bisa Membaca Di Kabupaten Banjar, Betulkah Karena Ini?

M Fadlan Zakiri • Kamis, 8 Agustus 2024 | 09:06 WIB
MENULIS: Aktivitas belajar di salah satu SD di Kalsel. Anak SD dituntut untuk bisa membaca, menulis, dan berhitung.
MENULIS: Aktivitas belajar di salah satu SD di Kalsel. Anak SD dituntut untuk bisa membaca, menulis, dan berhitung.

Fenomena siswa belum bisa membaca ternyata juga terjadi di Kabupaten Banjar. Kenapa bisa terjadi demikian?

          ******
MARTAPURA – Baru-baru ini sosial media sedang diramaikan dengan informasi yang memperlihatkan puluhan siswa SMP di suatu daerah yang masih belum bisa membaca. Kabar ini salah satunya diunggah oleh akun Instagram @curhatanmahasiswa.id.

Dalam postingannya, akun tersebut menyebutkan bahwa para guru di jenjang pendidikan SMP harus bekerja lebih ekstra dalam menjalankan tugasnya. Selain itu, informasi yang diunggah pada Minggu (4/8) lalu itu, juga menampilkan beberapa gambar tangkapan layar. Isinya curhatan para guru dan foto aktivitas pelajaran tambahan kepada siswa SMP yang belum bisa membaca.

Hal serupa ternyata juga terjadi di dunia pendidikan Kabupaten Banjar. Bedanya di Kabupaten Banjar terjadi pada siswa kelas IV SD.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Banjar, Liana Penny tak menampik bahwa memang masih ada siswa SD yang belum memiliki keterampilan membaca. "Ada beberapa laporan anak kelas 4 SD masih belum bisa membaca. Jumlahnya tidak banyak muridnya, kurang dari 1 persen dari seluruh pelajar SD di Kabupaten Banjar," ungkap Liana.

Hal ini, kata Liana, merupakan dampak dari penerapan pembelajaran daring atau online yang dilaksanakan saat pandemi Covid-19 lalu.

Pola belajar-mengajar daring membuat guru tidak bisa leluasa dalam proses pembelajaran siswa.
Alhasil, pengawasan terhadap perkembangan anak didik pun menjadi kurang. "Saat pembelajaran dari rumah, intensitas komunikasi murid dan guru kurang terjalin,” ungkapnya.

Menurutnya, peran orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anaknya juga jadi penyebab mengapa masih ada anak kelas IV SD belum bisa membaca. “Orang tua murid juga sebagian ada yang sibuk dengan hal lain, sehingga tidak bisa mendampingi anaknya dalam proses belajar,” katanya. Kedua faktor itulah, menurut Liana, yang jadi penyebab beberapa pelajar masih terbata-bata dalam membaca tulisan.

Liana meminta kepada wali kelas dan orang tua agar bisa lebih mengawasi anaknya dalam pembelajaran. Mengingat pendidikan merupakan tanggung jawab bersama. "Kami sudah minta kepala wali kelas agar bisa terus memberikan pembelajaran tambahan kepada muridnya. Bisa untuk les di rumah, atau dimasukkan pada bimbingan belajar lainnya," ucapnya.

Guru SD di Kecamatan Aluh-Aluh, Bagus Julianto menyebut sebagian besar biang dari kurang berkembangnya kemampuan anak didik untuk membaca ini karena minimnya perhatian orang tua. Kondisi ini diakuinya sempat terjadi di sekolahnya, yakni SD Negeri Simpang Warga 1.

Namun, para guru di sana sepakat untuk mengutamakan perkembangan proses membaca sebagai salah syarat untuk naik kelas.

“Kalaupun ada, siswa yang bersangkutan pasti kami beri pelajaran tambahan. Karena kami sudah menyepakati agar bisa naik ke kelas III, siswa harus sudah bisa calistung (membaca, menulis dan menghitung,” pungkasnya.

Fenomena Anak SD Belum Bisa Membaca

- Kadisdik Banjar Liana Penny membenarkan ada beberapa laporan anak kelas 4 SD masih belum bisa membaca.
- Jumlahnya kurang dari 1 persen dari seluruh pelajar SD di Kabupaten Banjar.
- Pelajaran daring selama pandemi Covid-19 menjadi penyebab utama.
- Orang tua yang tidak mendampingi anaknya belajar juga menambah factor penyebabnya.
- Guru harus memberi pelajaran tambahan calistung.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#Sekolah #Banjar #siswa #Pendidikan