Nurtanio Pringgoadisuryo hadir di Banua terlampau sebentar. Hanya “menumpang lahir”. Namun demikian, jasa dan karyanya bagi negara sungguh besar. Hingga kini namanya masih harum.
Lahir pada 3 Desember 1923 di Kandangan, Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan, Nurtanio adalah perintis industri pesawat terbang Indonesia.
Pada Selasa 9 April 2019, ia dinobatkan sebagai Bapak Dirgantara Indonesia. Anugerah tersebut diberikan Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto kepada keluarga Nurtanio.
Pembaca, dalam edisi ini, Radar Banjarmasin menurunkan dua wartawan M. Fadlan Zakiri dan Salahuddin.
Sedikit berbeda dari ulasan seri Tokoh Banua sebelumnya, kami merangkum berbagai tulisan dan hasil wawancara dengan sejarawan di Kalsel menjadi sebuah infografis.
Kami terbitkan berbarengan dengan Hari Bhakti TNI AU yang diperingati setiap 29 Juli.
Besar harapan, edisi 29 Juli 2024 ini tak hanya menjadi pengingat, tapi juga menginspirasi. Agar di Kalsel kelak lahir Nurtanio lainnya.
Nurtanio Perintis Industri Pesawat Terbang di Indonesia: Api Revolusi Tak Padam
1. Kelahiran
Nurtanio Pringgoadisuryo lahir pada tanggal 3 Desember 1923 di Kandangan, Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalsel. Ia putra dari pasangan Luwijah dan Noegroho Pringgoadisurjo.
2. Pendidikan dan Awal Karir
Pendidikan formalnya dimulai di European Lagere School (ELS) di Semarang. Kemudian berlanjut ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). Sesudah itu, Nurtanio belajar teknik di Algemene Middelbare School (AMS). Minatnya pada teknik penerbangan kian tumbuh ketika ia mulai belajar di AMS.
3. Periode Pendudukan Jepang
Nurtanio bergabung dengan sekolah penerbangan yang didirikan oleh Jepang di Surabaya. Namun meninggalkannya, karena tidak sesuai harapan. Di sekolah itu, ia merasa tertipu karena dalam waktu beberapa bulan hanya diminta mendorong dan membersihkan pesawat terbang.
4. Seusai Proklamasi Kemerdekaan
Nurtanio bergabung dengan Bagian Rencana dan Konstruksi Kementerian Pertahanan. Menjadi bagian dari Tentara Keamanan Rakyat (TKR) bagian penerbangan yang kini dikenal sebagai TNI AU. Di sinilah Nurtanio mulai mencurahkan seluruh gagasannya tentang pesawat, dan merintis pembuatan pesawat di Indonesia. Salah satunya adalah pesawat layang yang diberi nama NWG-1 akronim dari Nurtanio-Wiweko-Glider.
6. Pesawat Si Kumbang
Tahun 1950, Nurtanio berkesempatan menempuh pendidikan di Far Eastern Air Transport Incorporated (FEATI) di Filipina. Salah satu universitas aeronautika pertama di Asia. Ketika lulus, ia mendapatkan gelar Bachelor in Aerotechnical Science. Bersama rekan-rekannya, Nurtanio kemudian melakukan percobaan pembuatan pesawat. Hasilnya berupa Si Kumbang.
Pesawat berbahan full metal dan pesawat tempur pertama buatan Indonesia. Pesawat tersebut berhasil mengudara pada 1 Agustus 1954. Belakangan, Si Kumbang termasuk dalam jenis prototipe pesawat yang digunakan untuk menghadapi pasukan gerilya. Nurtanio kemudian juga diketahui mengembangkan pesawat lainnya.
7. Pioner LAPIP
Berdirinya Lembaga Persiapan Industri Penerbangan (LAPIP) pada tahun 1961, juga tidak terlepas dari kiprah Nurtanio. Di sini, kerja sama dengan Polandia untuk membangun pabrik pesawat terbang di Indonesia pun terjalin. LAPIP kemudian berganti nama menjadi Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio (LIPNUR).
8. Wafat
Nurtanio Pringgoadisuryo meninggal dunia pada 21 Maret 1966, ketika melakukan uji coba kesekian kalinya terhadap pesawat hasil pengembangannya di Bandung. Pesawat itu diberi nama Arev 45 (Api Revolusi), yang dicita-citakan bisa membawanya keliling dunia.
Pesawat tersebut jatuh akibat kerusakan mesin, kemudian terbakar. Nurtanio yang saat itu menjadi pilot penguji, tewas dalam kecelakaan tersebut pada usia 42 tahun.
Editor: Wahyu Ramadhan
Editor : Arief