Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Sahabat Guru Sekumpul Berpulang, Guru Masdar Puluhan Kali Bergantian Disalatkan Ribuan Jemaah

M Fadlan Zakiri • Rabu, 24 Juli 2024 | 09:47 WIB
MEMBELUDAK : Ribuan warga bergantian mengikuti salat fardu kifayah di depan rumah almarhum KH Masdar Umar bin H Umar di Desa Sungai Tuan, Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar pada Selasa (23/7/2024)
MEMBELUDAK : Ribuan warga bergantian mengikuti salat fardu kifayah di depan rumah almarhum KH Masdar Umar bin H Umar di Desa Sungai Tuan, Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar pada Selasa (23/7/2024)

MARTAPURA – Satu lagi ulama besar di Kalsel berpulang. Ribuan pelayat dengan khusyuk mengikuti jalannya prosesi pemakaman ulama Martapura, KH Masdar bin H Umar, di Desa Sungai Tuan Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar, Selasa (23/7) sore.

Acara diawali dengan pembacaan Surah Yasin dipimpin Imam Musala Ar Raudhah Sekumpul Tuan Guru Sa’duddin. Sebelum dimakamkan, ribuan warga yang datang ikut menyalatkan jasad almarhum. Prosesi salat fardu kifayah dilakukan secara bergantian oleh para jemaah yang hadir.

Diketahui sebelumnya, Tuan Guru Masdar menghembuskan napas terakhirnya di RSI Sultan Agung Banjarbaru. Kabar duka tersebut disiarkan langsung lewat saluran WhatsApp Pondok Pesantren Darussalam Martapura. “Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un.. telah berpulang ke Rahmatullah Guru Masdar di RS Sultan Agung,” tulis admin di saluran tersebut, Selasa (23/7) pada pukul 01.01 dini hari.

Salah satu pelayat, Rizky (15) mengaku sengaja datang dari Kampung Melayu, Martapura bersama temannya ke Sungai Tuan untuk ikut salat fardu kifayah.

Santri kelas III Wustho di Pondok Pesantren Darussalam itu ikut berduka. Setiap Selasa malam, ia sering ikut majelis ilmu yang dibuka almarhum. “Tahu kabar beliau wafat ketika membuka media sosial sekitar pukul 6 pagi,” ungkap Rizky.

Namun, ia yakin ilmu yang disampaikan almarhum semasa hidupnya akan jadi pelita di alam kubur. “Semoga Allah merahmati beliau, dan membalas jasa-jasa beliau dengan magfirah husnul khatimah,” doa Rizky.

KH Masdar adalah seorang ulama sepuh zuriat Datuk Kalampayan yang tinggal di Desa Sungai Tuan, Kecamatan Astambul. Ia adalah teman sebangku sekolah dengan Abah Guru Sekumpul (KH Zaini bin Abdul Ghani), selagi jadi santri di Pondok Pesantren Darussalam Martapura. Kendati berteman, Guru Masdar mengakui Abah Guru Sekumpul sebagai guru beliau.

KH Masdar lahir di Sungai Tuan, Martapura pada 1940. Ayahnya seorang ulama bernama H Umar. Sedangkan ibunya bernama Hj Galuh juga putri seorang yang terpandang di Sungai Tuan bernama H Makmun.

KH Masdar adalah anak tunggal, tidak mempunyai saudara. Latar belakang pendidikannya waktu kecil sekitar tahun 1950 bersekolah di Sulamul Ulum, salah satu pesantren yang ada di Desa Dalam Pagar. Di sana mendiang mengenyam pendidikan selama 3 tahun. Kemudian melanjutkan di Pesantren Darussalam Martapura.

Guru Masdar termasuk orang yang cerdas dan memiliki otak yang tajam. Bukti ketajaman otaknya ditunjukkan oleh kemampuannya menghafal Al-Qur’an dan beberapa kitab sejak masih berusia 15 tahun.

Duka mendalam juga sangat dirasakan warga Sungai Tuan. KH Masdar sudah dianggap seperti ayah oleh masyarakat sekitar. “Setiap hari, ada majelis ilmu di rumah beliau,” ungkap salah satu warga Sungai Tuan, Muhammad.

Dengan mata yang berkaca-kaca, pria 48 tahun itu menceritakan sosok almarhum yang menurutnya sudah menjadi payung, bahkan pasak di bumi. “Kami sangat takzim dengan beliau, dan tentunya sangat berduka. Kita sudah ditinggalkan banyak ulama besar sepert Abah Guru Sekumpul, dan sekarang kembali ditinggalkan Tuan Guru Masdar,” ujar Muhammad.

Besarnya pengaruh Guru Masdar, kata Muhammad, bisa dilihat langsung menjelang pemakaman dilakukan. Sejak dikabarkan meninggal dunia pada dini hari, rumah almarhum di Sungai Tuan langsung penuh dengan para santri dan masyarakat sekitar.

Pelayat terus datang silih berganti untuk menyalatkan jenazah almarhum KH Masdar. “Kalau dihitung-hitung salat fardu kifayah ini sudah lebih dari 50 kali,” tuturnya.

Prosesi pemakaman KH Masdar dilakukan seperti pemakaman Abah Guru Sekumpul setelah azan Asar selesai dikumandangkan. “Selesai azan Ashar, langsung dimasukkan ke liang lahat. Persis dengan sahabat beliau, Abah Guru Sekumpul,” tuturnya.

Bupati Banjar Saidi Mansyur beserta Wakil Bupati Habib Idrus Al Habsyi, dan beberapa pejabat lingkup Pemkab Banjar juga hadir di tengah-tengah pelayat. Saidi Mansyur menuturkan kenangan bersama almarhum selama tiga tahun terakhir. Bersama dengan Wakil Bupati juga selalu meminta doa dengan beliau terkait perencanaan pembangunan.

Menurutnya, sosok almarhum merupakan seorang ulama yang sangat terbuka. “Semoga amal ibadah beliau diterima di sisi Allah SWT. Keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran, ketabahan,” ujar Saidi mendoakan.

Bupati mengagumi antusias pelayat yang hadir di pemakaman sangat luar biasa. Ini membuktikan bahwa KH Masdar merupakan salah satu ulama yang istimewa, dan dicintai masyarakat di Kabupaten Banjar. “Pastinya sangat kehilangan sosok Guru yang kami teladani. Kami memohon doa dari warga semua untuk almarhum, semoga beliau mendapat surganya Allah, amin,” ucapnya.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#Tokoh #Religi #Banjar #Ulama #meningggal #islam