BATULICIN - Dinas Kesehatan Tanah Bumbu meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD) pascabanjir yang melanda beberapa wilayah pada Juni lalu.
Berdasarkan data Dinkes Tanbu dari Puskesmas dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), tercatat 18 kasus DBD pada Juni tadi.
Genangan air akibat banjir dikhawatirkan menjadi tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti, pembawa virus DBD. "Efeknya mungkin baru terlihat bulan Juli atau bulan depan. Usia hidup nyamuk DBD juga cukup tinggi," jelas Sekretaris Dinkes Tanbu, dr Arman Jaya Rikki, Rabu (3/7).
Ia mengatakan fogging tidak selalu efektif memberantas nyamuk DBD, karena hanya membunuh nyamuk dewasa. Bukan membunuh larva atau telur. Fogging hanya dilakukan berdasarkan rekomendasi tim survei lapangan setelah ada laporan dari puskesmas.
“Tim dinkes akan melakukan survei untuk mencari penyebab penularan, baik dari kondisi lingkungan maupun riwayat perjalanan pasien. Fogging juga dilakukan dengan persetujuan masyarakat," jelasnya.
Ia mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan langkah 3M Plus seperti menguras tempat penampungan air, menutup tempat-tempat penampungan air, dan mendaur ulang barang yang dapat menjadi tempat berkembang biak nyamuk.
Langkah tambahan termasuk menanam tanaman penangkal nyamuk, memeriksa tempat penampungan air, memelihara ikan pemakan jentik nyamuk, menggunakan obat anti nyamuk, dan memasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi.
Kemudian meletakkan pakaian bekas dalam wadah tertutup, memberikan larvasida pada penampungan air yang sulit dikuras, serta memperbaiki saluran dan talang air bila tidak lancar.
"Paling efektif adalah PSN. Edukasi terus dilakukan, dan kami juga mendorong masyarakat untuk rajin membersihkan lingkungan," tekannya.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief